Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

Minggu, 24 Juli 2016

(fanfic) 2882



Now You See Me 2


Inspirated from masa tweet, just random fic yang muncul karena saya stress mikir proposal tesis nggak nemu bahan juga, akhirnya malah jadi ini, ya sudahlah, mari berdoa saja, semoga saya dapat pencerahan dalam hidup (apa to??).

fandom: tenimyu
starring: Nakagauchi Masataka, Baba Toru, Kubota Hidetoshi, Mikata Ryosuke
warning: bahasa sehari-hari bukan bahasa resmi

 

“Bachooonnn ikouyo!!!!”
Baba meletakkan handphone yang dipegangnya ke meja dan melanjutkan makan siangnya dengan santai sembari membalik balik majalah, rugi kalau acara makan siangnya yang Cuma sebentar di sela sela latihan malah dihabiskan untuk mendengarkan suara Masa.
“BACHON!! WOI!! Pasti hp-nya Cuma digeletakkin pake loudspeaker. Angkat atau aku  cerita semua rahasiamu biar pada dengar ya!!”
Baba cepat cepat mematikan loudspeaker dan kembali menggunakan hp sesuai fungsinya, dalam hati nyumpahin Masa karena Baba tahu Masa beneran bakal nyebarin apa saja selama itu mendukung kepentingannya. Sifat temannya yang satu itu dia paham sekali karena tidak jauh beda dengan sifatnya sendiri, mungkin karena sama-sama egois seperti itulah mereka bias akrab.
“Bukannya kamu masih di LA ya?” jawab Baba akhirnya pasrah
“Sudah pulang woi!! Update donk, masak nggak tahu aku sudah pulang, temen macam apa kau?!” sembur Masa
“Bukan urusanku pulang atau nggak, lagian apa nggak sibuk butai, udah jarang telpon, nggak pernah ngabarin juga, ngapain tiba-tiba ngajak nonton, minta bayarin ya? Ogah!!”
“Sialan, nggak sudi, kalau Cuma buat nonton bias bayar sendiri, lagian kayaknya kaya –an aku deh”
“Berarti bayarin ya, jangan lupa habis nonton sekalian dinner juga, nggak ada alasan sibuk, pokoknya aturan lama masih berlaku tiap kita main, nggak ada acara kabur di tengah gara-gara kerjaan”
“Iya tahu, makanya ini kan mau nyamain jadwal, gimana sih” sahut Masa yang kemudian sadar “Loh. Bentar, cih sialan, sengaja ya minta bayarin, tadi katanya nggak mau, rugi udah siap-siap nyogok”
Baba ketawa ngakak, kalau soal ngakalin orang dia setingkat lebih tinggi dari Masa, percuma punya mulut tajem kalau nggak bias buat nyari keuntungan. Dari awal sejak Masa ngajak Baba memang udah mau bilang mau, lagian sudah lama juga dia nggak ketemu Masa, tapi saying kalau langsung main ‘iya’ begitu aja.
“Ya udah, ngikut jadwalmu aja yang lebih padet, belakangan aku banyak nyantai kok, ntar ku e-mail jadwal ku bulan ini, tentuin aja mau kapan yang longgar”
“Okay, berarti kapan aja nggak boleh protes ya” kata Masa
“Eh, bentar, jangan yang seharian, kebiasaan lama-mu kan kalau main selalu seharian penuh, ogah ah”
“Nggak bias, udah deal” tolak Masa “Pokoknya ngikut, nggak ada protes, yang bayar siapa?! Yok, Bye”
Masa langsung mematikan telpon sebelum Baba sempat membuka mulut untuk membalas sehingga dia hanya bias mendelik kea rah hp-nya, sibuk nyumpahin Masa dalam hati. Dari semua temennya Cuma Masa yang bias ‘seri’ ngadepin kelakuan Baba.

2882

“Hide-saaaaannn”
“Hmm?”
“Hide-san kan udah janji mau makan bareng kalau butai yakumo-nya udah selesai, ini kan udah selesai lama tapi Hide-san nggak bilang apa-apa” protes Mikata
“ah, iya, aku lupa, maaf” sahut Hidetoshi masih cuek
“HIDEEETOSHIIII!!!!”
“Iya iya, ini denger, nggak usah treak treak gitu” kata Hidetoshi sambil nabok kepala Mikata pelan “terus Ryosuke maunya kemana?”
“Eh, boleh milih?” Tanya Mikata langsung pasang senyum manis
“Ya udah nggak jadi, aku aja yang nentuin tempatnya, besok ku jemput ya, yuk dah”
“eehhhh??!!!” seru Mikata tapi Hidetoshi yang udah ngloyor pergi Cuma melambaikan tangan acuh nggak peduli sama protes Mikata yang langsung manyun.
Sifat Mikata yang kadang blur memang susah diikuti, karena itu banyak yang heran saat Hidetoshi yang entah bagaimana bias paham karakternya, tapi melihat sifat Hidetoshi sendiri yang cueknya minta ampun kalau pas ‘kumat’ akhirnya bayak yang menyimpulkan mungkin gara-gara dua-duanya punya sifat yang ambigu nggak jelas itulah mereka bias cocok.
Akhirnya pasrah dengan nasib, Mikata balik kanan untuk pulang, Sejak tenimyu selesai kadang Mikata memang sering iseng mengunjungi Hidetoshi ke tempat latihan butai-nya kalau dia sendiri sedang break latihan, daripada bosan nggak ada kesibukan. Lagian jarang-jarang Mikata bisa nonton Hidetoshi dari POV penonton. Harashima masih sering ngatain Mikata sebagai fansboy Hide, tapi dasarnya Mikata udah kebal sama omongan apapun kalau menyangkut Hidetoshi Kbota jadi dia Cuma cuek aja dan malah bikin yang ngatain sebel sendiri gara-gara dicuekin.
Ogaken yang dulu pernah kena semprot gara-gara dianggep memonopoli Hidetoshi dengan senang hati memberi nasehat kepada siapapun agar jangan sampai menyinggung ‘perhatian’ Mikata ke Hidetoshi yang didukung oleh Kamicchi yang pernah kena tabok Mikata juga.

