Sabtu, 12 Februari 2011

(fanfic) Wake Up

Title : Wake UP (Sequel Body Talk n Change UR World)
Pair : Akame
Disclaimer : not mine T_T
Place : Jin City's with Kame
Music : Ultimate Wheels - KaT-TUN

A/N : Settingnya beberapa tahun kemudian (sedikit di luar kebiasaan q nulis tapi gpp-lah) awalnya cuma mo buat fic lepas n q pikir bisa selesai satu kali post tapi ternyata malah jadi panjang banget, berhubung Miss Akame (yang di dukung Santi n Srie) nodong sequel mulu, jadi sekalian ini aja di buat sequel deh. Q dapet ide dari komen miss akame yang pengen KaT-TUN n Jin konser bareng lagi, jadi sekalian menyelam, minum aer n nyari ikan, hohoho.... *d gampar* happy reading, girls (^_^)




Part 16


“Ne, Jin”

“Hmm?”

“Selamat ya, aku belum sempat mengucapkan selamat padamu kan”

“Thanks, Kazu” Akanishi tersenyum dan meraih kedua tangan Kame menariknya agar berdiri lebih dekat di depannya sementara dia sendiri bersandar antara duduk dan berdiri pada sebuah meja “Kamu tahu, rasanya lain sekali bisa berdri di atas panggung sendirian, semua lampu terfokus padaku”

“Oh ya, Aku ikut senang kalau kamu senang. Impian-mu selama ini akhirnya bisa terwujut, mulai sekarang kamu harus berjuang keras, karena tidak ada lagi yang bisa membantumu jika kamu melakukan kesalahan seperti melupakan lyrik lagu”

“Mou~ Kazuu~” Kame tertawa melihat Akanishi menekuk bibirnya sebal “Yah, aku juga merasa aneh, berdiri di panggung hanya dengan 5 orang....” lanjutnya dengan nada suram saat mengingat mereka tidak akan pernah bisa berdiri bersama lagi berdampingan.

“Kazu” bisik Akanishi merasa bersalah, bukan maksutnya untuk membuat Kame sedih, sesaat Akanishi berpikir ini merupakan kesempatan terbaik untuk meraih semua impiannya selama ini. Ya, semuanya tidak hanya sebagai penyanyi solo, tetapi juga impiannya yang lain, yang tidak pernah dikatakannya pada siapapun.

“Ah, tapi tidak apa-apa” sahut Kame segera “Mungkin awalnya memang sedikit aneh, tapi kurasa tidak masalah. Aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu di dekatku jadi.....” meski diucapkan dengan nada ceria tapi Akanishi bisa melihat kesedihan masih terpancar di mata Kame. Kame yang juga tahu jika tidak mungkin baginya untuk mengelabui Akanishi segera memalingkan wajah

“Kazu” Akanishi mengulurkan tangannya dan meraih wajah Kame agar menghadapnya “Hey, lihat aku. Aku juga ingin kamu berada di sampingku saat impianku terwujut. Selama ini, hanya kamu-lah yang selalu mendukung-ku tanpa ragu” lanjutnya dengan suara lembut sembari tersenyum “Kalau saja bisa, aku ingin mengajakmu”

“Aku juga ingin pergi denganmu” sahut Kame jujur. Jantungnya berdetak kencang dan tiba-tiba saja ia merasa sulit bernafas saat merasakan nafas Akanishi menyapu wajahnya.

“Ikutlah dengan-ku” bisik Akanishi perlahan membuat jarak di antara mereka semakin mengecil

“Aku tidak bisa” desah Kame

“Kenapa?!” suara Akanishi semakin rendah, jarak wajah mereka tidak lebih dari satu centimeter dan mau tidak mau pandangan Akanishi tertuju pada bibir Kame yang sedikit terbuka.

“Jin” bisik Kame hampir tak terdengar.

