Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

Sabtu, 28 Agustus 2010

(fanfic) Promise Song

PROMISE SONG


Title: Promise Song
Disclaimer: If they are mine, I'll make Akanishi work hard with solo and KAT-TUN.....
Pair: Whatever happen AKAME is still love each other
Genre: Friendship?
Music: Tipsy Love, Precious One, NEIRO, FARAWAY, Promise Song, You one in the million, I Knew I love You

A/N: Listen Promise song, ne~



Chapter 6 Harukana Yakusoku

“Apa yang kamu pikirkan Akanishi?!” seru Koki berang

“Koki….”

“Dulu saat kamu bilang tidak tahu akan kembali atau tidak, aku berusaha mempercayaimu, aku yakin kamu akan kembali. Sekarang, saat kamu bilang akan kembali, aku tanpa ragu percaya sepenuhnya padamu, dan apa yang kamu lakukan? Kamu pergi Akanishi. PERGI!!!” teriak Koki

“Koki…aku…”

“Kami menangis Akanishi, menangis di Dome untuk yang kedua kalinya, dengan alasan yang berbeda. Dia menangis”

“Maaf” kata Akanishi pelan setelah terdiam beberapa saat. Berusaha mengatur suaranya sebelum kembali bersuara “Aku tidak akan merubah keputusanku”

“Aku tahu. Sejak dulu aku sudah tahu sifatmu yang ini. Aku juga sudah tahu, meski aku yang sering protes tidak suka dengan KAT-TUN, tapi hanya kamu-lah satu-satunya orang yang bisa pergi meninggalkan KAT-TUN”

“Koki. Maaf”

“Bakanishi! Jangan minta maaf. Bukannya kamu tidak menyesal dengan keputusanmu? Kalau kamu minta maaf kedengarannya kamu ingin berubah pikiran. Lagipula, seperti yang Kame katakan di berita, meski aku tahu dia sendiri tidak yakin dan aku tidak tahu apa kamu lihat atau tidak, tidak masalah, lubang yang kamu tinggalkan tidak berdampak besar, setidaknya tidak sebesar saat pertama kali dulu”

“…..” Akanishi memilih untuk mendengarkan Koki meluapkan emosi-nya tanpa menyahut karena tidak mempercayai suaranya akan keluar dengan normal.

“Tapi tetap saja bagiku masih sedikit aneh. Aku sudah terbiasa mendengarmu salah mengucapkan lyrik di konser, kerjasama denganmu meng-intimidasi Taguchi, meng-hina Nakamaru. Aku sudah terbiasa bertukar pandang dengan Ueda saat melihatmu memperhatikannya”

“Koki…..” kata Akanishi pelan dengan mata yang mulai basah.

Karena inilah sebisa mungkin Akanishi menutup diri dari segala hal tentang KAT-TUN. Tapi setelah melihat liputan dari Dome, Akanishi mengambil resiko dengan menerima telfon dari Koki. Meski tahu akan membuatnya sedih, tapi dia ingin memastikan keadaan Kame.

Nakamaru dan Taguchi merupakan orang yang paling jujur di antara mereka berenam, tidak heran jika mereka sulit menahan emosi mengenai hal-hal tertentu. Seperti saat konser pertama di Dome, mereka berdua-lah yang pertama kali menangis terharu. Koki, meski perasaannya halus, tapi dengan image-nya masih berusaha untuk mengendalikan diri. Begitu juga Ueda yang paling tegar di antara mereka.

Akanishi sendiri lebih mempertahankan harga diri-nya. Karena itu, apapun yang terjadi, dia tidak akan kalah dengan perasaannya. Memang banyak yang bilang Akanishi selalu terlihat apa adanya, saat senang dia akan tertawa, saat kesal dia tidak akan repot-repot tersenyum meski di depan kamera. Tapi itu hanya karena pengaruh mood dan sama sekali tidak berhubungan dengan harga diri-nya.

Sementara Kame. Kame merupakan orang yang selalu berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri. Dia bahkan bisa tertawa di saat sedih sekalipun. Dia juga sangat memperhatikan sekelilingnya, terutama teman-temannya tanpa peduli dengan dirinya sendiri. Karena itulah, jika semua temannya jatuh, maka meski dirinya sendiri bahkan terluka lebih parah, dia masih tetap akan tersenyum, berusaha tegar demi orang lain.

Bodoh. Akanishi selalu menganggap bodoh sifat Kame yang satu itu. Kenapa harus mengorbankan diri demi orang lain. Kame selalu berkorban tanpa memikirkan dirinya sendiri, karena itu Akanishi ingin berada di sampingnya berharap setidaknya dapat menggurangi luka Kame. Sejak dulu, sejak pertama kali bertemu, Akanishi berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi dan menjaga Kame.

Mendengar Koki, bahkan Ueda menangis membuat Akanishi ketakutan. Jika sampai mereka berdua menangis, maka Kame pasti akan berusaha mati-matian menahan diri untuk bersikap tegar. Akanishi tidak berani membayangkan seperti apa keadaan Kame saat ini.