2882

Hari – H
“LAMAAA!!!!! WOI!!! BACHOOONNN!!!!!!” teriak Masa sambil mengedor pintu kamar Baba
“bentar sisir ku hilang” teriak Baba dari dalam kamar “Lagi nyari nih! Sabar napa”
“Udah nggak usah sisiran segala, udah cakep!”
“Cerewet, masih pagi ini, baru jam 10, memang mau kemana sih, bioskop belom buka juga!” tukas Baba sambil membanting pintu depan “Mana baru bias tidur jam 5 pagi juga, sengaja ya, kan tahu jadwalku kemaren sampai pagi”
Masa Cuma ketawa sambil narik tangan Baba biar cepet dikit jalannya. Sebenernya Masa sengaja, baginya rugi kalau ada kesempatan buat ngusilin Baba dibiarkan berlalu begitu saja, kan udah jarang juga, lagian ekspresi Baba kalau marah nggak nyeremin malah nambah bikin Masa ngakak.
“jadwal kita padat, off ku Cuma hari ini yang sehari penuh, besok mulai sore ada kerjaan” kata Masa
“Sapa suruh main mau seharian, kan nggak ngefek juga kalau Cuma nonton, makan, terus pulang. Lebih efektif” sahut Baba
“Nggak seru dong, gimana sih, jarang jarang ketemu juga” protes Masa “nggak kangen denganku ya, padahal udah susah susah bikin jadwal main, hargain kek”
“Nggak tuh” jawab Baba sambil ngecek kantongnya, buat jaga jaga kalau dia nggak lupa bawa hp sama dompet. “btw, mau nonton apa sih, kok semangat amat?”
“Makanya kalau orang ngomong dengerin” Masa pasang senyum lebar sebelum menjawab “Now You see me”
“hah?”
“ck, itu judul film, hidup di gua mana sih? Filmnya tentang sulap”
“Oh, yang itu, iya tau kok, Cuma lupa judulnya aja. Terus apanya yang bikin semangat, Cuma sulap ini”
“Sulap Bachon!” teriak Masa nggak percaya
Baba Cuma balik liatin Masa dengan ekspresi datar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Masa akhirnya menghela nafas, nyerah sebelum berusaha mengaktifkan otak Baba agar mulai bekerja, ini anak satu memang nggak mau susah susah mikir kalau masih pagi, apalagi kalau kurang tidur.
“Sulap Bachon” ulang Masa “Sulap, magician, illusion, trick, PETENSHI!!!”
“kalau njelasin itu pake kalimat, jangan cuman keyword-nya, kayak searching di google aja”
“Petenshi bachon!!! Niou Masaharu” kata Masa sabar “ring anybell!! Yo mittemicchai, puri” lanjut Masa dengan suara yang dipakainya saat meranin Niou sambil pasang gaya seperti Niou.
“Nan nen buri no hanashi da” kata Baba akhirnya paham jalan pikiran temannya ini
“Loh, meski udah jaman kapanpun, niou selalu hidup di dalam sini” kata Masa sambil nunjuk dadanya “Jangan bilang yagyuu udah kamu buang”
“Nggak bakalan” sahut Baba cepat, nggak rela dituduh melupakan salah satu peran favoritnya sementara Masa tersenyum penuh kemenangan.

2882

“LAMA!!!!” seru Mikata sambil melompat berdiri saat melihat Hidetoshi dating “Katanya jam 3, ini udah jam berapa!!”
“oh, maaf, jam ku mati” kata Hidetoshi buru buru melepas jam dan memutarnya”
“HIDETOSHI!!”
“apa sih, cuman telat satu jam ini” jawab Hidetoshi ringan “udah jangan ngambek, nanti ku traktir deh”
“ganti jam kek, udah tau jam sering mati gitu masih di pake aja”
“hush, jam bertuah ini” Hidetoshi menarik tangan Mikata “ayo pergi, ntar telat”
“terus mau makan dimana?” Tanya Mikata
“hmm… udah laper ya? Sebenernya sih maunya makannya ntar aja pas dinner”
“eehh… aku kan belom makan dari siang” protes Mikata
“Loh, kenapa nggak makan siang” kata Hidetoshi tanpa dosa “ya udah, ntar beli camilan aja dulu”
“Mau kemana sih? Kalau Cuma dinner ngapain keluar sore-sore gini, nggak nanti aja sekalian kalau udah gelap”
“nonton dulu, katanya kamu pengen nonton now you see me. Belum nonton kan, kemarin atom nelpon katanya habis kena semprot gara-gara dia minta bantuanmu dan ngebatalin rencanamu buat nonton tuh film. Lagian memang udah nunggu nunggu dari sejak beritanya bakal ada sequel kan”
“he?”
“Apa, gini-gini aku dengerin kok kalau kamu ngomong, meski sambil lalu”
Mikata meresa agak bersalah karena selalu nyangka kalau Hidetoshi Cuma meng-iya-kan apapun yang dikatakannya tanpa mndengarkan, soalnya biasanya itu yang dilakukan orang-orang yang terpaksa harus menghadapi ocehannya tiap dia tertarik dengan sesuatu.
 “terus, kenapa atom nelponnya ke situ?” kata Mikata tiba tiba ingat dan nggak jadi merasa bersalah, jadi agak sebal karena atom nelpon hidtoshi nggak bilang bilang
“bukan atomnya sih, atom nelpon kamicchi, kamichi bilang ke ken, nah Ken-san yang …”
“Ken-san!!” seru Mikata sebelum Hidetoshi selesai ngomong “ngapain ken-san nelpon? Pasti mau janjian main ya. Kok gitu, kalau ku telpon bilangnya sibuk mulu, giliran ken-san aja bias luang gitu”
“dengerin dulu kalau orang lagi ngomong” Mikata meringis saat kena jitak Hidetoshi “Ken nelpon soalnya dia khawatir mood-mu jadi jelek dan bakalan ngaruh ke kerjaanmu, makanya dia nyempetin diri nelpon, tadinya aku mau nelpon habis latihan, tapi malah kamu-nya udah nongol duluan dan kayaknya mood-mu juga udah baik, jadi aku nggak bilang apa-apa”
“ooohh….”
“kenapa kalau sama masalah ken histeris gitu sih?”
“nggak juga, biasa kok …” sahut Mikata “ …. Kalau Cuma ken-san” lanjutnya pelan
“hmm? Apa?” Tanya Hidetoshi
“nggak, nggak apa apa” kata Mikata cepat sambil melenggos “ayo cepet ntar telat”
“hmmm ….” Guman Hidetoshi yang kalau saja Mikata mau menoleh ke arahnya maka dia bias melihat senyum miring Hidetoshi.

2882

“main udah, lunch udah, jalan-jalan juga udah, sekarang nonton dulu terus dinner” kata Masa riang
“ne, Masa” Baba menarik lengan Masa sambil nunjuk dua orang tak jauh dari mereka “itu bukannya Kubohide sama Mikata ya?”
“mana? Iya, kayaknya, samperin yuk”
Masa ganti menarik lengan Baba sambil sedikit berlari menuju kea rah dua orang junior mereka di tenimyu. Ketika sudah agak dekat, mereka bias mendengar obrolan kedua kohai itu dengan jelas …
“Ne, kalau hobi sama sulap, kenapa dulu nggak auisi jadi Niou” Tanya Hidetoshi “kenapa malah milih yagyuu?” Baik Baba dan Masa bias mendengar Mikata berguman menjawab yang kedengarannya separuh nggak iklas “Apa? Kalau ngomong itu mulutnya di buka”
“Nggak suka sulap sampai segitunya kok” kata Mikata akhirnya
“sampai nyemprot atom gitu?”
“Sebelumnya nggak gitu suka sama sulap, cumin ….. “
“ya?”
“jadi suka setelah liat niou” kata Mikata pelan
“Niou? Sejak kapan niou ahli sulap, dia kan trickster, beda loh …. ” seru Masa yang langsung di tabok Baba karena nimbrung gitu aja tanpa babibu
“Ah, Masa-san, Baba-san” kata Hidetoshi                    
“Yo” sahut Masa sembari mengangkat satu tangannya sebagai salam sementra tangan satunya sibuk mengelus-elus kepalanya yang kena tabok Baba. Mikata dan Baba hanya mengaggukkan kepala  sopan.
“kembal ke topic” kata Masa “why niou?” lanjutnya sambil nyengir usil sementara Baba hanya menghela nafas karena sudah bias menduga jawaban Mikata dan tahu kemana arah pikiran Masa.          
“itu …. ”
“nande nande?” desak Masa dengan cengiran bertambah lebar
“nandemo ii yo” potong Baba sambil menarik Masa pergi “sudah ayo, jangan ganggu acara orang, cepat beli tiket, nonton, makan terus pulang, aku mau tidur. Sampai nanti Mikata, Hide-san”
“tidur, bachon, kau ini sudah tua ya, cepet amat tidurnya” Baba Cuma tersenyum samar menyadari perhatian Masa teralihkan
 “kalau aku tua, kau lebih tua” sahut Baba “siapa yang pagi-pagi udah main gedor-gedor pintu, waktu tidur ku itu berharga tau, lagian seharian main tarik kesana sini, capek”
“segitu doing capek, list-ku masih banyak lo, pokoknya hari ini semalaman nggak boleh tidur” Baba Cuma mendelik sebal melihat Masa Cuma melambaikan tangan acuh “besok kan masih off juga, aku aja yang sorenya ada kerjaan biasa aja”
“jadwal istirahatmu kan dari dulu memang nggak jelas” kata Baba masih mendelik memperhatikan Masa yang sibuk menarik dompetnya keluar kantong untuk membeyar tiket “jangan disamain, jam kerjamu itu diluar jam kerja sehat manusia”
“enak aja, jam tidur mu itu yang terlalu panjang, ati ati jadi putrid tidur susah bangunnya loh”
“kan tinggal cari pengeran buat ngebangunin”
“itu yang susah, standarmu kan tinggi”
“ada satu kan” sahut Baba tersenyum licik saat Masa tanpa sengaja kesandung sebaga reaksi dari kalimatnya
“sialan, sengaja ya” umpat Masa “udah ayo cepet masuk, mau beli popcorn dulu nggak?”
“beli dong, rugi kalau dibayarin nggak beli”
“brengsek” sahut Masa yang meski misuh misuh tapi tetep pergi ke counter makanan sementara Baba hanya senyum senyum ngekor Masa sambil menaikkan kacamata yang dipakainya dengan gaya yagyuu sambari memperingatkan pemilihan kata yang digunakan Masa.

Sementara itu, ….
“huh” guman Hidetoshi lalu berbalik kea rah Mikata “terus mau bilang apa tadi?”
“Apanya?” sahut Mikata yang udah sempet lega karena nggak harus jawab
“yang tadi, tentang niou” Hidetoshi memperhatikan Mikata yang mendadak sibuk melihat kesibukan orang orang disekelilingnya “aku nggak bakal gerak sebelum dijawab”
Mikata misuh misuh dalam hati, tahu kalau Hidetoshi beneran nggak bakal bergeser se sentipun dan bias tahan diam selama berjam-jam. Dengan terpaksa akhirnya Mikata membuka mulut …
“aku suka sulap sejak lihat niou-mu yang bias sulap”
“hmm … “ sahut  Hidetoshi kemudian melangkah ke loket tiket sementara Mikata Cuma bias binggung melihat temannya berlalu dan cepat cepat mmbuntutinya
“udah Cuma gitu aja? Nggak ada reaksi lain? Nggak heran? Nanya kenapa kek?”
“memangnya kalau ku Tanya kenapa bias jawab?” balas Hidetoshi yang masih asyik menghitung uang sebelum dibayarkan
“ya, nggak sih. Tapi kan … ”
“nih, pegang” sela hidetoshi mengulurkan 2 tiket ke mikata “ayo beli popcorn, belum makan siang kan, nanti kalau semaput aku nggak mau di salahin lo”
Mikata Cuma bias ngikut ‘perintah’ Hidetoshi sembari mendelik ke arah senyum yang masih nangkring di wajah temannya itu dengan curiga. Dari awal ketemu Mikata selalu mikir kalau wajah Hidetioshi itu mirip rubah yang licik, terutama mata sama senyumnya yang miring itu. Tiap kali senyum itu muncul pasti ada apa-apanya. Hanya saja Mikata masih belum paham dengan maksut di balik senyuman Hidetoshi yang jarang muncul itu. Sepanjang yang dia tahu, ogaken selalu langsung kabur tiap Hidetoshi lihat seseorang sambil pasang senyum. Dan selama ini selalu Mikata-lah seseorang itu.
Berpikir buat ngancem ogaken supaya memberinya informasi, Mikata Cuma mengulurkan tangan menerima popcorn yang diangsurkan Hidetoshi, toh dia yakin suatu saat dia bakal tau apa arti senyuman Hidetoshi, kalau mengenai Hidotoshi nggak ada yang ngaak bias dipecahkan oleh Mikata. Cepat atau lambat.

2882 owari 2882

Senin, 11 Juli 2016

(Lyrik) ネジとドライバー [仁王雅治]



人間には二つある   ネジかドライバー
人間には二つある   それはネジかドライバー


人に使われて伸びる奴はネジ

人を使って伸びる奴はドライバー

ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ    役に立たない
ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ    役に立たない

コンビには二つある   ネジかドライバー
コンビには二つある   それはネジかドライバー

右に回して押して行くタイプ
左に回して引くタイプ   おまんはどっち?

ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ   うまく行かない
ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ       うまく行かない

当たり外れは…クジ      掃除洗濯は…家事
裕太の兄貴は…不二      ネジとドライバーと不二


21時は…9時                        模様がないのは…無地
痴漢を退治した…不二      ネジとドライバーと不二


犬と猿と…キジ            魚に参って…アジ
味覚が変な…不二        ネジとドライバーと不二


6時に起きるのは…不二             カウンターといえば…不二
手塚に見えてるか?…不二      樺地、蓮二、深司、修二

俺はネジになるべきか?
ライバーになるべきか?

なぁ答えろや 不二
ネジとドライバーと不二

ドンドンドドドン四天宝寺


PS:
this said to be Niou 3rd single, anyone can told me what the 2nd single called?

Minggu, 18 Januari 2015

(fanfic) Best Partner



Hola,
long time I don't write something, today I back with short story (drabble) after watching Rikkaimyu National Match. I can't help to write this, so I did. Starring with the one and only Platinum pair. The language is Indonesian though. So, enjoy.... (^_^)



Menghindari tamparan Sanada Niou duduk agak jauh dari anggota teamnya setelah kalah dari Fuji. Paham jika Sanada masih kesal karena kekalahannya dan berpikir karena pada awal permainan Niou terlalu lama bermain-main dan tidak serius, mengacuhkan kenyataan bahwa tidak aka nada yang bias mengembalikan ‘Hoshi Hanabi’ Fuji, tidak dengan jalur bola seperti itu. 

Niou bertanya dalam hati, kenapa dia setuju untuk turun sebagai pemain ketiga dan tunggal. Sejak dulu dia selalu berpendapat bahwa posisi sebagai pemain ketiga paling menyusahkan, terutama jika sudah memenangkan atau kalah 2 kali berturut-turut, beban yang di tanggung sangat besar. Apalagi jika kau anggota regular Rikkai, siap-sia saja menerima tepukan di bahu atau tamparan. Yukimura memang mengakui jika dia salah satu pemain yang ditakuti di jajaran pemain atas, tapi Niou menyadari jika dia lebih kuat saat bermain double, terutama jika bersama Yagyuu. Meskipun dia juga bermain baik dengan yang lain, tapi ada alasan kenapa Niou membuat Yagyuu berhenti dari club golf dan merekrutnya sebagai patner. 

Alasan kenapa pair mereka belum pernah kalah satukalipun dalam setia pertandingan.

Niou menghela nafas saat mendengar ‘tuduhan’ bahwa dia sengaja menjauh setelah kalah untuk menghindari tamparan Sanada. Benar sih, tapi Niou mempunyai alasan lain, sebutan petenshi, pierot dan sikap acuh yang melekat padanya bukan berarti dia tidak bias merasa kesal. Selain untuk menghindari tamaran, dia juga membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Tidak banyak yang mengerti jika Niou butuh ‘jarak’ untuk mengembalikan mood-nya.

“pyo”

Niou berguman pelan saat mendengar seseorang menghampirinya dan berdiri diam tak jauh di belakangnya. Tanpa menolehpun, Niou mengetahui identitas orang itu. Niou bersandar pada kursi, menengadah dengan mata terpejam dan menghembuskan nafas. Tiba-tiba saja semua ketegangan yang dirasakannya hilang, bahunya terasa ringan dan kabut di dalam kepalanya menghilang. Niou bias kembali memfokuskan diri dan memperhatikan pertandingan selanjutnya.

Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk seringai, membuka mata, Niou melihat Jackal dan Marui memasuki lapangan untuk bertanding. Mengkonfirmasi jika Yagyuu tidak ikut ‘meeting’ bersama yang lain sesaat sebelum kedua teman mereka akan bertanding dan sejak awal selalu berada di belakangnya. Niou berpikir ‘inilah partner-nya, seseorang yang memahaminya luar dalam tanpa keraguan sedikitpun’. 

Pemberitahuan bahwa pertandingan akan segera dimulai terdengar dari pengeras suara. Niou menyamankan dirinya, sedikit bersandar pada Yagyuu yang duduk tak jauh darinya, bersiap untuk memperhatikan pertandingan dan berguman ….

“puri”

*fin*

Senin, 30 Desember 2013

(fanfic) The Untold Story

The Mischief God - (Loki)


“No, Loki”

Menjadi anak kedua tidaklah mudah. Terlebih lagi jika sang kakak menyebalkan. Baiklah sebagian besar kakak memang menyebalkan. Sekali lagi, terlebih jika sang kakak mempunyai kepercayaan diri yang berlebihan dan semua orang menganggapnya hebat. Dan sang raja memilih sang kakak sebagai pengganti tanpa mempertimbangkan kemampuan dirinya dan sang kakak dengan adil, hanya karena dia anak pertama. Bukan, karena dia memang satu-satunya anak sang raja.

Menjadi trickster bukanlah tujuan awalnya. Dia hanya suka melakukannya karena dengan melakukannya dia akan mendapatkan perhatian orang-orang di sekelilingnya. Orang-orang yang selalu hanya memperhatikan kakaknya dan melupakan keberadaannya. Namun entah sejak kapan malah menjadi kebiasaanya. Dan dia cukup menyukainya, karena dia mendapatkannya dari sang Ibu, satu-satunya orang yang masih ingat bahwa dia ada.


Bukan berarti dia terlupakan begitu saja. Orang-orang tahu pasti dengan keberadaannya, mereka hanya tidak mau mendengarkan dan selalu mengacuhkannya. Teman-temannya tidak akan melihatnya jika dia tidak melakukan sesuatu, sang kakak yang semakin berjalannya waktu selalu memotong dan mengacuhkan apapun perkataannya. Bersikap jika dia adalah salah satu dari teman-teman yang setia mengikutinya, bukan adik yang seharusnya berjalan sejajar di sampingnya.


Perasaan yang dipendamnya semakin lama semakin membuatnya marah dan hanya dengan melakukan beberapa keisengan-lah dia sedikit terhibur, berpikir jika mereka pantas mendapatkannya dan sebagai salah satu usaha balas dendamnya. Meskipun hal itu membuatnya semakin menjadi outcast dimanapun dia berada. Yah, bukan salahnya jika tidak banyak yang bisa memahami rasa humornya.

Hanya saja, mengetahui bahwa dia benar-benar merupakan outcast bukanlah hal yang bisa berakhir dengan baik. Kenyataan tidak seperti sebuah cerita dongeng klasik, dimana hanya dengan kalimat ‘kamu tetap anakku tidak peduli siapapun kamu, karena akulah yang membesarkanmu’. Terlebih jika mengetahui alasan mengapa dia bisa sampai di tempat yang bukan merupakan bangsanya dan tumbuh besar sebagai bayangan yang tidak pernah dihormati. 

Halo, dia tetaplah anak dari sang raja, yang berarti meski dia anak kedua, atau bukan sama sekali setelah tahu ha yang sebenarnya, tetap saja seharusnya dia seorang pangeran, salah satu dari 2 penerus tahta yang harus, atau paling tidak didengarkan perkataannya.

Takdirnya adalah menjadi raja. Pendapatnya itu tidaklah salah, karena pertama, meski anak kedua, dia masih punya separuh kemungkinan mendapat posisi raja. Dan kedua, jika dia tidak terdampar dan tetap berada di lingkungan bangsanyapun, maka dia tetap akan menjadi raja, karena dia adalah satu-satunya pewaris tahta. Hey, yang manapun itu dia tetap mempunyai takdir sebagai raja.

Hanya saja, kembali ke masalah awal, sang kakak yang terpilih dengan tidak adil membuatnya kesal. Dan bukan salahnya jika sang kakak menghilang, meninggalkan posisi kosong yang bisa di ambilnya. Bukan salahnya juga kalau dia tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Tapi sekali lagi, cerita klasik lama berulang kembali. Tokoh utama selalu mendapat apa yang diinginkan dan tokoh sampingan hanya akan di letakkan di samping. Disaat semua sibuk memikirkan nasib sang tokoh utama, tidak adakah yang bisa mencoba untuk memahami posisinya. Menjadi bayangan selalu menimbulkan efek samping, diantaranya perasaan marah, rendah diri, terlupakan, dan yang paling parah, jika ada kesalahan maka dia akan menjadi orang pertama yang ditunjuk sebagai sang pelaku.

Kata lelah tidak sepenuhnya bisa menggambarkan apa yang bergolak dalam hatinya. Dan kondisinya sudah benar-benar melampaui kata itu. Apapun yang dilakukan, dikatakan bahkan dipikirkannya selalu saja tidak tepat di mata orang lain. Berusaha seperti apapun agar sang ayah melihatnyapun hanya menghasilkan sebuah kesalahan besar di mata sang ayah. Bahkan sang kakak tiba-tiba menjadi peran penderita dalam ceritanya, cerita yang seharusnya dia-lah sang korban dari kenyataan.

Kalau dia tidak bisa menjadi pelindung maka dia akan menghancurkan, baiklah, bukan menghancurkan, tapi mengacaukan segalanya. Dia memilih untuk menjadi Antagonis daripada harus tunduk pada sang tokoh utama. Setidaknya dia bisa melakukan apa yang dia sukai dengan bebas. Menjadi dirinya sendiri, tidak lagi memikirkan dan mencari persetujuan demi pengakuan eksistensi untuk dirinya.

Memilih jalannya sendiri, dia melepaskan tangannya. Melepaskan diri dari semua hal yang selama ini bersamanya. 

“Loki, no!!”


-fin- 
 

Minggu, 29 Desember 2013

(fanfic) The Untold Story


The Only Human – (Stiles Stilinski)




“So, they told you it was me?”

Dia hanya berdiri di sana, di sebelah sahabat baiknya, memandang kosong kearah dua orang yang berada di depannya. Seorang adalah kenalan yang baru saja mereka kenal akhir-akhir ini, tapi beberapa kali saling membantu untuk bertahan hidup, seorang lagi adalah guru bahasa di sekolahnya, yang sedang sibuk meyatakan diri tidak bersalah. Bayangan ayahnya silih berganti muncul di dalam kepalanya.

Sejak kecil dia merupakan anak yang ceria, mungkin dikarenakan sifat hiperaktifnya, ya dia mempunyai penyakit ADHD, sehingga membuatnya susah untuk diam walau hanya sebentar. Dia selalu bertindak tanpa pikir panjang setelah mendapat ide, daya tangkap dan analisanya yang cukup baik membantunya membuat keputusan yang tepat sehingga jarang melakukan kesalahan. Meski terkadang dia juga cukup ceroboh untuk hal-hal kecil dan tersandung benda-benda di sekitarnya. 

Tumbuh besar di bawah kasih sayang kedua orang tua membuatnya bersyukur jika membandingkan dengan kehidupan sahabatnya yang hanya bersama orang tua tunggal. Walaupun hanya 10 tahun, tapi itu sudah cukup baginya untuk bisa memahami dan menghargai arti keberadaan seseorang. Ibunyalah yang mengajarkan semua itu. Terlebih dengan cara yang bahkan tidak akan terlupakan sampai kapanpun.

“Mom, died”

Dia tahu sejak lama jika ibunya sakit, dia juga tahu ayahnya memikirkan sesuatu, dia hanya tidak tahu apa itu. Belajar dari pengalaman, ada 2 tanggapan yang bisa di dapatnya dari bertanya, antara mendapatkan jawaban yang sebenarnya atau bentakan untuk diam. Dari kedua orang tuanya dia selalu mendapatkan respon yang pertama, tapi dari beberapa yang lain, kebanyakan yang kedualah yang didapatnya. Terlebih jika dia bertanya pada seseorang yang mempunyai wajah ‘tertentu’.