“Hmm?” Akanishi merasa kepalanya kosong dan berkabut, dia tidak bisa lagi mendengar, melihat atau merasakan sekeliling satu-satunya yang bisa di rasakannya hanyalah keberadaan Kame, suara Kame, aroma tubuh Kame. Perlahan Akanishi menunduk, nafasnya semakin berat, dengan mata setengah terpejam yang ada di dalam pikirannya hanya satu.....

.....trrrttt Trrrtttt TRRRTTTT

DUAK!!

“Iteee~” desis Akanishi saat lututnya membentur meja, membuat beberapa orang staf yang sedang bersiap menoleh heran ke arahnya.

“Akanishi-san?” salah seorang staf menghampirinya dengan cemas, takut kalau-kalau terjadi sesuatu padahal tidak kurang dari 30 menit lagi konser akan di mulai

“Ah, hahaha.... Sepertinya tadi aku tertidur” kata Akanishi tertawa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dalam hati merutuki siapapun itu yang mengirim pesan ke ponselnya sehinga menganggu mimpi indahnya.

Well, tidak sepenuhnya mimpi sih, setidaknya sampai dia bertanya pada Kame kenapa dia menolak untuk ikut dengannya. Akanishi menghela nafas mengingat apa yang dikatakan Kame saat itu, apalagi kalau bukan KAT-TUN, yeah, apa yang baru dari seorang Kamenashi Kazuya yang selalu menomorsatukan pekerjaan, apalagi jika sudah menyangkut nama band mereka itu. Saat itu meski Akanishi mendengarkan kalimat penjelasan Kame yang panjang lebar tapi dalam pikirannya sebenarnya dia membayangkan hal lain. Hal lain yang persis sama dengan apa yang diimpikannya barusan, dan kalau saja tidak ada getaran ponsel di saku yang membangunkannya rasa penasaran Akanishi akan terjawab meski hanya di dalam mimpi.

“I want to kiss him. Argh!!! Makin lama aku makin parah saja, untung aku sudah keluar dari KAT-TUN, kalau tidak entah apa yang akan ku lakukan” pikir Akanishi sembari mengeluarkan ponselnya, bersiap mengumpat siapapun itu yang mengirim pesan padanya.

Ya. Salah satu alasannya keluar adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Akanishi sudah lelah menyimpan perasaannya dan tidak yakin bisa mengontrol sikapnya jika berada terlalu dekat dengan Kame. Selain itu, Johnny mengatakan jika dia bisa sukses maka ada sedikit harapan untuk bisa bersama dengan orang yang paling penting dalam hidupnya itu. Bagaimanapun juga di Jepang samapai kapanpun mereka tidak akan bisa bersama, namun di Amerika kemungkinan itu ada meski hanya sedikit. Melupakan kenyataan paling penting jika Akanishi sama sekali belum memastikan perasaan Kame padanya, ia berpikir untuk mengadu keberuntungannya. Yah, Yamapi memberinya nama ‘Bakanishi’ juga bukan tanpa alasan. Dan itu terbukti saat Akanishi kembali membuat keributan dengan berteriak tiba-tiba saat melihat pesan yang diterimanya.

‘Bakanishi, aku mengajak Kame-chan datang hari ini. Ryo’

***

“Apa katamu barusan?” tanya Yamapi setengah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Yah, mendapat beberapa kejutan dalam satu hari bukan hal yang mudah untuk bisa berkompromi.

Pagi-pagi buta Yamapi sudah dibangunkan oleh telfon dari sahabatnya yang memaksa minta di jemput di Narita. Dalam perjalanan, masih shock dengan kepulangan Akanishi yang mendadak, Yamapi menerima berita lain dari Akanishi yang bercerita bahwa setelah konser selesai ia langsung pulang karena mendapat panggilan dari kantor untuk membahas posisinya di dalam KAT-TUN. Malam hari Akanishi mengajaknya clubbing seperti biasa dan lagi-lagi membawa berita yang mengejutkan jika dia sudah memikirkan semuanya dan memutuskan untuk keluar dari KAT-TUN. Dan terakhir di sinilah dia, mendengarkan rencana hebat hasil pemikiran sahabatnya itu.

