Marquee Tag - http://www.marqueetextlive.com

Tampilkan postingan dengan label tenipuri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tenipuri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

(fanfic) 2882



Now You See Me 2


Inspirated from masa tweet, just random fic yang muncul karena saya stress mikir proposal tesis nggak nemu bahan juga, akhirnya malah jadi ini, ya sudahlah, mari berdoa saja, semoga saya dapat pencerahan dalam hidup (apa to??).

fandom: tenimyu
starring: Nakagauchi Masataka, Baba Toru, Kubota Hidetoshi, Mikata Ryosuke
warning: bahasa sehari-hari bukan bahasa resmi

 

“Bachooonnn ikouyo!!!!”
Baba meletakkan handphone yang dipegangnya ke meja dan melanjutkan makan siangnya dengan santai sembari membalik balik majalah, rugi kalau acara makan siangnya yang Cuma sebentar di sela sela latihan malah dihabiskan untuk mendengarkan suara Masa.
“BACHON!! WOI!! Pasti hp-nya Cuma digeletakkin pake loudspeaker. Angkat atau aku  cerita semua rahasiamu biar pada dengar ya!!”
Baba cepat cepat mematikan loudspeaker dan kembali menggunakan hp sesuai fungsinya, dalam hati nyumpahin Masa karena Baba tahu Masa beneran bakal nyebarin apa saja selama itu mendukung kepentingannya. Sifat temannya yang satu itu dia paham sekali karena tidak jauh beda dengan sifatnya sendiri, mungkin karena sama-sama egois seperti itulah mereka bias akrab.
“Bukannya kamu masih di LA ya?” jawab Baba akhirnya pasrah
“Sudah pulang woi!! Update donk, masak nggak tahu aku sudah pulang, temen macam apa kau?!” sembur Masa
“Bukan urusanku pulang atau nggak, lagian apa nggak sibuk butai, udah jarang telpon, nggak pernah ngabarin juga, ngapain tiba-tiba ngajak nonton, minta bayarin ya? Ogah!!”
“Sialan, nggak sudi, kalau Cuma buat nonton bias bayar sendiri, lagian kayaknya kaya –an aku deh”
“Berarti bayarin ya, jangan lupa habis nonton sekalian dinner juga, nggak ada alasan sibuk, pokoknya aturan lama masih berlaku tiap kita main, nggak ada acara kabur di tengah gara-gara kerjaan”
“Iya tahu, makanya ini kan mau nyamain jadwal, gimana sih” sahut Masa yang kemudian sadar “Loh. Bentar, cih sialan, sengaja ya minta bayarin, tadi katanya nggak mau, rugi udah siap-siap nyogok”
Baba ketawa ngakak, kalau soal ngakalin orang dia setingkat lebih tinggi dari Masa, percuma punya mulut tajem kalau nggak bias buat nyari keuntungan. Dari awal sejak Masa ngajak Baba memang udah mau bilang mau, lagian sudah lama juga dia nggak ketemu Masa, tapi saying kalau langsung main ‘iya’ begitu aja.
“Ya udah, ngikut jadwalmu aja yang lebih padet, belakangan aku banyak nyantai kok, ntar ku e-mail jadwal ku bulan ini, tentuin aja mau kapan yang longgar”
“Okay, berarti kapan aja nggak boleh protes ya” kata Masa
“Eh, bentar, jangan yang seharian, kebiasaan lama-mu kan kalau main selalu seharian penuh, ogah ah”
“Nggak bias, udah deal” tolak Masa “Pokoknya ngikut, nggak ada protes, yang bayar siapa?! Yok, Bye”
Masa langsung mematikan telpon sebelum Baba sempat membuka mulut untuk membalas sehingga dia hanya bias mendelik kea rah hp-nya, sibuk nyumpahin Masa dalam hati. Dari semua temennya Cuma Masa yang bias ‘seri’ ngadepin kelakuan Baba.

2882

“Hide-saaaaannn”
“Hmm?”
“Hide-san kan udah janji mau makan bareng kalau butai yakumo-nya udah selesai, ini kan udah selesai lama tapi Hide-san nggak bilang apa-apa” protes Mikata
“ah, iya, aku lupa, maaf” sahut Hidetoshi masih cuek
“HIDEEETOSHIIII!!!!”
“Iya iya, ini denger, nggak usah treak treak gitu” kata Hidetoshi sambil nabok kepala Mikata pelan “terus Ryosuke maunya kemana?”
“Eh, boleh milih?” Tanya Mikata langsung pasang senyum manis
“Ya udah nggak jadi, aku aja yang nentuin tempatnya, besok ku jemput ya, yuk dah”
“eehhhh??!!!” seru Mikata tapi Hidetoshi yang udah ngloyor pergi Cuma melambaikan tangan acuh nggak peduli sama protes Mikata yang langsung manyun.
Sifat Mikata yang kadang blur memang susah diikuti, karena itu banyak yang heran saat Hidetoshi yang entah bagaimana bias paham karakternya, tapi melihat sifat Hidetoshi sendiri yang cueknya minta ampun kalau pas ‘kumat’ akhirnya bayak yang menyimpulkan mungkin gara-gara dua-duanya punya sifat yang ambigu nggak jelas itulah mereka bias cocok.
Akhirnya pasrah dengan nasib, Mikata balik kanan untuk pulang, Sejak tenimyu selesai kadang Mikata memang sering iseng mengunjungi Hidetoshi ke tempat latihan butai-nya kalau dia sendiri sedang break latihan, daripada bosan nggak ada kesibukan. Lagian jarang-jarang Mikata bisa nonton Hidetoshi dari POV penonton. Harashima masih sering ngatain Mikata sebagai fansboy Hide, tapi dasarnya Mikata udah kebal sama omongan apapun kalau menyangkut Hidetoshi Kbota jadi dia Cuma cuek aja dan malah bikin yang ngatain sebel sendiri gara-gara dicuekin.
Ogaken yang dulu pernah kena semprot gara-gara dianggep memonopoli Hidetoshi dengan senang hati memberi nasehat kepada siapapun agar jangan sampai menyinggung ‘perhatian’ Mikata ke Hidetoshi yang didukung oleh Kamicchi yang pernah kena tabok Mikata juga.