“Koki… Koki… tolong aku, beradalah disampingnya. Tolong aku Koki” kata Akanishi

“Dulu kamu juga mengatakan hal yang sama”

“Dan kamu melakukannya, tolong koki, aku tidak pernah menunduk di hadapan orang lain, hanya padamu Koki, tolong aku, tetaplah berada di sampingnya. Gantikan tempat-ku. Hanya kamu yang bisa. Please….”

“Tidak ada yang bisa menggantikan tempat-mu Akanishi. Kamu sendiri pasti menyadarinya kan. Meski aku, Ueda atau yang lain mencoba men-support-nya dia hanya akan berkata terima kasih dan tersenyum, bukannya merasa ter-support tapi kurasa dia semakin menekan dirinya sendiri karena beranggapan menyusahkan yang lain” Koki melunakkan nada suaranya. Dia marah, ya. Sedih, tentu saja. Tapi Koki juga menyadari perasaan Akanishi sekarang lebih kompleks dari mereka.

“Kamu tahu. Kemarin ada yarakashi yang kembali menyerang Kame. Dan di saat itu entah kenapa aku merasa mendengar suaramu yang berteriak ke arah mereka, menyuruh mereka diam. Kami melindunginya, tentu saja. Tapi tidak ada diantara kami yang berani berbuat sejauh yang kamu lakukan dulu”

“Maaf. Maaf. Maaf” Akanishi berusaha menahan diri meski air sudah mengalir deras dari kedua matanya sejak tadi.

“Jangan minta maaf padaku Akanishi. Bicaralah langsung dengannya, kalau kamu merasa tidak akan sanggup menahan diri jika berhadapan langsung, setidaknya telfon atau kirim pesan padanya”

“Aku tidak bisa Koki. Aku tidak bisa” ulang Akanishi “Kamu tahu aku tidak akan bisa. Kumohon Koki, tolong aku. Please”

“Tidak. Kami juga terpukul Akanishi. Kami sendiri masih kesulitan untuk menolong diri sendiri. Maaf, kali ini aku tidak bisa menolong-mu. Tenang saja, kami tidak marah padamu, kami paham dan mendukungmu sepenuhnya. Sampai jumpa”

“Koki!! Koki!! Koki!!!!” Akanishi berteriak-teriak memanggil Koki, berusaha menahan Koki, tapi hanya nada dengung yang menyahut panggilannya.

Koki sudah memutuskan sambungan.

“Tidak. Tidak” guman Akanishi panik “Aku harus melakukan sesuatu. Tidak. Kazu, Kazu…..”

Akanishi menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Dia tahu kalau baru tadi dia menghubungi dan berteriak senang memberi kabar akan debut solo, dia juga tahu perbedaan waktu antara Jepang dan LA, dia juga tahu apa yang akan dilakukannya akan menyusahkan orang lain, tapi dia tidak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu.

Kame.

Dengan tangan bergetar hebat Akanishi menekankan telfon ke telinganya, berharap orang yang dihubunginya segera mengangkat telfon. Air mata masih terus mengalir, namun tidak lagi dia pedulikan.

“Yeah, hallo…” sahut sebuah suara dari seberang

“Pi! Aku ingin minta tolong…..” tangis Akanishi langsung pecah setelah mendengar suara sahabatnya.

***

“AkaKame” panggil Nakamaru kesal

“Apa?” sahut Akanishi merasa terganggu

“Apanya yang apa? Kalau kalian berdua tidak cepat kita bisa terlambat tahu”

“Hah, bukannya kamu sudah biasa telat. Mereka tidak akan heran” sahut Akansihi masih tidak peduli yang mendapat pandangan protes Nakamaru

“Justru itu aku tidak ingin telat sekarang”

“Uh-huh. Terserahlah”

“Sudah jangan bertengkar, nanti kita benar-benar bisa telat” Kame bersuara saat melihat Nakamaru hendak membuka mulutnya lagi. “Ayo cepat, Jin. Aku kan tidak pernah telat, nanti rekor-ku bisa tercemar kalau sampai telat”

“Baiklah kalau kamu yang minta. Ayo” Akanishi menarik lengan Kame dan mulai berlari “Woi! Nakamura, ayo cepat! Katanya tidak mau telat?!” teriaknya pada Nakamaru

“Namaku Nakamaru!” seru Nakamaru sebal “Hah, kenapa juga aku kebagian jatah pergi bersama mereka berdua sih” keluhnya sembari berlari menyusul kedua temannya.

‘Jika kamu ingin mencari Kamenashi, carilah Akanishi’

Kalimat itu sangat terkenal di kalangan junior, bahkan mungkin senior juga, di JE. Sejak masuk JE mereka berdua tidak pernah bisa dipisahkan. Awalnya mereka tidak bisa mengerti kenapa Akanishi mau berteman dengan Kamenashi yang notabene banyak dijauhi dan tidak punya teman karena dianggap ‘buruk rupa’ padahal Akanishi sudah memiliki banyak teman yang jauh lebih baik dari Kamenashi.