“Iya, rencana yang bagus kan Pi?!” kata Akanishi bangga “Aku keluar dari KAT-TUN, setelah sukses dan punya nama di Amerika aku akan menetap di sana, Amerika negara bebas, setidaknya hubungan sesama jenis juga tidak terlalu dipersoalkan. Fans di sana juga tidak seperti di sini, jadi kalaupun aku terang-terangan mengumumkan mereka pasti tidak akan langsung memvonis, jadi kami bisa hidup bahagia selamanya. Ditambah lagi, aku tidak perlu menahan diri jika berada di dekat Kazu, dan aku juga tidak akan merepotkan yang lain lagi dengan keegoisanku. KAT-TUN tidak akan kesulitan lagi karena aku, Aku juga bisa meraih impianku untuk menyebarkan musik ku sebagai Akanishi Jin sekaligus hidup bersama Kazu. Semua impian-ku selama ini bisa terwujut. Perfect”

Yamapi memandang sahabatnya tanpa tahu harus berkomentar apa. Jadi selama ini selain motivasi ‘ingin bebas’ dan ‘ingin di kenal sebagai akanishi jin’ ternyata Akanishi menyimpan satu motivasi lagi yang lebih besar. Dan entah sejak kapan teman baiknya sejak SMP itu bisa membuat rencana yang bisa dikatakan ‘sekali mendayung dua tiga pulau terlewati’ Dalam hati Yamapi ikut senang jika semua hal yang di rencanakan sahabatnya itu berhasil, hanya saja ada satu masalah besar.....

“Jin” kata Yamapi sedikit tidak tega untuk mengatakan kelemahan rencana sempurna sahabatnya itu saat melihat senyum lebar yang terukir di wajahnya

“Ya? Kenapa? Rencana-ku ini sempurna kan? Aku bisa bertahan sampai sekarang karena aku selalu membayangkan suatu saat semua ini akan memberikan hasil. Bahkan Johnny-san juga tidak akan bisa menghalangi-ku lagi”

“Ya, memang sih, cuma ada satu masalah besar....”

“Apa? Maksut-mu keluarnya dari KAT-TUN? Tenang saja, lagipula memang ini yang terbaik, kalau akau datang dan pergi sesuka hatiku malah hanya akan merepotkan mereka. Aku akan menjelaskannya nanti.... kapan-kapan lah....” tambahnya sedikit tak yakin karena sampai saat itu keberaniannya untuk bertemu KT-TUN masih belum cukup dan kapan akan cukup pun dia tidak tahu.

“Bukan. Bukan itu yang kupikirkan” sahut Yamapi yang mengakui jika itu juga merupakan hal paling berat yang akan dihadapi Akanishi saat keputusan resmi keluarnya dia dari KAT-TUN beredar.

“Lalu apa?”

“Memangnya Kamenashi mau?” sela Ryo yang tiba-tiba saja sudah berada di sisi lain Akanishi

“Hah?” Akanishi berbalik memandang Ryo binggung sementara Yamapi menghela nafas dan memilih untuk menjadi pendengar, bersyukur bukan dia yang akan menghapus senyum lebar sahabatnya.

“Rencana sempurna-mu itu hanya berlaku jika Kamenashi mau atau dalam arti lain suka juga denganmu. Memangnya kamu sudah pernah mengatakan perasaanmu ke dia? Bisa saja dia hanya menganggapmu sebagai teman dan suka orang lain kan?”

Selama beberapa saat Akanishi hanya menatap Ryo dalam diam, berusaha mencerna kaliamat temannya itu. Setelah berhasil memahami seluruhnya perlahan-lahan ekspresi Akanishi berubah. Senyum kemenangan muncul di bibir Ryo sementara milik Akanishi menghilang dengan cepat berganti kekhawatiran.