2882

Hari – H
“LAMAAA!!!!! WOI!!! BACHOOONNN!!!!!!” teriak Masa sambil mengedor pintu kamar Baba
“bentar sisir ku hilang” teriak Baba dari dalam kamar “Lagi nyari nih! Sabar napa”
“Udah nggak usah sisiran segala, udah cakep!”
“Cerewet, masih pagi ini, baru jam 10, memang mau kemana sih, bioskop belom buka juga!” tukas Baba sambil membanting pintu depan “Mana baru bias tidur jam 5 pagi juga, sengaja ya, kan tahu jadwalku kemaren sampai pagi”
Masa Cuma ketawa sambil narik tangan Baba biar cepet dikit jalannya. Sebenernya Masa sengaja, baginya rugi kalau ada kesempatan buat ngusilin Baba dibiarkan berlalu begitu saja, kan udah jarang juga, lagian ekspresi Baba kalau marah nggak nyeremin malah nambah bikin Masa ngakak.
“jadwal kita padat, off ku Cuma hari ini yang sehari penuh, besok mulai sore ada kerjaan” kata Masa
“Sapa suruh main mau seharian, kan nggak ngefek juga kalau Cuma nonton, makan, terus pulang. Lebih efektif” sahut Baba
“Nggak seru dong, gimana sih, jarang jarang ketemu juga” protes Masa “nggak kangen denganku ya, padahal udah susah susah bikin jadwal main, hargain kek”
“Nggak tuh” jawab Baba sambil ngecek kantongnya, buat jaga jaga kalau dia nggak lupa bawa hp sama dompet. “btw, mau nonton apa sih, kok semangat amat?”
“Makanya kalau orang ngomong dengerin” Masa pasang senyum lebar sebelum menjawab “Now You see me”
“hah?”
“ck, itu judul film, hidup di gua mana sih? Filmnya tentang sulap”
“Oh, yang itu, iya tau kok, Cuma lupa judulnya aja. Terus apanya yang bikin semangat, Cuma sulap ini”
“Sulap Bachon!” teriak Masa nggak percaya
Baba Cuma balik liatin Masa dengan ekspresi datar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Masa akhirnya menghela nafas, nyerah sebelum berusaha mengaktifkan otak Baba agar mulai bekerja, ini anak satu memang nggak mau susah susah mikir kalau masih pagi, apalagi kalau kurang tidur.
“Sulap Bachon” ulang Masa “Sulap, magician, illusion, trick, PETENSHI!!!”
“kalau njelasin itu pake kalimat, jangan cuman keyword-nya, kayak searching di google aja”
“Petenshi bachon!!! Niou Masaharu” kata Masa sabar “ring anybell!! Yo mittemicchai, puri” lanjut Masa dengan suara yang dipakainya saat meranin Niou sambil pasang gaya seperti Niou.
“Nan nen buri no hanashi da” kata Baba akhirnya paham jalan pikiran temannya ini
“Loh, meski udah jaman kapanpun, niou selalu hidup di dalam sini” kata Masa sambil nunjuk dadanya “Jangan bilang yagyuu udah kamu buang”
“Nggak bakalan” sahut Baba cepat, nggak rela dituduh melupakan salah satu peran favoritnya sementara Masa tersenyum penuh kemenangan.

2882

“LAMA!!!!” seru Mikata sambil melompat berdiri saat melihat Hidetoshi dating “Katanya jam 3, ini udah jam berapa!!”
“oh, maaf, jam ku mati” kata Hidetoshi buru buru melepas jam dan memutarnya”
“HIDETOSHI!!”
“apa sih, cuman telat satu jam ini” jawab Hidetoshi ringan “udah jangan ngambek, nanti ku traktir deh”
“ganti jam kek, udah tau jam sering mati gitu masih di pake aja”
“hush, jam bertuah ini” Hidetoshi menarik tangan Mikata “ayo pergi, ntar telat”
“terus mau makan dimana?” Tanya Mikata
“hmm… udah laper ya? Sebenernya sih maunya makannya ntar aja pas dinner”
“eehh… aku kan belom makan dari siang” protes Mikata
“Loh, kenapa nggak makan siang” kata Hidetoshi tanpa dosa “ya udah, ntar beli camilan aja dulu”
“Mau kemana sih? Kalau Cuma dinner ngapain keluar sore-sore gini, nggak nanti aja sekalian kalau udah gelap”
“nonton dulu, katanya kamu pengen nonton now you see me. Belum nonton kan, kemarin atom nelpon katanya habis kena semprot gara-gara dia minta bantuanmu dan ngebatalin rencanamu buat nonton tuh film. Lagian memang udah nunggu nunggu dari sejak beritanya bakal ada sequel kan”
“he?”
“Apa, gini-gini aku dengerin kok kalau kamu ngomong, meski sambil lalu”
Mikata meresa agak bersalah karena selalu nyangka kalau Hidetoshi Cuma meng-iya-kan apapun yang dikatakannya tanpa mndengarkan, soalnya biasanya itu yang dilakukan orang-orang yang terpaksa harus menghadapi ocehannya tiap dia tertarik dengan sesuatu.
 “terus, kenapa atom nelponnya ke situ?” kata Mikata tiba tiba ingat dan nggak jadi merasa bersalah, jadi agak sebal karena atom nelpon hidtoshi nggak bilang bilang
“bukan atomnya sih, atom nelpon kamicchi, kamichi bilang ke ken, nah Ken-san yang …”
“Ken-san!!” seru Mikata sebelum Hidetoshi selesai ngomong “ngapain ken-san nelpon? Pasti mau janjian main ya. Kok gitu, kalau ku telpon bilangnya sibuk mulu, giliran ken-san aja bias luang gitu”
“dengerin dulu kalau orang lagi ngomong” Mikata meringis saat kena jitak Hidetoshi “Ken nelpon soalnya dia khawatir mood-mu jadi jelek dan bakalan ngaruh ke kerjaanmu, makanya dia nyempetin diri nelpon, tadinya aku mau nelpon habis latihan, tapi malah kamu-nya udah nongol duluan dan kayaknya mood-mu juga udah baik, jadi aku nggak bilang apa-apa”
“ooohh….”
“kenapa kalau sama masalah ken histeris gitu sih?”
“nggak juga, biasa kok …” sahut Mikata “ …. Kalau Cuma ken-san” lanjutnya pelan
“hmm? Apa?” Tanya Hidetoshi
“nggak, nggak apa apa” kata Mikata cepat sambil melenggos “ayo cepet ntar telat”
“hmmm ….” Guman Hidetoshi yang kalau saja Mikata mau menoleh ke arahnya maka dia bias melihat senyum miring Hidetoshi.

2882

“main udah, lunch udah, jalan-jalan juga udah, sekarang nonton dulu terus dinner” kata Masa riang
“ne, Masa” Baba menarik lengan Masa sambil nunjuk dua orang tak jauh dari mereka “itu bukannya Kubohide sama Mikata ya?”
“mana? Iya, kayaknya, samperin yuk”
Masa ganti menarik lengan Baba sambil sedikit berlari menuju kea rah dua orang junior mereka di tenimyu. Ketika sudah agak dekat, mereka bias mendengar obrolan kedua kohai itu dengan jelas …
“Ne, kalau hobi sama sulap, kenapa dulu nggak auisi jadi Niou” Tanya Hidetoshi “kenapa malah milih yagyuu?” Baik Baba dan Masa bias mendengar Mikata berguman menjawab yang kedengarannya separuh nggak iklas “Apa? Kalau ngomong itu mulutnya di buka”
“Nggak suka sulap sampai segitunya kok” kata Mikata akhirnya
“sampai nyemprot atom gitu?”
“Sebelumnya nggak gitu suka sama sulap, cumin ….. “
“ya?”
“jadi suka setelah liat niou” kata Mikata pelan
“Niou? Sejak kapan niou ahli sulap, dia kan trickster, beda loh …. ” seru Masa yang langsung di tabok Baba karena nimbrung gitu aja tanpa babibu
“Ah, Masa-san, Baba-san” kata Hidetoshi                    
“Yo” sahut Masa sembari mengangkat satu tangannya sebagai salam sementra tangan satunya sibuk mengelus-elus kepalanya yang kena tabok Baba. Mikata dan Baba hanya mengaggukkan kepala  sopan.
“kembal ke topic” kata Masa “why niou?” lanjutnya sambil nyengir usil sementara Baba hanya menghela nafas karena sudah bias menduga jawaban Mikata dan tahu kemana arah pikiran Masa.          
“itu …. ”
“nande nande?” desak Masa dengan cengiran bertambah lebar
“nandemo ii yo” potong Baba sambil menarik Masa pergi “sudah ayo, jangan ganggu acara orang, cepat beli tiket, nonton, makan terus pulang, aku mau tidur. Sampai nanti Mikata, Hide-san”
“tidur, bachon, kau ini sudah tua ya, cepet amat tidurnya” Baba Cuma tersenyum samar menyadari perhatian Masa teralihkan
 “kalau aku tua, kau lebih tua” sahut Baba “siapa yang pagi-pagi udah main gedor-gedor pintu, waktu tidur ku itu berharga tau, lagian seharian main tarik kesana sini, capek”
“segitu doing capek, list-ku masih banyak lo, pokoknya hari ini semalaman nggak boleh tidur” Baba Cuma mendelik sebal melihat Masa Cuma melambaikan tangan acuh “besok kan masih off juga, aku aja yang sorenya ada kerjaan biasa aja”
“jadwal istirahatmu kan dari dulu memang nggak jelas” kata Baba masih mendelik memperhatikan Masa yang sibuk menarik dompetnya keluar kantong untuk membeyar tiket “jangan disamain, jam kerjamu itu diluar jam kerja sehat manusia”
“enak aja, jam tidur mu itu yang terlalu panjang, ati ati jadi putrid tidur susah bangunnya loh”
“kan tinggal cari pengeran buat ngebangunin”
“itu yang susah, standarmu kan tinggi”
“ada satu kan” sahut Baba tersenyum licik saat Masa tanpa sengaja kesandung sebaga reaksi dari kalimatnya
“sialan, sengaja ya” umpat Masa “udah ayo cepet masuk, mau beli popcorn dulu nggak?”
“beli dong, rugi kalau dibayarin nggak beli”
“brengsek” sahut Masa yang meski misuh misuh tapi tetep pergi ke counter makanan sementara Baba hanya senyum senyum ngekor Masa sambil menaikkan kacamata yang dipakainya dengan gaya yagyuu sambari memperingatkan pemilihan kata yang digunakan Masa.

Sementara itu, ….
“huh” guman Hidetoshi lalu berbalik kea rah Mikata “terus mau bilang apa tadi?”
“Apanya?” sahut Mikata yang udah sempet lega karena nggak harus jawab
“yang tadi, tentang niou” Hidetoshi memperhatikan Mikata yang mendadak sibuk melihat kesibukan orang orang disekelilingnya “aku nggak bakal gerak sebelum dijawab”
Mikata misuh misuh dalam hati, tahu kalau Hidetoshi beneran nggak bakal bergeser se sentipun dan bias tahan diam selama berjam-jam. Dengan terpaksa akhirnya Mikata membuka mulut …
“aku suka sulap sejak lihat niou-mu yang bias sulap”
“hmm … “ sahut  Hidetoshi kemudian melangkah ke loket tiket sementara Mikata Cuma bias binggung melihat temannya berlalu dan cepat cepat mmbuntutinya
“udah Cuma gitu aja? Nggak ada reaksi lain? Nggak heran? Nanya kenapa kek?”
“memangnya kalau ku Tanya kenapa bias jawab?” balas Hidetoshi yang masih asyik menghitung uang sebelum dibayarkan
“ya, nggak sih. Tapi kan … ”
“nih, pegang” sela hidetoshi mengulurkan 2 tiket ke mikata “ayo beli popcorn, belum makan siang kan, nanti kalau semaput aku nggak mau di salahin lo”
Mikata Cuma bias ngikut ‘perintah’ Hidetoshi sembari mendelik ke arah senyum yang masih nangkring di wajah temannya itu dengan curiga. Dari awal ketemu Mikata selalu mikir kalau wajah Hidetioshi itu mirip rubah yang licik, terutama mata sama senyumnya yang miring itu. Tiap kali senyum itu muncul pasti ada apa-apanya. Hanya saja Mikata masih belum paham dengan maksut di balik senyuman Hidetoshi yang jarang muncul itu. Sepanjang yang dia tahu, ogaken selalu langsung kabur tiap Hidetoshi lihat seseorang sambil pasang senyum. Dan selama ini selalu Mikata-lah seseorang itu.
Berpikir buat ngancem ogaken supaya memberinya informasi, Mikata Cuma mengulurkan tangan menerima popcorn yang diangsurkan Hidetoshi, toh dia yakin suatu saat dia bakal tau apa arti senyuman Hidetoshi, kalau mengenai Hidotoshi nggak ada yang ngaak bias dipecahkan oleh Mikata. Cepat atau lambat.

2882 owari 2882

Senin, 11 Juli 2016

(Lyrik) ネジとドライバー [仁王雅治]



人間には二つある   ネジかドライバー
人間には二つある   それはネジかドライバー


人に使われて伸びる奴はネジ

人を使って伸びる奴はドライバー

ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ    役に立たない
ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ    役に立たない

コンビには二つある   ネジかドライバー
コンビには二つある   それはネジかドライバー

右に回して押して行くタイプ
左に回して引くタイプ   おまんはどっち?

ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ   うまく行かない
ただどちらも片方(かたっぽ)だけじゃ       うまく行かない

当たり外れは…クジ      掃除洗濯は…家事
裕太の兄貴は…不二      ネジとドライバーと不二


21時は…9時                        模様がないのは…無地
痴漢を退治した…不二      ネジとドライバーと不二


犬と猿と…キジ            魚に参って…アジ
味覚が変な…不二        ネジとドライバーと不二


6時に起きるのは…不二             カウンターといえば…不二
手塚に見えてるか?…不二      樺地、蓮二、深司、修二

俺はネジになるべきか?
ライバーになるべきか?

なぁ答えろや 不二
ネジとドライバーと不二

ドンドンドドドン四天宝寺


PS:
this said to be Niou 3rd single, anyone can told me what the 2nd single called?

Sabtu, 02 Juni 2012

Niou, the real trickster, puri!

Uhmm....
I promise to write about Pairpuri right?
So, I will write about PairPuri 10 (Niou X Kikumaru). But, I will just write about what make me interest in there, so it's not much. And because I kind of Niou fans so it's just Niou *attacked by Kikumaru Bazoka*
First, here the cover.


Thing which make me interest in this PairPuri is Niou Day's Scedule.



Well, I will re-write again in English:

A day Scedule:
06:45       Oversleeps. Forgets to eat breakfast
07:00       Goes to school. Morning practice
08:30~    1st period: Music
  
09:30~    2nd period. Calligraphy
10:40~    3rd period. Science/Meteorology
11:40~    4th period. Mathematics
12:30~    Lunch break. Brings his yakiniku special from Umikaze to the rooftop
13:15~    Impersonates a teacher at the eastern gate and feeds a stray cat
13:30~    5th period. Civics (afternoon nap)
14:30~    6th period. German
15:30~    Tennis club. Becomes Yukimura with his Illusion
  
18:00~    Gun shooting at the game center
18:30~    Eats dinner at the coffee shop
19:30~    Returns home, works on something
20:00~    Gathers information on the internet
20:30~    Calls Yagyuu and asks about the scope of the test
21:00~    Ups his concentration by throwing darts
21:30~    Goes out to watch the late show
01:00      After returning home, showers, then sleeps

There you can see Niou day activity.
My point is, WTH?! NIOU NEVER LEARN?!! The one which have connected which school thing is just when He call Yagyuu for ask about test and just half hours. (O_o)
He never eat breakfast because oversleep *high-five* Well I never had breakfast too. Have afternoon nap in 5th period, playing game after tennis practise and never eat dinner in home. 
Niou, you really like me, I always come back to home after had dinner in someplace. (^o^)\v/
The suspisious thing is 'works on something' and 'gathering information on the internet'. What is that??!! (=_=)a  Are you working on plan to set a prank??!! Anyway, it's means after back in home he just go surfing in net, me too *high-five again* XDD
And sleep at 01:00 AM?? I always sleep late too. Sometime I sneak out not watch lte show though but to visit net-cafe in midnight until morning. (^_^)\v/

Anyway, I just want said if Niou have his own pace and like alone? Always eat lunch in rooftop eh? and another thing he do is typical thing which will do alone not with friend (except dinner and play game maybe, but that can did alone too). So, Niou is Introvet? But, his character is ruthless and offensive, the only one who brave to slapp and backmouth to Sanada, yeah, way to go Niou, I like Niou character because he have confused personality with contradiction. 
He like set a prank which can be ment careless but a good observased too. Inui said if He can gathered Niou data, so it's mean Niou is carefull. Have nick name 'Trickster' who make people afraid because his play stlye which aggresive and ruthless (remember match with golden pair, when Kikumaru collaps and Niou said 'zannen munen mata raishu' like don't care or when He looks happy when golden pair shock because Yagyuu is Niou nd Niou is Yagyuu??) But He can feeds a stray cat in school and got warn by Yanagi. It's not his kind?? I found [info]assyrian make analysis about Niou personality and I think that interesting.

Anyway. I found another thing which really really interesting.


That page is basiccaly Masuda Yuuki-san story about Niou. The first time after He got Niou in audition until the time he play Niou. I will try to re-write the story again.
The first time after Massun got Niou in audition, He just have a picture of Niou without anything information which can he make to dig the character. Just one picture. So, Massun did research in manga-cafe, read all of the manga to know what person is Niou. But even he read so much manga, Niou never appear. It's like the story not reach Niou yet (the first Niou appearance is in game anyway). Without anything information about Niou, Massun go to the studio to play Niou (He think maybe when he play it he will got the feeling). When he got there, the first sentence Niou said is "puri". That time he think like "what the?! What the meaning of puri" After that, one of the staff approached him and said "Sensei not decided yet about Niou character, so just do what you think suit the character" when hear that Massun like "Are you trick me!?"

Seriously, I laugh hard when read this. XDD
I never hear the character can trick his voicer. Niou you are really the Trickster!!!! (^o^)b


I already write Niou profile long time ago (the data is from Fansbook 40.5 if I don't forget, you can search in this blog, and this same) so I just will go with the question. The Q&A is like this.

1. If you change partners, would you still want to continue with doubles?     What are you asking such a bothersome question for? Be it one or two people, tennis is tennis. 

2. What led to your current hairstyle?    Hey, hey, the current hairstyle you see might not even be my real hair, you know? 

3. What have you always wanted to keep a secret?
   Like I'd ever tell you. There's not a single thing good about decreasing the mystery. 

4. On the court, your happiest moment is?    It's definitely when I see the opponent in a state of confusion. 

5. Something in your family that is troubling you?    It's hard to trick my family. Everyone mimics each other, so it becomes chaotic. 

6. Is there someone in your club you find hard to deal with?
   It's...Sanada. Can't he do anything about his love of punishment? 

Okay, Rikkai member is always can play anything single or double (even I doubt Sanada can play double *slpped by Sanada*) so maybe that not really important. But I like more if Niou always paired with Yagyuu in doubles. Hairstyle?? Well, whatever, everything which connected whic name Niou always can be doubt anyway. And yes, I agree with your nswer Niou-sama!!! Secret it can be telled, once the secret come out it's not secret again. (^_^)b
That's it. Make people confuse. I would really like to see this, everyone mimics each other?! what a chaos in home?!! Sanada oh Sanada, you really like punishment right?! XD

So, that is Niou Masaharu, our Trickster, swindler, petenshi, whatever you say....
(Masa: Woi, that my song!!!)
Yup. That's it. I will end it here.
Last is Niou gallery (Niou: Yo, miteminsshai!!)
See you next time.
Pupina! Puri! Pyo!

 Niou, 10 year's old

  Niou, 2nd Grade Junior High School

Masuda Yuuki + Masataka Nakagauchi
(Seiyuu + Actor in Tenipuri Musical)

Masaharu Niou, Kotojou no Petenshi

Senin, 02 Maret 2009

(b'day fic) Daisuki na Kimochi

Fic Fuji Special B’day (End Part)

Daisuki na Kimochi

Kelas 3-6,

Begitu Fuji menghilang, Kikumaru segera meloncat dari tempat duduk dan menghambur ke pintu kelas. Ia mengulurkan kepalanya sedikit, melihat ke kanan dan kiri di sepanjang koridor, untuk

memastikan bahwa Fuji benar-benar sudah pergi.

Setelah tidak bisa melihat Fuji dan Tezuka, Kikumaru segera merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone, dengan sebuah senyum lebar ia menuliskan dua buah huruf ‘OK’ dan mengirimkannya sebagai sebuah e-mail.

Ruang Klub,

Ooishi mengusap keningnya dangan lengan, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Senyum puas tergambar jelas di wajahnya karena sudah berhasil membuat ruang klub itu tampak bersih dan rapi.

PIP PIP PIP PIP PIP PIP

Ooishi memeriksa kotak masuk handphonenya dan menemukan sebuah e-mail baru. Nama pasangan doubles-nya tercantum jelas sebagai pengirim.

To : Ooishi

From : Eiji

Subjek : -

Message : OK

Sebuah pesan singkat yang hanya terdiri dari 2 huruf. Tapi Ooishi tersenyum senang melihatnya dan segera men-forwart pesan itu menjadi 2 buah e-mail untuk dikirimkan pada 2 orang yang berbeda.

Lab. Biologi,

Inui sibuk berguman sendiri di tengah-tengah suara mesin juicer yang sedang bekerja keras mencampurkan beberapa bahan yang tidak biasa menjadi satu. Inui masih sibuk mencatat bahan-bahan yang digunakan dalam jus terbarunya dalam buku catatan ketika tiba-tiba handphone-nya berbunyi.

Seringai terukir di wajahnya begitu melihat pesan yang baru saja masuk. Inui berbalik menghampiri sebuah kotak berukuran sedang yang tergelek di meja hampir terlupakan, membukanya untuk memastikan benda yang berada di dalamnya.

Dengan seringai yang semakin lebar dan kaca mata berkilat-kilat, Inui memandang isi kotak itu. Sebuah cake berwarna putih dengan huruf-huruf hijau yang berkilauan.

On the Way,

Kawamura mengayuh sepedanya dengan santai. Di bagian belakang sepeda terdapat kotak berisikan sushi yang hendak diantarnya.

PIP PIP PIP PIP PIP PIP

Kawamura menghentikan sepeda dan mengambil handphone dari saku. Tersenyum membaca pesan yang diterimanya. Setelah menyimpan handphone, Kawamura kembali meraih handle sepeda dan bersiap mengayuh sepeda kembali, kali ini dengan kekuatan penuh.

yosha...!!! BURNING !!!!!”

Kelas 2-7,

Kaidou memandang pintu ruang kelasnya dengan tegang. Ia sudah selesai mengerjakan ujian dan sedang memperhatikan ruang kelasnya saat melihat pintu di depan tiba-tiba bergerak sendiri secara perlahan, tanpa suara membuka dan sebuah benda berbentuk persegi berkilauan muncul di celah yang hanya sebesar 5 centi.

Kaidou hampir saja berteriak ketakutan ketika tiba-tiba dia menyadari benda apa yang dilihatnya, bagian dari sebuah kacamata yang di pakai seseorang.

inui-senpai” desis Kaidou

Dilihatnya senpai penggila data itu memberi tanda agar ia segera keluar dari kelas secepat yang dia bisa. Kaidou mengangguk dan mulai membereskan tasnya. Toh dia memang sudah selesai dan akan segera pulang.

Kelas 2-8,

Momoshiro menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berkali-kali pandangannya di arahkan ke jendela dan pintu kelas juga jam dinding yang berada tepat di depannya.

argh....sial, sudah jam segini’ runtuk Momoshiro dalam hati.

Momoshiro kembali memandang kertas di hadapannya, kurang satu soal lagi, maka dia bisa bebas keluar dari ruangan yang membosankan itu.

nanjaro hoi hoi....”

aduh, mana Eiji-senpai sudah menunggu. Gimana nih’ Momoshiro semakin tidak bisa konsentrasi menemukan jawaban soal yang dicarinya saat mendengar suara senpainya di balik tembok.

ah, sudahlah asal saja, yang penting selesai’

Momoshiro memejamkan mata dan menunjuk salah satu opsi yang berada di lembar soal. Setelah menyalinnya ke lembar jawaban, Momoshiro segera membereskan tasnya dan setengah berlari keluar kelas.

Kelas 1-2,

Echizen menguap, menahan kantuk. Sudah sejak setengah jam yang lalu dia selesai mengerjakan soal-soal ujiannya.

mana sih, lama sekali’ kata Echizen dalam hati sambil memandang koridor yang sepi dari jendela. Echizen kembali menguap, bosan dan hendak memutuskan untuk tidur saja ketika matanya menangkap apa yang sejak tadi ditunggunya.

2 orang anak melambai ke arahnya dengan cengiran di wajah. Menghela nafas kesal, Echizen menyambar tasnya dan segera keluar dari kelas.

lama sekali !” protes Echizen

mengo. Momo nih nya” kata Kikumaru

sorry sorry” Momoshiro meminta maaf

Sebuah koridor di suatu bagian gedung sekolah,

nee, Tezuka” Fuji membuka suara “katanya kau perlu bantuan, tapi sejak tadi kita hanya berkeliling saja”

Tezuka tidak menjawab dan hanya terus melangkah tanpa memperdulikan kalimat Fuji.

Tezuka, sebenarnya kau mau kemana sih ?”

Tetap tidak ada jawaban

Tezuka”

Tezuka masih diam dan terus melangkah. Fuji menghela nafas, menyerah dan hanya mengikuti Tezuka dalam diam.

PIP PIP PIP PIP PIP PIP

Tezuka berhenti dan mengeluarkan handphone dari sakunya, membaca pesan yang masuk kemudian berpaling pada Fuji.

ikuti saja aku” katanya singkat dan kembali melangkah.

Fuji tidak punya pilihan lain selain mengikuti kaptennya. Untuk mengisi waktu, karena mereka berjalan dalam diam, dan meskipun Fuji tidak keberatan tapi tidak bisa dipungkiri terkadang situasi seperti itu bisa membuatnya sangat bosan, maka Fuji mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Setelah tadi mereka hanya berputar-putar di koridor dalam gedung sekolah, akhirnya sekarang mereka melangkah menuju halaman, dan semakin lama Fuji menyadari arah tujuan mereka saat melewati tempat-tempat dengan pemandangan yang sudah tidak asing baginya. Selama 3 tahun Fuji sudah melalui jalan itu setiap pulang sekolah. Ya, mereka menuju ruang klub tennis.

Tezuka berhenti tepat di depan pintu. Fuji, secara otomatis, juga ikut berhenti.

kau masuklah dulu” kata Tezuka sembari mengeluarkan handphone dari sakunya.

Fuji mengangguk saja dan melangkah menuju pintu yang tertutup. Mengulurkan tangan dan memutar handlenya perlahan. Dari sudut matanya Fuji masih sempat menangkap gerakan Tezuka yang memasukkan kembali handphone ke saku tanpa menggunakannya.

Sedikit heran, Fuji mendorong pintu ke depan dan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan ketika tiba-tiba.....

HAPPY BIRTHDAY FUJI (-SENPAI) !!!!!”

Sebuah seruan terdengar dari ruangan disertai suara letusan dari sebuah benda berbentuk kerucut yang mengeluarkan pita dan potongan kertas kecil berwarna-warni.

Fuji memandang 7 orang anak yang berdiri di depannya. Ooishi, Kikumaru, Inui, Kawamura, Kaidou, Momoshiro, Echizen, semua dengan sebuah senyuman lebar di wajah berbalik memandang Fuji.

Di meja di belakang mereka, terdapat sebuah tart berwarna putih dengan tulisan yang dibuat dari gula hijau berbunyi ‘happy birthday Fuji Syusuke’ juga beberapa buah gelas, dua buah botol jus orange dan sebuah botol dengan warna ungu dengan label ‘Inui’ yang dengan mudah diketahui oleh Fuji kalau itu adalah jus buatan Inui yang baru.

Belum sempat Fuji mengatakan sesuatu, terdengar suara pintu ditutup di belakangnya. Dan ketika berbalik Fuji menemukan Tezuka tersenyum samar ke arahnya, mengucapkan kalimat yang sama.

Happy Birthday, Fuji” kata Tezuka tanpa nada seperti biasa.

Fuji kembali memandang wajah teman-temannya satu per satu, kemudian tersenyum sebelum akhirnya berkata......

arigatou, minna”


*** EnD ***


Minggu, 01 Maret 2009

(b'day fic) My Peaceful Time

Fic Fuji Special B’day

My Peaceful Time

29 February, 20xx.

Fuji menutup buku yang di bacanya dan melayangkan pandangan ke luar jendela. Meski matahari tidak nampak, namun udara hari ini cukup hangat untuk hari-hari di bulan february. Fuji menggerakkan tangannya, sekedar melemaskan tubuhnya yang mulai kaku setelah duduk selama berjam-jam.

Tidak banyak orang yang berada di dalam kelas itu, tepatnya hanya ada 4 anak termasuk Fuji. Kurang dari sebulan mereka sudah akan meninggalkan Seishun Gakuen untuk menjadi siswa SMU. Dan di hari-hari mendekati upacara kelulusan, anak kelas 3 memang diperbolehkan tidak datang ke sekolah. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di hari-hari terakhir menjelang kelulusan.

Fuji mengamati Kikumaru, teman sekelas sekaligus satu klub-nya yang sedang berebut roti dengan 2 anak lain yang juga teman sekelas-nya di seberang ruangan. Fuji tersenyum saat mendapati bahwa ternyata dirinya toh tidak merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan ketiga temannya.

Fuji kembali memandang halaman yang lenggang. Kemudian membuka buku catatannya dan mencorat-coret sembarangan sekedar agar ada hal yang dikerjakannya. Senyum di wajah Fuji semakin lebar saat menemukan sebuah ide untuk mengisi waktu luangnya.

Yah, kenapa dia tidak mencoba untuk bermain analisis saja.

Mengangguk sambil tersenyum senang Fuji menyetujui ide yang tiba-tiba terlintas di kepalanya ini.

Nah, apa yang akan dianalisisnya ?

Fuji memandang berkeliling, mencari hal yang kira-kira bisa menarik perhatiannya. Namun yang bisa dilihat dari tempat duduknya rupanya terbatas, lapangan tenis, deretan pohon di jalan utama, gerbang sekolah, serta ruang kelas yang kosong.

Entah kemana semua anak, sebagian besar memilih berada di rumah, tapi seingat Fuji lumayan banyak juga yang datang ke sekolah. Bahkan separuh meja di kelasnya terdapat tas berwarna hitam, tanda pemilik meja itu berangkat ke sekolah.

Kalau mereka berangkat, sekarang kira-kira berada di mana ya ? apa di ruang klub, kantin, taman atau.....hei, benar juga. Tidak ada salahnya bermain menebak di mana teman-temannya sekarang.

Tapi tidak, tunggu dulu, terlalu banyak, lagipula Fuji tidak tahu kebiasaan semua teman sekelasnya dengan baik. Ini akan memakan waktu lama dan sangat sulit. Terlalu banyak tempat yang memungkinkan mereka berada di sana.

Tidak, tidak. Fuji menggelengkan kepalanya sendiri, sedikit kecewa karena sebenarnya ia menyukai ide untuk bermain analisis menebak lokasi ini.

...........................

....eh..benarkah ? siapa yang bilang”

kau tahu anak kelas 3-8 yang pakai kacamata kan ?”

ya ya, aku tahu” sahut Kikumaru semangat

.............................

Fuji memandang Kikumaru yang masih asyik bercerita dengan kedua temannya. Untuk sesaat Fuji hanya menatap ketiga teman sekelasnya dengan pandangan kosong. Tapi kemudian tiba-tiba Fuji tersenyum. Sebuah ide baru melintas di kepalanya.

Ya, kalau teman-teman sekelasnya memang mustahil, tapi bagaimana dengan teman-teman klub-nya, atau lebih khususnya para anggota reguler klub tennis. Kalau mereka, Fuji tahu dengan baik sifat dan kebiasaannya dan juga hanya terdiri dari 7 orang, setelah dikurangi dia sendiri dan Kikumaru tentunya.

Mengangguk puas dengan pemikirannya, Fuji tersenyum dan berbalik menghadapi buku catatannya. Kikumaru bisa dikecualikan, karena keberadaannya sudah jelas, jadi ada 7 anak yang bisa dimainkan.

Fuji membuka buku catatannya ke lembar baru dan mulai menulis sebuah nama.

Baiklah, siapa yang akan lebih dulu ia coba analisis ? bagaimana kalau partner doubles-nya. Kawamura ?

Fuji mengangguk tersenyum senang dan menuliskan nama Kawamura di buku catatannya. Setelah membuat anak panah disebelah tulisan berbunyi ‘Taka-san’ Fuji memulai permainan ciptaannya ini.

Nah, kira-kira berada di mana Taka-san sekarang ?

Fuji menopang dagunya dengan tangan seperti biasa dan mulai menggembara ke alam pikirannya, memposisikan dirinya sebagai Kawamura dan menggali semua informasi tentang Kawamura yang dimilikinya.

Akhir-akhir ini Fuji tidak pernah bertemu dengan Kawamura di sekolah. Apa dia datang atau tidak ? seingatnya, terakhir mereka bertemu adalah di ruang klub seminggu yang lalu, Kawamura mengatakan hari itu merupakan hari terakhirnya bermain tennis dan berniat menyimpan raketnya.

Fuji mengangguk senang, ya... Kawamura memang sudah berkali-kali menyatakan keinginannya untuk berhenti bermain tennis dan memfokuskan diri untuk berlatih membuat sushi. Tampaknya Kawamura sudah memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya.

Jadi, apakah Kawamura datang ke sekolah atau tidak ?

Fuji melayangkan pandangannya ke gerbang sekolah. Sepi, tidak terlihat seorang-pun. Padahal kemarin sepulang sekolah Fuji dan semua anggota reguler berkumpul di sana. Mereka berniat untuk mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan di warung Kawamura.

Yah, Kawamura memang ramah dan baik hati, sangat baik hati malah menurut Fuji, dia bersedia menutup warungnya jika klub seigaku berhasil memenangkan pertandingan dan mengadakan pesta secara gratis. Oh, baiklah mungkin itu ayahnya yang bermurah hati. Tapi cobalah kau berkunjung ke rumah Kawamura, pasti akan disambutnya dengan kata ‘itterashaii...’ yang diserukan dengan nada ramah.

Fuji tersenyum membayangkan Kawamura yang berteriak begitu melihat pintu terbuka. Yah tentu saja kau akan di sambut dengan baik. Karena rumahnya merupakan warung sushi, dan tentu saja semua penjual selalu menyambut tamu yang datang dengan baik. Cobalah datang di malam hari saat warung sudah tutup, pasti kata yang kau dapat adalah ‘ada apa malam-malam ke sini ?’

Fuji menggelengkan kepalanya, oke, ini sudah melantur jauh. Kembali ke masalah awal. Ada di mana Kawamura sekarang ?

Seperti yang sudah terlintas pertama kali, sudah seminggu ini Fuji tidak bertemu ataupun berpapasan dengan Kawamura di sekolah. Jadi kemungkinan besar dia tidak datang. Lalu ada di mana dia sekarang ?

Kawamura merupakan anak yang baik hati dan suka menolong, kalau melihat sifat dan keinginannya yang ingin membantu ayahnya sampai-sampai rela meninggalkan tennis, sudah pasti sekarang Kawamura sedang berada di rumah. Membantu ayahnya.

Fuji mengangguk puas dengan hasil analisanya tentang Kawamura, dia yakin bahwa tebakannya benar dan menuliskan kata ‘rumah’ di samping tanda panah. Tersenyum samar saat membayangkan bahwa saat ini Kawamura pasti sedang sibuk mengantarkan teh dan membersihkan meja.

Baiklah, satu selesai. Lalu sekarang siapa lagi yang akan Fuji telusuri jalan pikirannya ?

Bagaimana kalau temannya yang mendapat julukan sebagai ‘data man’ ? Fuji mengangguk setuju dengan usulannya dan menuliskan kata ‘Inui’ di bawah nama Kawamura.

Fuji kembali menopang dagu dan mulai berkelana dalam pikirannya. Sosok Inui terlihat jelas di matanya.

Nah ? kira-kira ada di mana Inui sekarang ?

Rumah ? kata itu yang pertama terlintas di kepala Fuji, karena hasil analisis Kawamura menunjuk ke rumah.

Tidak. Fuji menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, mustahil Inui memilih berada di rumah. Temannya yang satu itu tampaknya lebih sering terlihat dan berada di tempat-tempat tak terduga untuk mengumpulkan data.

Jadi, ada di mana Inui sekarang ?

Kalau berhubungan dengan koleksi data-nya, berarti Inui harus berada di jarak pandang dengan orang yang datanya ia kumpulkan. Siapa orang itu ? mereka, anggota klub tennis. Bukan lebih spesifik lagi, para anggota reguler. Jadi sudah pasti Inui berada di dalam lingkungan sekolah.

Fuji tersenyum puas dengan kesimpulannya. Kemudian melanjutkan dengan mengira-ngira tempat yang memungkinkan untuk mengambil data.

Ruang klub ?. bukan, Fuji tidak terlalu suka dengan ide ini. Lalu, lapangan ? Ya, Fuji menyukai pemikirannya kali ini. Tapi tak lama kemudian Fuji menggelengkan kepala, menyadari bahwa jalan pikirannya salah.

Bukan, bukan lapangan. Lapangan terlihat dari tempatnya duduk, dan lapangan itu sepi. Tidak ada seorangpun yang berlatih, jadi tidak mungkin bagi Inui untuk mengumpulkan data.

Lalu, di mana ? bagaimana dengan ruang kelas ?

Fuji tersenyum membayangkan Inui berdiri di sudut ruangan dengan buku catatan di tangan mengawasi seluruh anak dalam kelas.

Tidak, guru-guru pasti akan mempertanyakan tingkah laku Inui jika ia nekat mengumpulkan data dengan cara itu. Lalu, di mana ?

Sepertinya kebiasaan mengumpulkan data bukan jalan yang tepat untuk mencari tempat keberadaan Inui. Maka, Fuji beralih pada hobby Inui yang satu lagi, membuat minuman yang dikenal sebagai ‘jus Inui’.

Fuji mengangguk senang, ya, tampaknya kali ini arah yang dipilihnya tidak salah. Jadi di mana tempat yang bisa untuk membuat jus mematikan itu ?

Ruang klub ? cukup mungkin, tapi Tezuka sudah pernah melarang Inui untuk membuat atau membawa benda-benda aneh yang tidak diketahui keamanannya untuk dikomsumsi di ruang klub. Dan Inui merupakan salah satu anak yang cukup pintar untuk melanggar larangan Tezuka.

Lalu ? tempat apa yang bisa digunakan untuk membuat jus, diperbolehkan membawa bahan-bahan yang tidak lazim ditemukan di sekolah, juga tersedia alat untuk mencampur semua bahan itu dan tidak mengganggu kenyamanan umum dengan bau-bauan yang kadang muncul dari jus ramuan temannya.

Harus tempat yang jarang didatangi orang dan tertutup, mungkin. Pikir Fuji sembari kembali melayangkan pandangannya ke luar jendela. Fuji membutuhkan referensi untuk menemukan tempat yang sesuai dengan persyaratan yang diajukannya sendiri.

Mata Fuji menangkap sebuah bangunan yang terletak di sudut sekolah. Seketika itu matanya segera bersinar gembira.

Ya, di sana. Kalau di sana bisa. Kata Fuji pelan sembari menganggukan kepala yakin.

Lab. Biologi. Fuji menuliskan tempat yang ditemukannya di samping tanda panah nama Inui. Fuji yakin ia benar. Bukankah Inui juga sering dijumpai menyepi di tempat itu saat istirahat siang maupun jam kosong.

Bahkan sudah ada kesepakatan tak resmi di kalangan anak kelas 3 kalau Inui merupakan asisten guru Biologi. Yah, sudah tentu karena terlalu seringnya Inui meminjam kunci lab pada guru Biologi sehingga akhirnya ia mengijinkan Inui membawa kunci duplikat yang satunya agar tidak perlu mengganggunya setiap kali ingin memakai lab.

Fuji kembali meluruskan tangan dan kakinya, melemaskan otot sejenak sebelum kembali melanjutkan petualangan yang terjadi dalam kepalanya.

Kikumaru masih asyik mengobrol dengan kedua temannya di bangku paling belakang.

Fuji tersenyum dan kembali menghadapi buku catatannya. Kali ini siapa lagi yang akan ia jadikan objek pengembaraan ?

Fuji memandang berkeliling, seolah berharap seseorang akan tertangkap dalam matanya agar bisa digunakan untuk meneruskan permainan ini.

Suasana kelas masih tetap sama. Fuji menyerah untuk mencari inspirasi siapa yang berikutnya dari suasana kelas saat tiba-tiba tertangkap olehnya sebuah jahitan yang tidak terlalu rapi pada sebuah tas yang tergeletak di meja tak begitu jauh darinya, hanya selang beberapa kursi di kanan depan.

Kenapa pakai benang warna putih ? pikir Fuji saat melihat perbedaan warna yang sangat kontras di tas hitam itu. Seharusnya pilih warna gelap seperti biru tua atau coklat atau hitam saja supaya tidak kelihatan.

Tunggu dulu, kenapa jadi memikirkan itu. Ah, ini pasti gara-gara Nee-san dan Okasan sering menceramahiku tentang pemaduan warna jika membetulkan barang.

Eh, sebentar, apa yang kupikirkan tadi ? Nee-san dan Okasan ? Okasan ? mata Fuji bersinar cerah mendengar kata yang diucapkannya dalam hati.

Okasan, benar juga. Baiklah, kali ini target permainan berpindah ke Seigaku no Okasan.

Fuji menuliskan kata ‘Ooishi’ pada buku catatannya dan dengan segera sosok Inui di kepalanya berubah menjadi sang fukubuchou klub tennis itu.

Nah ? kita mulai lagi. Di mana kira-kira Ooishi sekarang ?

Sudah pasti di sekolah, kata Fuji pada dirinya sendiri. Tidak mungkin Ooishi yang terkenal sangat perhatian pada semua orang itu tidak datang ke sekolah pada hari-hari menjelang kelulusan. Ia pasti akan datang untuk memberi semangat pada teman-temannya.

Lalu di bagian mana sekolah Ooishi berada ?

Kelas ? ruang klub ?

Fuji lebih suka dengan ide yang terakhir. Mustahil Ooishi berada di kelas, sebagian besar anak pasti tidak akan datang ke sekolah sama seperti yang terjadi pada kelasnya sendiri. Jadi, untuk apa Ooishi berada di kelas kalau tidak ada seorangpun.

Lalu ? ruang klub ?!.

Fuji mengalihkan pandangannya pada bangunan kecil di tepi lapangan tennis. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari sana. Apakah dugaannya salah ?

Tidak. Fuji sangat yakin dengan tebakannya. Apa kira-kira yang dikerjakan Ooishi di ruang klub yang sepi itu kalau begitu ?

Fuji tersenyum dan mulai membayangakan bahwa fukubuchou-nya yang selalu khawatir berlebihan itu pasti sedang mengecek segala sesuatu dan peralatan di ruang klub untuk memastikan bahwa mereka bekerja dengan baik dan dapat digunakan oleh adik kelas dengan aman.

Ah, tapi itu hanya sebuah spekulasi yang untung-untungan tanpa dasar yang kuat. Tapi Fuji yakin dengan ide-nya tentang apa yang sedang dilakukan Ooishi.

Fuji kembali mamperhatikan bangunan kecil itu ketika tiba-tiba pintu-nya terbuka dan sesosok anak muncul dari dalam dengan membawa gulungan net. Berjalan menuju belakang sekolah dan untuk beberapa saat menghilang dari pandangan.

Fuji masih tetap mengamati bangunan yang pintunya dibiarkan terbuka itu. Fuji yakin anak yang baru saja keluar akan kembali tak lama lagi. Dugaannya benar, anak itu kembali dengan membawa sebuah sapu di tangannya.

Fuji tersenyum senang, kegembiraan seolah meluap di hatinya mengetahui tebakannya benar. Dengan penuh kemenangan Fuji menuliskan kata ‘ruang klub’ pada nama Ooishi.

Nah, sudah 3 orang yang diselesaikannya. Fuji tersenyum puas menatap tulisan tangannya di buku catatan.

4 orang lagi. Siapa berikutnya, Momo ? Kaidou ? atau Echizen ?. pikir Fuji dengan semangat. Tapi detik berikutnya Fuji tertawa pelan menyadari kebodohannya. Tidak mungkin salah satu dari ketiga anak yang menjadi finalis permainannya bisa dijadikan objek.

Ya, Fuji baru ingat. Meski kelas 3 bebas dan boleh datang sesukanya ke sekolah, karena memang sudah tidak ada kegiatan. Tapi anak-anak kelas 2 dan 1 masih ada kegiatan penting yang tersisa, apalagi kalau bukan ujian kenaikan kelas.

Benar, tidak perlu analisis yang panjang untuk menentukan di mana ketiga anak itu berada. Sudah pasti mereka berada di kelasnya masing-masing, menghadapi lembar soal dan berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak disukainya.

Jadi, yang tersisa tinggal satu kalau begitu.

Ya, siapa lagi kalau bukan Tezuka Kunimitsu, kapten klub tennis mereka yang banyak menarik perhatian dari berbagai pihak. Karena ternyata Kikumaru masih tetap berada di tempatnya, kali ini entah apa lagi yang mereka bertiga perebutkan, mungkin roti jatah makan siang.

Fuji menuliskan nama ‘Tezuka’ dalam buku catatannya, membuat tanda panah di sampingnya dan untuk sesaat mengamati sebelum akhirnya menuliskan beberapa kata lagi di sampingnya.

Rumah, sekolah.

Fuji menggelengkan kepalanya dan dengan cepat memberi tanda silang di atas kata ‘rumah’. Sudah pasti Tezuka tidak akan berdiam diri di rumah. Lebih masuk akal menemukan kapten tanpa ekspresi itu di lingkungan sekolah.

Fuji melingkari kata ‘sekolah’ dan membubuhkan beberapa tanda strip di bawahnya. Setelah berpikir sebentar, Fuji mengisi tempat kosong di samping tanda itu, masing-masing dengan satu kata.

Kelas, perpustakaan, ruang OSIS, ruang klub, lapangan.

Ada banyak tempat yang terpikirkan oleh Fuji, sehingga ia memutuskan untuk menulis semuanya terlebih dahulu sebelum mencoba menganalisa. Tampaknya kali ini sedikit lebih sulit daripada yang sudah-sudah.

Fuji menatap kata pertama. Kelas. Nah mungkinkah Tezuka sedang berada di dalam kelas sekarang ?

Entahlah, Fuji merasa 50-50 dengan ide mengenai ini. Tapi tunggu dulu. Setahunya, Tezuka bukan merupakan anak yang bisa bertahan cukup lama di kelas tanpa melakukan sesuatu. Kalaupun hanya untuk mengisi waktu dengan membaca buku atau mengerjakan hal lain, Tezuka lebih suka tempat yang tenang.

Perpustakaan ? Fuji kembali tidak yakin. Memang pada hari-hari biasa, Fuji akan dengan pasti mengatakan kalau Tezuka akan berada di perpustakaan daripada di dalam kelas. Tapi hari-hari seperti saat ini, di dalam kelas-pun akan terasa sama tenangnya dengan di perpustakaan.

Lalu yang mana ?

Nanti saja, coba ke tempat berikutnya dulu. Ruang OSIS.

Fuji memandang kata ‘ruang OSIS’ yang dibuatnya dengan seksama.

Selain ketua klub dan ketua kelas, Tezuka juga menjabat sebagai ketua OSIS, jadi tidak aneh kalau ia ada di sana. Bahkan kadang Fuji memang bisa menjumpai Tezuka di ruangan yang sangat luas untuk ditempati satu orang anak itu.

Tidak. Fuji menggelengkan kepalanya perlahan. Upacara kelulusan tinggal beberapa hari lagi, tidak mungkin Tezuka belum menyelesaikan tugas-tugasnya yang berhubungan dengan OSIS. Pasti sudah selesai sejak minggu lalu.

Kali ini Fuji mengangguk setuju dengan pemikirannya dan membubuhkan tanda silang di atas kata ‘ruang OSIS’.

Mata Fuji bergerak pada kata berikutnya. Ruang klub.

Fuji tersenyum senang, kali ini dengan pasti tanpa berfikir Fuji membubuhkan tanda silang juga pada kata itu. Karena Ooishi berada di ruang klub sendiri, jadi tidak mungkin Tezuka berada di sana.

Dari mana dia tahu Ooishi sendirian ? karena jika ada 2 orang atau lebih yang sedang bersih-bersih, maka akan terlihat dengan jelas, dan Ooishi tidak akan membawa 2 gulungan net sekaligus, pasti orang yang bersamanya akan membawakan yang satunya. Atau kalau tidak, orang yang satunya yang akan mengambil sapu saat Ooishi pergi ke belakang sekolah.

Dan Fuji kembali dengan yakin mencoret kata ‘lapangan’ dari daftar karena memang di lapangan tidak ada orang. Jika ada yang berlatih di sana, Fuji akan bisa melihatnya dari sini.

Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau Tezuka berlatih di lapangan di luar sekolah dan tidak datang ke sekolah ? bukankah kemungkinan untuk itu bukan 0 ? Tezuka merupakan tipe orang yang suka berlatih sendiri tanpa diketahui orang lain, hampir sama dengan dia sendiri.

Kening Fuji berkerut menemukan kemungkinan baru yang terlintas dalam kepalanya. Jadi bagaimana ini ? kira-kira ada di mana Tezuka sekarang ?

Fuji mencorat-coret buku catatannya sembarangan, membuat pola-pola melingkar dengan garis yang ditariknya tanpa maksud tertentu. Matanya tertuju pada kata yang masih bebas dari tanda silang.

Di mana ? kalau aku Tezuka, sekarang aku ada di mana ? Fuji terus-menerus menggumankan kata tanya ‘di mana’ dengan pelan untuk memaksa otaknya agar tetap berpikir.

Karena terlalu fokus pada dunianya sendiri, Fuji tidak sadar seseorang berjalan menghampiri dan berdiri selama beberapa saat di sebelahnya, menatap coretan tangannya dengan kening berkerut.

Kelas, perpustakaan, tempat latihan tennis.

Fuji membaca ketiga tempat itu berkali-kali.

Kelas, perpustakaan, tempat latihan tennis, kelas 3-6.

Ulang Fuji.

Eh, sebentar, tunggu dulu.

Fuji manatap buku catatannya dengan mata terbuka. Perhatiannya tertuju pada kata ‘kelas3-6’ yang jelas-jelas dikenali Fuji sebagai bukan tulisan tangannya dan memang ia tidak merasa pernah menulis kata itu.

Fuji memperhatikan huruf yang rapi, kaku dan terkesan seperti ketikan itu. Dan dengan segera Fuji mengenali siapa pemilik tulisan tangan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.

Tezuka ?” kata Fuji saat akhirnya menyadari kehadiran pendatang yang menerobos masuk alam pikirannya

tampaknya kau cukup bersenang-senang di alam pikiranmu” kata Tezuka menunjuk buku catatan di depan Fuji

ah, ha...ha...ha...” Fuji tersenyum menyadari Tezuka bisa menebak apa yang dilakukannya “hanya mengisi waktu senggang. Tadi aku sedikit bosan dan kupikir cukup menarik kalau bisa bermain sebentar saja”

menemukan permainan baru lagi ?”

yah, begitulah. Cukup menyenangkan, kau mau mencobanya juga ?” tawar Fuji sambil kembali memamerkan senyum malaikatnya.

tidak” jawab Tezuka tegas

ah, sayang sekali. Padahal kan ini menarik”

daripada itu, kalau kau punya waktu luang aku mau minta tolong”

apa ?”

ikut aku. Ada yang harus kukerjakan dan aku butuh bantuanmu”

oh, baiklah. Sebentar aku membereskan tas-ku dulu”

Fuji memasukkan buku catatan dan pensilnya ke dalam tas sebelum mengikuti Tezuka keluar kelas. Saat di ambang pintu Fuji bisa mendengar seruan Kikumaru padanya.

mau kemana nya ?”

Fuji tersenyum sebelum menjawab dengan ringan pertanyaan Kikumaru.

kencan”


--- bersambung ke part End ---


Harry Potter Magical Wand