Ketika ibunya mulai menginap di rumah sakit, ayahnya sering memasang wajah ‘tertentu’ itu, meski jika dia nekat bertanya ayahnya pasti akan tersenyum dan menjawab dengan halus. Dia belajar lagi hal lain, antara jawaban yang sebenarnya atau sebuah kebohongan. 

Pendapat umum mengatakan sekolah adalah tempat untuk belajar segala hal, tapi kedua orangtunya sering mengatakan, belajar tidak hanya bisa di dapat di sekolah, dia bias mendapatkannya dimanapun asalkan dia mau melihat, mendengar dan merasakan. Itulah yang dilakukannya, sebagai anak seorang polisi, dia sering melihat berbagai macam kenyataan dan ekpresi serta luapan emosi manusia. Di balik sikapnya yang sering bertanya, dia juga sering berpikir dan mengolah semua apa yang dia lihat dan jawaban atau tidak ada jawaban yang di dapatnya. Dia belajar bahwa manusia bisa membuat sebuah ekspresi yang sama sekali bertentangan dengan apa yang ada di dalam hatinya.

Pelajaran demi pelajaran di dapatnya seiring bertambahnya usia, setiap hari dia mendapat satu hal lain, dan tempatnya berada membuatnya lebih bisa memahami apa yang dinamakan ‘kehidupan’ daripada apa yang bisa dipelajari di sekolah. Sejak usia 6 tahun, dia lebih sering berada di rumah sakit atau di kantor polisi daripada di rumah dan sekolah. 4 tahun merupakan waktu yang cukup panjang baginya untuk memahami dan membentuk sebuah karakter. Karena itu saat berusia 10 tahun dan salah satu orang tuannya meninggalkannya untuk selamanya, dia sudah paham, bahwa dia harus menjaga apa yang sangat berarti baginya karena suatu saat hal itu akan hilang dari jangkauan, cepat atau lambat, terduga atau tidak. 

“I miss your mom”

Saat kematian Ibunya, dia belajar bahwa ada hal yang perlu dikatakan dan ada hal yang lebih baik di simpan demi kedamaian bersama. Dan entah sejak kapan dia terbiasa untuk memilah hal-hal itu dan memasang sebuah garis batas bagi dirinya sendiri. Dia juga menyadari ada kalanya seseorang tidak ingin mendengar dan berharap untuk mendengar hal lain. Belajar bahwa sampai di suatu titik hal lain itu dapat memberikan sebuah kebaikan daripada kenyataan yang sebenarnya. Maka dia mulai mempelajarinya, dia mulai mengembangkan sebuah kemampuan lain dalam dirinya. Kemampuan untuk mengatakan hal yang lain, kemampuan untuk berbohong. Dan saat sahabatnya mendapat perubahan yang tidak terduga, kemampuan itu berkembang semakin pesat.  

Sejujurnya, kemampuan ini tidak begitu dia sukai, karena meski dapat membawa senyum di wajah seseorang namun juga memberi sebuah tekanan dalam hatinya, tekanan yang bahkan lebih berat dibandingkan dengan kemampuan saat dia mengetahui bahwa suatu hal lebih baik dibiarkan tenggelam di dasar yang paling dalam.

Pembicaraan mengenai Ibunya tidak pernah muncul di permukaan, karena dia tahu, bukan hanya bagi ayahnya, bahkan bagi dirinya sendiri hal itu lebih baik terkunci rapat dalam kotak harta. Namun berbohong pada ayahnya memunculkan konflik lain dalam hatinya yang lebih besar daripada hal itu. Berulang kali dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa berbohong merupakan cara yang terbaik. Bahwa itu merupakan satu-satunya cara untuk menjaga keselamatan tidak hanya ayahnya tapi seluruh kota, terutama ayahnya.

Hanya saja jauh di dasar hatinya dia terus mendengar sebuah suara yang berteriak bahwa suatu saat kebohongan serapi apapun adalah sebuah kebohongan. Itu berarti bahwa tidak ajaminan ayahnya akan selamat meski dia tetap diam, terlebih dengan pekerjaan ayahnya yang jelas-jelas menempatkannya di garis depan bahaya. Suara itu terus menerus menganggunya, berulang kali dia meredam, setiap kali juga suara itu kembali terdengar. Secara logika, akan lebih baik jika ayahnya mengetahui hal yang sebenarnya. Tapi dia tidak berhak mengatakannya, karena hal itu menyangkut orang lain, termasuk sahabatnya. Dan dia sudah belajar untuk tidak mengatakan apa yang bukan miliknya.

Beralih pada pilihan lain, dia berusaha untuk menjadi kuat. Setidaknya jika dia tidak bisa mengatakan sesuatu dia bisa berbuat sesuatu. Kekuatan fisik jelas bukan pilihan pertamanya, apalagi jika dibandingkan dengan kenyataan yang selama ini tidak dia sadari. Dia menetapkan diri pada keahliannya yang lain, menggunakan otak. 

Namun itupun belum cukup. Berkali-kali dia merasa ketakutan akan kehilangan hal lain yang berharga. Satu hal sudah diambil darinya, dia tidak akan melepaskan yang lain, tidak jika dia bisa mencegahnya. Berusaha sekuat mungkin, bertekat untuk menjadi kuat dia semakin mengubur sisi dirinya yang lain. Sisi yang ceria yang semakin lama semakin hilang tergantikan oleh pandangan sarkatis pada kehidupan yang dilihatnya. Dia semakin menyadari bahwa kehidupan itu keras.

“I’m proud and happy for you”

Dia tidak pernah menangis, dalam hidupnya, dia tidak pernah sekalipun menangis. Saat Ibunya pergi. Dia hanya duduk diam di koridor menyandarkan kepalanya pada kepalan tangan dan menunggu sang ayah datang. Hari hari setelah kematian Ibunya dimana sang ayah menenggelamkan diri pada pekerjaan dan alcohol setiap malam, ketika berpikir bahwa dia sudah tidur, yang pada kenyataannya dia berusaha sekuat mungkin untuk mengatasi penyakit baru yang dideritanya, Panic Attack, membuatnya lupa untuk menangis.

Ketika dia merasa putus asa saat Kanima menyerang kantor polisi dan hanya bisa terbaring di lantai, dia menekan amarahnya dan memfokuskan diri untuk mencoba bergerak agar setidaknya bisa melihat dan memastikan bahwa ayahnya baik-baik saja. Di antara keributan dan kecemasan yang memuncak, dia tidak punya waktu untuk menangis.

Begitu juga saat sang ayah memeluknya dengan perasaan lega ketika dia menjadi penyampai pesan dari sang pemburu untuk yang diburu. Sepanjang perjalanan dia terlalu sibuk memikirkan alasan yang tepat untuk menyamarkan jejaknya sehingga menangis sama sekali tidak terlintas dipikirannya. 

Saat teman yang dikenalnya sejak kecil terbunuh. Saat sahabatnya, satu-satunya teman yang dia miliki, saudara yang tidak pernah dia miliki, mencoba meninggalkan dunia karena merasa bersalah dan putus asa, dia memutar otak, mencari cara untuk meyakinkan sang sahabat untuk bertahan, membujuk agar sekali lagi mereka berjuang bersama. Bertekat akan ikut pergi bersama membuatnya sedikitpun tidak merasakan keinginan untuk menangis.

Dia sudah belajar bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalah, bahwa menangis hanya akan membuat orang yang peduli padanya sedih, bahwa menangis hanya akan membuat ayahnya khawatir. Karena itulah, dia selalu berusaha tersenyum.

“I’m listening!!”

Teriakan ayahnya kembali terngiang di telinga. Sejak kecil ayahnya tidak pernah berteriak padanya. Ketika semua orang lelah mendengar pertanyaan yang selalu dilontarkannya, ayahnya hanya tersenyum dan menjawab dengan sabar. Saat membangunkannya untuk pergi ke sekolah agar tidak terlambat, melihatnya berkeliaran di TKP dan mendengarkan radio polisi, ikut campur dalam kasus-kasus yang di tangani ayahnya, atau sekedar memaksa ayahnya dengan makanan sehat. Bahkan saat membuat ayahnya kehilangan lencana sheriff-pun, sang ayah tetap tidak pernah menaikkan nada suaranya.

“You just don’t believe. Mom will believe me”

Dia tidak pernah membayangkan bahwa pertengakaran pertama dengan ayahnya adalah hal terakhir yang dilakukannya sebelum akan kehilangannya. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak meminta maaf setelah mengucapkan kalimat yang dia tahu sangat menyakitkan bagi ayahnya. Dia menyesal selama ini hanya diam dan tidak mengatakan kebenaran pada ayahnya sehingga ayahnya berpikir bahwa apapun yang ada di belakang kasus adalah hanya seorang pembunuh psikopat yang kejam.

Dia pernah kehilangan seseorang yang berharga dan dia tidak ingin hal itu terjadi untuk kedua kalinya. Dia susah payah berjuang saat sang Ibu di ambil dari sisinya, dengan bantuan dan demi ayahnya dia berhasil melewati semua kesulitan. Apapun itu dia sanggup bertahan karena dia tahu sang ayah akan selalu berada di belakangnya, siap menangkapnya jika dia hendak terjatuh. Tapi siapa yang akan berada di sisinya jika sang ayahpun di ambil darinya.

“Dad?!”

Dunianya seolah berhenti saat dia menyadari ayahnya menghilang. Baginya ayahnya adalah segalanya, kunci dari dunianya yang masih berputar saat ini. Kehilangan Ibu membuatnya mengulang kembali dan berusaha mengingat bagaimana caranya untuk bernafas. Karena ayahnyalah dia berhasil melakukannya. Jika sang ayah juga menghilang, dia tidak tahu lagi cara untuk bernafas, tidak akan ada yang mengajarkannya, tidak ada apapun.

“We told, you are the one killing people”

Suara sahabatnya terdengar stabil, perlahan membawa kesadarannya yang sempat hilang kembali ke waktu saat ini. Dia masih berdiri di sana, di samping sahabatnya, memandang lurus ke depan. Dan tiba-tiba saja berbagai perasaan menghantamnya dengan keras. Perasaan yang selama ini ditekannya mengalir keluar secara bersamaan. Bersalah, takut, marah, putus asa, membuat dadanya terasa sesak dan akhirnya dia menyerah. Dia menyerah kalah dan membiarkan pertahanan yang dibangunnya selama bertahun-tahun hancur berantakan. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, air mengalir turun dari matanya.

“Where’s my Dad?”

-Fin-
Harry Potter Magical Wand