Namun melihat perkembangan dan perubahan yang terjadi pada Kamenashi, akhirnya pertanyaan itu terjawab. Akanishi sudah bisa melihat bahwa Kamenashi mempunyai banyak hal yang menarik jauh sebelum semua orang yang berada di JE menyadarinya. Ramah, ceria, pekerja keras, baik hati, setia kawan, dan masih banyak sifat-sifat baik lainnya yang selama ini tidak nampak.

Meski akhirnya Kamenashi perlahan-lahan mulai memiliki teman, tapi tetap saja dia selalu terlihat tak jauh dari Akanishi berada. Teman-teman Akanishi yang lain, seperti Yamapi, Ryo, atau Toma juga sudah terbiasa melihat Kamenashi yang selalu mengikuti Akanishi. Karena itu, saat Takki memberi pet name untuk mereka, dengan gembira seluruh JE menggunakannya sebagai nama resmi.

AkaKame.

Lebih cepat mengucapkan kata AkaKame dari pada Akanishi, Kamenashi ketika hendak menyapa mereka berdua. Dan entah sejak kapan, nama itu menjadi lebih pendek lagi. Mereka sendiri tidak tahu jika nama itu perlahan berubah jika Yokoyama tidak mengucapkannya.

“Akame!” Yokoyama menghampiri mereka berdua “Kucari-cari ternyata kalian di sini. Kamu lihat Ryo tidak? Aku ada perlu dengannya. Uchi menitipkan ini padaku, kalian berdua ini benar-benar baseball freak ya”

Kamenashi tersenyum menerima majalah baseball dari Yokoyama yang memang miliknya. Uchi meminjamnya beberapa hari yang lalu.

“Heh, tahu Ryo di mana tidak?” ulang Yokoyama memukul kepala Akanishi yang cuma diam melihat

“Oh, kamu bicara padaku juga?”

“Kan tadi aku bilang, aku mencari kalian berdua. Lagian tadi aku memanggil kalian berdua kan?”

“Aku tidak dengar”

“Akame!”

“Huh?” sahut Akanishi binggung

“Akame. Aku lihat nama AkaKame jadi singkat di kalangan fans luar negeri”

“Oh, kukira tadi kamu bilang ‘aa, Kame’ jadi kukira kamu cuma ada perlu dengan Kazu”

“Buat apa aku tanya Ryo ke Kame? Bakanishi!”

“Oi! Terserah dengan Akame, tapi jangan gunakan Bakanishi. Aku tidak bodoh. Argh, aku ingin menghajar Pi karena membuat nama itu”

“Ya, ya, terserah kamu saja, lalu?”

“Apanya?”

“Ryo! Tahu di mana Ryo tidak? Berapa kali aku harus tanya sih?!”

“Oh. Dia ada di kantin dengan Pi” jawab Akanishi akhirnya

“Bilang dari tadi. Bakanishi!”

“OI!!” seru Akanishi berteriak ke arah Yokoyama yang sudah meninggalkan mereka dengan kesal sebelum berpaling pada Kame yang tertawa keras “Mou, Kazu. Sama sekali tidak lucu”

“Maaf. Maaf” kata Kame masih tetap tertawa

“Ah, sudah. Kembali ke pembicaraan tadi. Pokoknya kalau aku menang di Junior Fight aku akan minta jalan-jalan ke Okinawa bersamamu, tapi kalau kamu yang menang kamu minta jalan-jalan ke Hokkaido denganku”

“Kenapa seperti itu?”

“Katanya kamu ingin ke Okinawa? Gimana sih”

“Iya, aku ingin ke Okinawa, tapi kenapa kalau menang aku malah harus minta hadiah buat jalan-jalan ke Hokkaido”

“Karena aku ingin ke Hokkaido”

“Ya makanya, kenapa tidak minta hadiah sesuai keinginan masing-masing saja?” ulang Kame sabar

“Kamu tidak suka pergi denganku?”

“Aku kan tanya tujuannya bukan masalah harus mengajak siapa?!”

“Yah… soalnya…”

“Apa?”

“Soalnya kan….”

“Jin!”

“Ku pikir yang namanya hadiah kan diberikan untuk membuat orang lain senang. Dan aku ingin memberi hadiah buat-mu. Kalau aku menang dan mengajakmu pergi ke Hokkaido, itu kan sama saja cuma mengajakmu ikut ke tempat yang kuinginkan, bukan membawamu ke tempat yang kamu inginkan, berarti itukan bukan hadiah” guman Akanishi suram

“Tapi itukan hadiah kemenanganmu sendiri, tidak salah kan kalau kamu minta untuk kesenanganmu?”

“Kan perginya berdua, tidak asyik kalau pergi sendirian. Kamu ingin ke Okinawa, bukan Hokkaido. Aku tahu itu hadiah-ku, tapi aku ingin memberimu hadiah. Lagipula selain kamu aku tidak bisa memikirkan orang lain yang ingin kuajak. Kamu kan tahu aku selalu canggung kalau cuma berdua”

“Dengan Yamashita dan Nishikido tidak kan?”