Selama ini perasaannya hanya dia sendiri yang tahu. Tidak pernah sekalipun terucap karena Akanishi berpikir akan menyimpannya sendiri, yah mesti pada akhirnya membaginya bersama Yamapi dan Ryo. Impiannya untuk hidup bersama Kame kembali muncul saat Johnny memberinya tawaran untuk ber-solo karir di Amerika. Sebuah harapan terlintas di kepalanya, dan dengan segera Akanishi melupakan hal yang paling penting. Perasaan Kame. Semua itu tidak akan berguna jika Kame tidak menganggapnya sebagai orang yang spesial.

“PIIIIIII!!!!!” seru Akanishi meminta bantuan pada Yamapi saat tawa Ryo mulai terdengar “Bagaimana ini? aku lupa kalau aku tidak tahu apa Kazu menganggapku hanya sekedar teman atau tidak......”

“Yah, mungkin saja kamu malah tidak di anggap teman. Bukannya kamu sendiri tidak pernah memasukkannya dalam daftar teman” kata Ryo di sela-sela tawanya

“Aku tidak memasukkannya karena bagiku dia memang bukan teman. Dia lebih dari itu” sahut Akanishi melotot marah pada Ryo yang masih tidak peduli

“Ya tapi kan dia tidak tahu”

“Piii~” seru Akanishi akhirnya saat tidak bisa membalas kalimat Ryo

“Ryo, sudahlah” Yamapi mengusir Ryo dan menepuk pelan bahu Akanishi yang mulai merajuk dan sibuk berguman sendiri “Jin. Kamu kan tinggal menyatakannya, bereskan?” Akanishi hanya menatapnya dengan pandangan memelas

“Dia tidak akan berani” teriak Ryo menyeringai

“Diam kamu!” balas Akanishi kesal

“Sudahlah, meski kamu tidak bilang tapi kurasa Kame tahu” kata Yamapi menenangkan
“Benarkah?”

“Yah, dia kan tidak bodoh, semua orang juga tahu kalau melihat sikapmu padanya. Kurasa kamu juga bisa menerka sikapnya kan? Kalau tidak mana mungkin kamu sampai berani membuat rencana seperti ini?!”

“Iya sih, tapi aku tidak yakin. Kazu itu ‘poker face’-nya no satu di Jepang”

“Coba saja dulu”

“Kalau di tolak bilang ya, nanti kita rayakan” seru Ryo lagi

“RYOOOO!!!!!!!” Akanishi segera menghambur ke arah Ryo yang berlari sembari tertawa. Yamapi hanya menghela nafas melihat kelakuan kedua temannya, tapi detik berikutnya langsung berdiri dan segera mengejar mereka berdua.

“JIIINNN!!!! RYOOOO!!!! JANGAN KABUR KALIAN, BAYAR DULUUU!!!!” teriak Yamapi mengacuhkan bartender yang memanggilnya.

.................................

“Eh?” Shirota Yuu yang sedang asyik ngobrol dengan cewek menoleh saat merasakan seseorang menepuk bahunya, menatap bingung pada selembar kertas yang di sodorkan di depan wajahnya

“Apa ini?” gumannya mengambil kertas dan segera berteriak saat melihat jumlah angka yang tertera dalam kertas itu.


“JIN!! RYO!! PI!!! KU BUNUH KALIAN!!!!”

***

Kame duduk di antara Ueda dan Nakamaru, matanya menatap lurus ke arah panggung yang penuh dengan sorotan cahaya lampu. Ini memang bukan pertama kalinya dia melihat Akanishi berdiri di panggung, tapi ini pertama kalinya ia melihat Akanishi dari kursi penonton. Kame bisa melihat dengan jelas kegembiraan terpancar di wajah Akanishi. Dalam KAT-TUN, Kame tidak pernah melihatnya seperti ini. Mungkin Akanishi berusaha menekan dirinya sendiri karena image KAT-TUN adalah image 6 orang. Begitu juga lagu-lagunya, sangat sedikit kesempatan untuk menampilkan lagu dengan image sendiri.