“Tidak mau, Ryo menyebalkan, mana enak menghabiskan 2 hari liburan dengannya, sementara Pi, dia sudah sering pergi, dia kan tuan muda”

“Ya… Boleh saja” sahut Kame berusaha menerima alasan Akanishi yang menurutnya kurang logis sembari menahan tawa melihatnya merajuk dengan dua tangan terlipat di depan dada dan menatap Kame seperti anak kecil.

“Benar? Janji ya” sahut Akanishi tersenyum senang, lupa kalau sedang merajuk “Yiey!!” lanjutnya saat melihat Kame tersenyum menganggukkan kepala.


***___***

Sabtu, 21 Agustus 2010

(fanfic) Promise Song

PROMISE SONG


Title: Promise Song
Disclaimer: If they are mine, I'll make Akanishi work hard with solo and KAT-TUN.....
Pair: Whatever happen AKAME is still love each other
Music: Tipsy Love, Precious One, NEIRO, FARAWAY, Promise Song, You one in the million, I Knew I love You
Genre: Friendship?
A/N:
Again, listen promise song ne~



Chapter 5 Our Story

“Jin” Yamapi berhenti dan berpaling memandang Akanishi yang masih berdiri di sepan lokernya. Ryo berdiri diam di samping Yamapi “Kita harus mampir ke apartement-mu dulu sebelum ke bandara. Kalau tidak cepat kamu bisa ketinggalan pesawat”

Akanishi hanya mengangguk lemah sembari menutup pintu lockernya. Menghela nafas sebelum mengulurkan tangan, mengambil huruf ‘A’ berwarna merah yang menghiasi pintu locker dan meletakkannya di sebelah huruf ‘K’ yang menjadi hiasan pintu loker di sampingnya.

Inilah akhir dari semuanya. Akhir untuk sebuah awal yang baru.

Akanishi meletakkan buku yang sudah tak berbentuk di atas meja sebelum melangkah menghampiri Yamapi dan Ryo yang menunggunya di depan pintu. Berpikir untuk mengirim pesan kepada Ibunya agar jangan marah jika nanti Kame mengembalikan buku yang rusak, toh dia, anaknya sendiri, yang membuat buku itu hancur.

Untuk terakhir kalinya Akanishi menatap ruangan yang mendominasi sebagian kenangan yang dimilikinya. Hampir 11 tahun ruangan itu menampung 6 orang anak di bawah nama KAT-TUN sebagai base camp mereka. 6 orang anak yang pada awalnya saling tidak suka, 6 orang anak yang sulit diatur oleh senpai-senpai mereka, 6 orang anak yang memiliki impian yang sama. Pertengkaran, teriakan, tawa, tangis, semuanya pernah terdengar dari dalam ruangan itu.

Akanishi menutup pintu dan berdiri selama beberapa saat memandangnya, menundukkan badan, menggumamkan kata ‘terima kasih’ dan akhirnya menghela nafas sebelum berbalik melangkah pergi, menghampiri Yamapi dan Ryo.

“Ayo pergi”

***

“Aku tidak bisa menemukan Koki” kata Nakamaru

“Rasanya sudah lama ya kita tidak tinggal di kantor sampai selarut ini” sahut Taguchi memandang ke luar jendela

“Bukannya sering ya”

“Maksutku bukan karena alasan pekerjaan. Waktu masih junior dulu kita kan sering sengaja berlama-lama di base camp hanya untuk sekedar membicarakan entah apa. Lebih sering bertengkarnya sih tapi” Taguchi tersenyum

“Iya juga. Padahal dulu kita berisik sekali kalau sudah berkumpul” kenang Nakamaru “Selalu bertengkar hanya gara-gara masalah sepele, siapa memakai punya siapa, siapa menghabiskan makanan siapa”

“Tapi menyenangkan sekali rasanya. Aku masih ingat pertama kali kita disatukan. Meski sudah saling mengenal tapi saat dikatakan ini akan menjadi grup yang resmi, meski belum debut, rasanya senang sekali, aku sampai tidak bisa tidur malam harinya membayangkan seperti apa teman-teman satu grup-ku nanti”

“Aku juga. Awalnya aku tidak begitu yakin, dengan Ueda dan ‘peri’-nya, Koki yang selalu protes kenapa harus bersama kita sementara dia lebih senior, kupikir akan seperti apa nantinya grup kita ini. Semua anggotanya memiliki ego yang tinggi”

“Betul. Dulu aku pernah membentuk tim dengan Akanishi, meski cuma sebentar. Dia anak yang menyenangkan. Aku selalu berpikir, meski di tengah-tengah banyak orang dia selalu ramai dan usil sehingga menjadi pusat perhatian, tapi jika hanya berdua, dia berubah menjadi pendiam”

“Ya, aku juga heran dengan itu. Tapi teman-temannya sangat banyak. Entah kenapa anak itu seperti magnet yang dapat dengan mudah menarik perhatian orang. Saat baru akan audisi-pun dia sudah seperti itu, dikelilingi banyak orang”

“Tidak lulus kan? Sebenarnya. Padahal di antara kita Akanishi-lah yang mempunyai banyak potensi. Suara? Tinggi rendah dan nada-nada yang sulit bisa dilakukan, dia juga bisa menyanyikan segala macam aliran musik. Musik? Sebagian lagu KAT-TUN dia yang buat meski kadang hanya lyrik saja, bahkan lagu pertama kita Love or Like juga hasil karyanya”

“Aku juga terkejut. Dia bisa menguasai beatbox lebih baik kalau saja mau berlatih, sama dengan kemampuan dance-nya yang sebenarnya bisa lebih baik kalau dia sungguh-sungguh”

“Kenapa kita tiba-tiba membuat daftar kelebihannya ya?”

“Karena kalau kita buat daftar kekurangannya sampai berapa tahunpun tidak akan selesai” jawab Nakamaru

“Benar juga” sahut Taguchi tertawa

“Hampir 10 tahun” kata Nakamaru setelah tawa mereka reda “Padahal baru beberapa hari kemarin Akanishi diputuskan keluar, tapi kita membicarakannya seolah-olah sudah lama sekali”

“Kurasa karena kita juga sudah lama tahu suatu saat hal ini akan terjadi. Dan kita sudah cukup berduka selama beberapa hari ini. Mungkin sekarang saatnya kita melangkah maju”

“Kamu benar. Lagipula meski berpisah jalan, tapi tujuan kita tetap sama. Dia masih terus bernyanyi, kita juga. Suatu hari aku yakin kita akan bersisipan jalan lagi, sampai saat itu tiba, kita sudah berjanji kan?”

“Will be all right” sela Ueda tiba-tiba “Bukankah itu salah satu lagu yang dibuatnya? GOLD, Harukana Yakusoku, Precious One, Neiro, Going!, Smile, Faraway, Promise Song dan masih banyak lagi. Janji kita bertebaran dalam lagu-lagu itu kan? Janji untuk saling mendukung untuk meraih mimpi. Dan itu yang sedang kita lakukan sekarang”

Nakamaru dan Taguchi memperhatikan Ueda yang melangkah menghampiri mereka, tersenyum menyetujui kata-katanya.

“Mengekspresikan perasaan pada lagu, itukan cara kerja khas milik-nya” Ueda memandang ke bawah, memperhatikan 3 orang sosok yang dikenalnya sedang berjalan menuju salah satu mobil di tempat parkir.

Ano toki no ano basho kienai kono kizuna” kata Taguchi tiba-tiba membuat Nakamaru dan Ueda memandangnya dengan alis terangkat sebelum bertukar pandang.

“Taguchi tetaplah Taguchi” Nakamaru tertawa

“Lalu, bukankah kalian tadi ku suruh mencari Koki, kenapa malah ngobrol di sini?” tanya Ueda mengacuhkan ekspresi terluka Taguchi.

Kame mendengarkan pembicaraan ketiga temannya dalam diam. Memang KAT-TUN berubah, namun tujuan awal mereka masih tetap sama. Bukan hanya itu, mereka juga masih tetap sama, bertambah dewasa, tentu saja, tapi perasaan mereka tetap sama. Selamanya, meski berkurang satu namun itu tidak akan merubah apa yang telah mereka bentuk hingga saat ini. Jauh di luar sana, Akanishi tetap bernyanyi dengan suara yang mereka kenal, menyuarakan impiannya, menuju dunia. Meski terpisah, meski berselisih jalan, cerita di antara mereka tidak akan pernah hilang.

Selamanya.


***___***


A/N:
Another Short chapter?! gomen m(_ _)m

Sabtu, 14 Agustus 2010

(fanfic) Promise Song

PROMISE SONG


Title: Promise Song
Disclaimer: If they are mine, I'll make Akanishi work hard with solo and KAT-TUN.....
Pair: Whatever happen AKAME is still love each other
Music: Tipsy Love, Precious One, NEIRO, FARAWAY, Promise Song, You one in the million, I Knew I love You
Genre: Friendship?
A/N:
Listen Promise Song when you read.....



Chapter 4 Precious One

“Kali ini kenapa kamu pulang lagi?” kata Ryo kesal karena malam-malam terpaksa menemani Yamapi menjemput Akanishi di bandara.

“Cuma sehari, nanti malam juga aku sudah kembali ke LA, ada yang ketinggalan” jawab Akanishi tak peduli. Belum lama ini memang dia pulang selama beberapa hari setelah konsernya sukses untuk suatu keperluan.

“Serius Jin. Tadinya aku tidak ingin ikut campur masalahmu, tapi kemarin saat berita mengenaimu keluar di Tokyo Dome aku jadi ingin tahu, jangan-jangan kemarin kamu pulang karena hal ini?” tanya Yamapi

“Yah, kira-kira begitulah. Sebelumnya memang keputusannya kan baru akan di ambil setelah konser LA ini kelihatan hasilnya, jadi wajar kalau aku pulang untuk melihat keputusannya setelah konser selesai kan?”

“Lalu? Berarti sekarang kan sudah jelas” sela Ryo “Kenapa sekarang kamu pulang lagi?”

“Kenapa kamu yang ribut? Terserah aku mau ada di mana saja kan?!”

“Tentu saja aku ribut, aku baru pulang dari Osaka, kamu malah minta di jemput di bandara, padahal aku ingin tidur”

“Aku minta tolong di jemput Pi!”

“Aku sedang di rumah Pi!”

“Salah sendiri ikut?!”

“Mana mungkin aku tinggal?!”

“Sudah. Bukannya kamu pulang diam-diam biar tidak ada yang tahu, Jin. Kalau ribut nanti ada yang sadar” Yamapi menengahi “Ayo cepat, kamu masih punya kesempatan buat tidur sebelum kita ke kantor meski cuma sebentar Ryo”

Akanishi menjulurkan lidah ke arah Ryo penuh kemenangan. Meski tahu tindakannya akan merepotkan kedua temannya, apalagi Yamapi yang sedang sibuk mempersiapkan single terbarunya, Akanishi tidak peduli. Yah, tapi tetap tentu saja Akanishi benar-benar merasa minta maaf dan berterima kasih untuk hal ini.

Setelah melihat siaran berita -yang sebenarnya tanpa sengaja karena Akanishi sudah berniat menutup mata dan telinga terhadap KAT-TUN setidaknya untuk beberapa saat- mengenai pemberitaan keputusan yang diambilnya dan tanggapan teman satu bandnya, mau tidak mau Akanishi merasa ingin setidaknya melihat mereka secara langsung untuk yang terakhir kali.

“Mereka menangis, itu yang kudengar” suara Yamapi memecah keheningan mereka dalam perjalanan “Katanya, Koki tidak sanggup meneruskan menyanyi, bahkan Ueda juga menangis”

“Aku tahu” jawab Akanishi pelan

“Promise Song” guman Ryo “Di angkat dari kenyataan hah?”

“Aku tahu” ulang Akanishi

“Tokyo Dome. Kalian selalu membuat sejarah di tempat itu ya. Rasanya seperti baru kemarin aku mendengarmu berteriak senang akan debut” lanjut Yamapi

“Sebenarnya memang kemarin” sahut Ryo “Dia telfon dan bilang akan debut kan? Lupa kalau di sini masih subuh”

“Ah, benar juga” kata Yamapi tertawa

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

***

Kame masih ingat dengan jelas kata demi kata yang keluar dari mulutnya saat itu. Saat mengkonfirmasi kepergian Akanishi dari KAT-TUN. Kalimat yang dia sendiri tidak ingin mempercainya. Kame juga masih ingat dengan jelas saat mereka menyanyikan ‘Promise Song’ di Tokyo Dome kemarin. Koki yang tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun, Nakamaru, Taguchi bahkan Ueda berakhir menyerah terhadap perasaan dan menangis.

Sekalinya mereka menangis dalam konser adalah saat konser pertama mereka, Real Face konser, di saat mereka menyanyikan ‘Precious One’ sebagian dari mereka berakhir dalam tangis. Tangisan bahagia. Sama sekali bertolak belakang dengan sekarang.

Ironis.

‘Six of as KAT-TUN’, ‘K-A-T-T-U-N, we are KAT-TUN’

Selama ini, itu adalah kalimat yang menopang mereka, namun sekarang hanya dengan mengingat kalimat itu saja terasa sangat berat.

“Tidak akan terlalu menimbulkan masalah…. meski hanya berlima….. bodoh menyuruhnya kembali…. kedua kalinya……” Guman Kame pelan, membuat Nakamaru, Ueda dan Taguchi bertukar pandang dalam diam, teringat dengan ucapan Kame sebelumnya dalam menanggapi berita kepergian huruf A mereka.

“Aku sendiri tidak percaya dengan apa yang sudah kukatakan…” desah Kame

“Kame?!” Ueda menatap Kame cemas.

Air mata kembali mengalir di wajah Kame yang masih tanpa ekspresi.

“Bohong” sebuah senyuman terukir saat Kame mengucapkannya dengan nada datar, membuat Nakamaru dan Taguchi mulai ketakutan.

“Sungguh sebuah kebohongan yang besar”

Kame tertawa.

***

Akanishi menatap langit-langit kamarnya di LA. Akanishi masih ingat dengan jelas reaksi teman-temannya setiap dia mengambil keputusan untuk melangkah sendiri, berpisah jalan dengan mereka.

Dulu, pertama kali Akanishi membuat keputusan untuk study abroad, Ueda menatapnya siap membunuh, Koki berteriak marah, Nakamaru mencoba tenang tapi Akanishi mendengar jelas kesedihan dalam suaranya, Taguchi untuk pertama kalinya tidak tersenyum. Sesaat Akanishi merasa Taguchi sudah memperkirakan hal ini, tapi kemudian dengan cepat menghilangkan perasaan itu, bagaimanapun ini Taguchi.

Kame? Dia hanya diam.

Namun satu-satunya orang yang tidak membantah dan langsung mendukung keputusannya.

Kedua, saat Akanishi mengambil keputusan untuk meraih kesempatan konser di LA meski harus mengorbankan World Tour. Reaksi yang diterimanya lebih mudah dari saat pertama. Kecewa, jelas, tapi mereka semua sepakat mengatakan kalau ini kesampatan besar yang jarang ada, wajar kalau tidak melewatkannya. Mendukung sepenuhnya tanpa perbedaan pendapat terlalu lama, dan juga tanpa teriakan.

Kame? Dia tersenyum.

Tersenyum sangat senang seolah-olah dirinya yang mendapatkan kesempatan besar itu.

Dan sekarang untuk ketiga kalinya Akanishi mengambil keputusan.

Meninggalkan KAT-TUN untuk meraih impiannya melangkah sendiri.

Akanishi tidak menyesal dengan keputusan yang dipilihnya.

Sama sekali tidak.

Sudah jelas tidak.

Tidak akan pernah.

Selama ini Akanishi selalu merasakan sebuah kekosongan dalam dirinya. Sebuah tempat kecil yang tidak begitu dia perhatikan. Awalnya Akanishi merasa bahwa itu adalah tempat di mana dia bisa berdiri sendiri di atas panggung. Sendirian tanpa harus berbagi dengan 5 orang yang lain. Dan saat akhirnya hal itu terwujut dan harusnya tempat yang kosong itu menghilang, ternyata tempat itu masih tetap ada.

Masih tetap kosong dan tidak tersentuh.

Sama, hanya berganti dengan perasaan, bahwa itu adalah tempat di mana dia selalu berdiri bersama 5 orang dalam sebuah panggung yang besar. Akanishi menyadarinya saat dia harus menunggu di belakang panggung sendirian, duduk istirahat di ruang ganti yang terasa sepi dan luas, mendengar suaranya mengalun bersama musik tanpa ada suara lain.

Setiap kali berpaling dari lautan manusia, Akanishi selalu mendapatkan senyuman lebar Taguchi dan wajah Nakamaru yang aneh, mendengar teriakan Koki, merasakan tepukan pelan Ueda di bahunya, juga keberadaan Kame di sampingnya.

Apa sebenarnya tempat itu. Tempat yang selalu kosong jauh di dalam dirinya. Mungkinkah itu adalah sebuah tempat yang special, tempat khusus yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa terisi.

Tempat yang tidak terjangkau oleh apapun.

Tempat bagi suatu hal yang sangat berharga dalam hidupnya.

Tempat bagi sang Precious One.

“Kazu…” air perlahan mengalir turun dari mata Akanishi


***___***


A/N:
HAPPY SCOUNT DAY'S, minna \(^o^)/
Duh, rasanya jadi inget dulu tiap nih hari pasti pergi makam pahlawan setelah ngadain ulang janji di sekolah (^.^)
GA-CUT-JOSS!!! ciao~ *wink*

Sabtu, 07 Agustus 2010

(fanfic) Promise Song

PROMISE SONG


Title: Promise Song
Disclaimer: If they are mine, I'll make Akanishi work hard with solo and KAT-TUN.....
Pair: Whatever happen AKAME is still love each other
Genre: Friendship?
Music: Tipsy Love, Precious One, NEIRO, FARAWAY, Promise Song, You one in the million, I Knew I love You
A/N:
Please listen Promise Song when you read......



Chapter 3 Heartbreak Club

“KAT-TUN” guman Yamapi membuat Ryo menoleh menatapnya heran “Dari semua grup JE, kupikir hal seperti ini tidak akan pernah terjadi pada mereka. Maksutku, ayolah, kata KAT-TUN dan ‘member-ai’ tidak akan pernah muncul dalam satu kalimat. Mereka hanya akan menertawakannya”

“Lalu?”

“Tadinya ku pikir kepergian Jin dari KAT-TUN tidak akan jadi se-dramatis ini. Mereka individual, egois, keras kepala, tidak cocok satu sama lain” Yamapi terdiam

“Selama ini, aku hanya pernah berada di posisi yang ditinggalkan” guman Ryo teringat kejadian berkurangnya anggota Kanjani8 dan juga NewS.

“Aku juga” guman Yamapi tapi kemudian menambahkan “Ah, tidak juga sih, aku keluar dari 4STOP, kalau itu masuk hitungan”

“Kurasa, semua grup JE tidak ada yang tidak mengalami perubahan”

“Ya. Dibandingkan yang lain, mereka pantas berbangga diri. Dengan anggota yang seperti itu mereka bisa bertahan selama hampir 10 tahun”

“Ah, tapi Tokio dan SMAP tidak ada masalah kan?”

“Jangan lupa Arashi”

“Ya. Mereka juga” kata Ryo menyetujui

“Kenapa mereka bisa bertahan ya?” Yamapi memandang langit-langit kamarnya sembari menerawang, teringat telfon yang barusan diterimanya. Belum pernah Yamapi mendengar Akanishi menangis sampai seperti itu.

“Mungkin karena mereka professional?!” Ryo menyeringai saat Yamapi memandangnya tak paham “Mereka bekerja dengan ini” katanya menunjuk pelipis “Bukan dengan ini” lanjutnya sembari menurunkan telunjuknya ke dada.

“Kurasa mereka mengenal ‘member-ai’ juga” sahut Yamapi tertawa “Mungkin kita harus minta nasehat para senpai”

“Kalau begitu, antara ini, ini, ini dan ini sejalan” Ryo bergantian menunjuk dada, pelipis dan wajah kemudian menggerak-gerakkan tangannya.

Yamapi kembali tertawa.

Selama ini Akanishi selalu menceritakan semua masalahnya kepada mereka berdua. Terutama Yamapi. Ryo berusaha menjadi teman yang baik, tapi keadaan memaksanya untuk sering kali pulang-pergi Tokyo-Osaka, membuat–nya melewatkan beberapa hal yang terjadi pada Akanishi. Yamapi-lah satu-satunya orang yang mengetahui semua rahasia Akanishi yang tidak pernah dikatakannya pada orang lain.

Mendengar keluhan, luapan marah, cerita, tempat curhat atau menangani sifat merepotkan Akanishi yang kadang muncul jika terlalu banyak minum saat clubbing masih bukan apa-apa dibandingkan dengan mendengar Akanishi menangis putus asa dalam telfon. Jika Ryo tidak mengenggam tangannya dan menatapnya dalam diam, menyuruhnya untuk tegar, Yamapi sudah akan menangis bersama Akanishi.

‘Ryo’ hanya itu yang sempat diucapkannya setelah berusaha menenangkan Akanishi dan berjanji akan menjemput serta membantu sebelum akhirnya dia sendiri menangis keras dalam pelukan Ryo.

Ryo mengucap syukur dalam hati karena memutuskan untuk pulang ke Tokyo dan menginap di tempat Yamapi. Jika tidak, Ryo akan menyesal seumur hidup. Selama ini dia tidak bisa berbuat banyak untuk Akanishi, Yamapi-lah yang selalu berada di sampingnya. Hanya ini yang bisa Ryo lakukan sekarang, menopang Yamapi saat dia lelah agar tetap mampu menopang Akanishi. Perlu waktu satu jam bagi Ryo untuk meredakan tangis Yamapi.

“Adakah yang bisa kita lakukan?” Yamapi menghela nafas

Ryo hanya diam.

***

“Akanishi berangkat ke LA malam ini, jam 11” kata Ueda sembari menge-cek jam tangannya.

“Ayo ke sana” untuk pertama kalinya Taguchi membuka suara “Aku ingin mengantarnya. Setidaknya, aku ingin Akanishi tahu jika…jika kita…”

“Aku paham maksutmu” Nakamaru menepuk bahu Taguchi “Kurasa dia yang paling merasa sedih saat ini. Kita berlima, sedang dia….”

“Bertiga dengan Yamashita dan Nishikido” Ueda menyelesaikan kalimat Nakamaru dan memberi tanda ke arah Kame yang sejak tadi hanya diam saja.

“Aku cari angin sebentar” guman Koki tak jelas segera beranjak keluar.

Selama ini selalu Ueda dan Koki yang berdiri membela Kame, sementara Nakamaru berusaha mencari solusi jalan tengah yang tidak merugikan siapapun. Akanishi selalu berusaha berdiri di luar garis dan tidak ingin ikut campur. Taguchi lebih memilih untuk diam dan memperhatikan.

Meski bersikap seolah tak peduli, Akanishi-lah yang paling peduli dengan Kame. Meski selalu berusaha membuat jarak dan terlihat bosan saat bersama KAT-TUN, tapi sebenarnya Akanishi hanya merasa canggung dan tidak tahu harus bersikap seperti apa, terlebih lagi jika mereka di hadapkan pada kamera. Pada dasarnya Akanishi bukanlah anak yang mudah menyesuaikan diri, dia merasa aman di lingkungan yang dikenalnya seperti Yamapi atau Ryo, meski terlihat ramai, tak peduli dan sebagainya, namun sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang asing. Sebelumnya, KAT-TUN merupakan lingkungan yang familiar bagi Akanishi, tapi setelah masa hiatus-nya dari LA, mungkin Akanishi menyadari perbedaan gap yang timbul selama masa absent-nya. Banyak hal yang dilewatkan dan membuatnya merasa berada di lingkungan baru yang sama sekali asing.

Taguchi menyadari itu.

Taguchi juga menyadari bahwa Akanishi sudah mulai bersikap seolah KAT-TUN merupakan lingkungan asing selama beberapa hari sebelum keinginannya untuk hiatus. Lebih tepatnya, KAT-TUN berubah dari sesuatu yang ‘familiar’ menjadi sesuatu lain yang menyebabkan Akanishi menganggapnya sebagai ‘asing’.

Terutama terhadap Kamenashi.

Satu hal tentang Akanishi yang tidak di pahami oleh Taguchi.


***___***


A/N:
Short update! I know, I am sorry. Wait the next chapter ne~ *wing*
Harry Potter Magical Wand