Kame seolah melihat lagi Akanishi yang masih berumur belasan tahun. Akanishi yang selalu menjadi dirinya sendiri dan mempunyai mimpi setinggi langit. Sepertinya keluar dari KAT-TUN merupakan keputusan yang tepat. Kame tersenyum senang sekaligus bangga melihat performance Akanishi. Inilah Akanishi yang di sukainya, Akanishi dengan keceriaannya, semangatnya, kreatifitasnya, kebebasannya, ketidaksukaannya dengan ‘aturan’, dan juga ke’baka’annya. Tambah Kame ketika mendengar Akanishi membuat kesalahan saat menyanyikan Care.

Semua lagu yang dibawakannya menggambarkan dirinya dengan jelas. Mungkin karena itu Akanishi juga menyanyikannya dengan sepenuh hati. Akanishi pernah berkata padanya untuk mendengarkan lagunya, Kame menyadari bahwa yang di maksut Akanishi tidak hanya sekedar ‘mendengarkan’ tapi lebih dari itu, mencerna apa yang tersirat di dalamnya. Samar-samar, Kame menangkap pesan-pesan yang disampaikan Akanishi, pesan berupa harapan dan impiannya, pandangan, prinsip. Pesan yang tidak pernah bisa tersampaikan lewat kalimat biasa semuanya muncul dalam alunan musik dengan indah.

Saat mendengar Eternal mengalun tanpa sadar air mata Kame jatuh. Inikah impian Akanishi yang paling besar, impian untuk bersama dengan seseorang yang sangat berarti baginya. Tiba-tiba saja Kame dapat menghubungkan semua potongan puzzle dengan sempurna. Keluarnya Akanishi dari KAT-TUN, memusatkan kegiatan di USA, kontrak dengan label lain yang bukan di bawah JE, intro yang menyatakan Akanishi tidak ingin lagi di atur oleh siapapun lagi, jawabannya saat interview di televisi yang mengatakan jika dia menyukai seseorang dan terakhir memilih untuk mengeluarkan Eternal sebagai single pertama. Meski Kame yakin jika sepak terjang Akanishi tidak hanya akan berhenti sampai di sini saja.

‘Bolehkah aku berharap.....’ kata Kame dalam hati. Selama ini Kame selalu yakin dengan perasaannya dan sedikit bisa membaca perasaan Akanishi, tapi sifat Akanishi yang terkadang tiba-tiba mengacuhkannya tanpa sebab selalu membuat Kame kembali mempertanyakan kembali apa yang diperkirakannya benar atau tidak. Berkali-kali sikap Akanishi padanya membuat Kame menaruh harapan tapi detik berikutnya dia kembali dihempaskan dalam kebimbangan.

Air mata masih terus mengalir tanpa henti. Nakamaru dan Ueda mamperhatikan anggota termuda dalam band mereka dengan cemas, namun tidak mengatakan apa-apa. Mereka, termasuk Kame yang tenggelam dalam pikirannya sendiri, tidak menyadari jika sejak tadi, sejak awal konser di mulai Akanishi yang berada di atas panggung berkali-kali melihat ke arah mereka. Ryo menjadi satu-satunya orang yang menyadari sikap Akanishi ini menghela nafas ketika melihat ekspresi terkejut temannya itu saat mengetahui Kame menangis.

“Baka. Meskipun dari jauh seperti ini pun kamu masih tetap bisa melihat Kame dengan jelas, tapi kenapa kamu tidak bisa melihatnya saat dia berada di dekatmu?!”


to be continued.....


A/N2:
I know I already said one last part, but somehow this ended too long, so I must cut it in here.... next is really the last part. Hope this part not failed, I feel like this part is failed one... T^T
and happy reading.....

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand