Senin, 24 Januari 2011

(fanfic) Wake Up

Title : Wake UP (Sequel Body Talk n Change UR World)
Pair : Akame
Disclaimer : not mine T_T
Place : Jin City's with Kame
Music : CN Blue - I Don't Know Why

A/N : Settingnya beberapa tahun kemudian (sedikit di luar kebiasaan q nulis tapi gpp-lah) awalnya cuma mo buat fic lepas n q pikir bisa selesai satu kali post tapi ternyata malah jadi panjang banget, berhubung Miss Akame (yang di dukung Santi n Srie) nodong sequel mulu, jadi sekalian ini aja di buat sequel deh. Q dapet ide dari komen miss akame yang pengen KaT-TUN n Jin konser bareng lagi, jadi sekalian menyelam, minum aer n nyari ikan, hohoho.... *d gampar* happy reading, girls (^_^)




Part 14


“Cheerss!!!!” seru Akanishi, Ryo dan teman-temannya sembari saling membenturkan gelas ditangan mereka. Hari itu selesai konser Akanishi, mereka memutuskan untuk sedikit bersenang-senang melihat-lihat Osaka dan berakhir di sebuah club.

“Let’s dance” kata Joey yang segera diikuti seruan setuju yang lain dan segera pergi meninggalkan bar. Hanya Akanishi dan Ryo yang masih tetap duduk di tempatnya dan kembali memesan minuman.

“Tidak ke sana?” tanya Akanishi sambil lalu

“Kamu sendiri?” balas Ryo

“Nah, nanti sajalah. Hei, ayo kita telfon Pi” tiba-tiba saja Akanishi mendapat ide yang langsung disambut oleh Ryo dengan seringai. Apalagi kalau bukan untuk mengganggu temannya yang sedang sibuk dengan konsernya di sana sementara mereka bisa pamer berpesta di sini.

“PIIIIIIIIII!!!!!!!!” seru Akanishi setelah terdengar sahutan suara sahabatnya dari seberang.

“BAKANISHI!! Mau membuat telingaku sakit ya!!” maki Yamapi “Ada apa? Di mana kamu? Kenapa ribut sekali?!”

“Club?!”

“Ngapain kamu ke club??!!”

“Clubbing?!!”

“Di tengah-tengah konser??!!!”

“Konsernya sudah selesai kok dari tadi”

“Tapi besok masih ada kan??!!!”

“Sudahlah Pi, biar saja, akan kupastikan dia masih utuh saat konser besok” sela Ryo

“Ryo?!” Yamapi memastikan suara yang didengarnya

“Yeah?!”

“Kalian berdua? Siapa saja yang ada di situ?!”

“Yuu, Joey, Josh, Beni, Jeanne, Juice, Bobby, Cathie, biasalah....” sahut Ryo malas mengabsen satu-satu “Semua ada kok, Cuma kamu yang ilang” lanjutnya bertukar seringai dengan Akanishi

“What?!! Kalian pesta tanpaku??!! Kejaaammm!!!!!!” protes Yamapi yang di sahut tawa kedua temannya

“Kamu di Thailand, Pi”

“Tapi kan tetap saja, kalian bersenang-senang sementara aku di sini kerja keras”

“That’s your problem, buddy” sahut Akanishi

“Right” tambah Ryo

“Awas kalian, lihat saja, tidak akan kubelikan oleh-oleh”

“Terlambat Pi, kamu sudah beli” kata Ryo santai sembari mengisi ulang gelasnya

“Yeah, kamu selalu beli oleh-oleh di hari pertama agar tidak perlu repot jika sudah waktunya pulang” lanjut Akanishi mencontoh apa yang dilakukan Ryo.

“Whatever. Anyway, bagaimana konsermu tadi?!” tanya Yamapi mengalihkan pembicaraan agar kedua temannya tidak bisa memamerkan ‘pesta’ mereka lagi.

“Cool. Tanya saja Ryo, tadi dia datang, Nee, Ryo-chan”

“Yup. So cool! He make 2 shoot in one night”

“Hah?!”

“Just see the news next morning, you will know”

“C’mon guys, I don’t have time, just tell me okey?!”

“Okey. Ada dua, yang satu ringan yang satu lumayan, pilih yang mana dulu yang kamu ingin dengar” Ryo menghabiskan isi gelasnya dan meminta isi ulang pada bertender bersamaan dengan Akanishi yang juga mengacungkan gelas kosong di tangannya.

“Yang ringan” jawab Yamapi

“Ok. Bakanishi mengumumkan di berita nasional kalau dia suka seseorang yang menurut ‘peraturan’ itu tidak boleh dilakukan”

“What?!”

“Yah, kalau dicerna dari kalimatnya sih, bahkan dia juga bilang kalau dulu pernah pacaran, yang juga melanggar ‘peraturan’ karena JE melarang semua artisnya punya hubungan khusus dengan siapapun, kalau aku tidak salah ingat kontrak yang ku tandatangani dulu itu” lanjut Ryo santai meraih gelasnya dan menendang kaki Akanishi “Bilang apa kamu tadi di Interview?!”

“He? Apa ya... ah.. “Renai ha shitenai, 2-3 nen mae kara, demo suki na hito ha imasu”?!” jawab Akanishi mengingat-ingat kalimatnya sendiri

“Kamu bilang apa?!” seru Yamapi

“Yah, kalau tidak salah sih tadi kira-kira seperti itu” sahut Akanishi acuh

“Okey...” sahut Yamapi mulai cemas “Tadi kamu bilang ada yang lumayan kan Ryo?!”

“Ah-ha”

“Apa?”

“Di konser Jin menyatakan kalau dia sudah berhenti jadi boneka orang lain, siapapun itu”

Akanishi dan Ryo bertukar pandang saat terdengar suara ribut dari ponsel yang sengaja mereka letakkan di meja dengan fungsi pengeras suara. Selama beberapa saat hanya suara tak jelas yang mereka dengar sebelum akhirnya suara Yamapi kembali muncul

“Shit!” maki Yamapi sembari mengusap-usap siku dan lututnya yang tadi terbentur lantai dan meja saat terjatuh setelah mendengar kalimat Ryo “We need talk!!” kata Yamapi serius

“Bukannya dari tadi kita ngobrol ya?” sahut Akanishi

“Jin. Aku serius”

“It’s ok, Pi” sela Ryo “Biar kuatasi, kamu pikirkan saja konsermu”

“Yeah, Ryo. Kamu ada di sana dan si bodoh itu tetap bisa bicara seperti itu, cara mengatasi yang bagus”

“Bukan salahku, mana aku tahu kalau dia mau bilang begitu. Aku kan tidak tahu detil jalannya konser. Aku cuma guesst”

“Yeah, sorry”

“I decited Pi. I will fight for my freedom and stood wth my own foot so I can say in front of that oyaji if I already free from him and take my precious one with me, because I can protect him from anything not like now when I can do anything beside shout to the annoyed stupid yarakashi” sela Akanishi yang tahu kemana arah pembicaraan kedua temannya akan berakhir

“Tapi ada cara lain kan Jin?! Kenapa sih kamu selalu memilih jalan yang terberat?!”

“I am sick Pi. I had enought with this. Say this, do that, act like this, don’t be like that, what the hell?! I am not a puppet doll!!”

“Yeah, tapi itu juga yang sudah membuat kita jadi seperti ini, terkenal, kaya tapi juga menderita dalam kasusmu” kata Yamapi yang paham sekali dengan sifat sahabatnya. Akanishi tipe orang yang bebas dan tidak tahan jika di batasi ruang geraknya, tipe yang akan meloncat kesana kemari untuk mencoba sampai di mana batas kemampuannya.

“Sudahlah Pi, percuma saja, kamu tahu Jin tidak akan mendengarkan apapun yang kita katakan” sela Ryo yang juga paham sifat temannya yang selalu akan melakukan apa yang ingin dilakukannya. “Dia tahu pasti apa yang dihadapinya, iya kan?!”

“Aku tahu. Aku sudah memutuskan.Now or never”

“Be carefull Jin, ano oyaji tidak mudah dihadapi” Ryo menepuk bahu Akanishi sementara terdengar suara desahan pasrah Yamapi dari seberang.

“Just, remember. Kami selalu akan ada di pihakmu”

“Yeah, Thanks”

***

“HAH??!!” Ueda dan Koki memandang Nakamaru dengan kening berkerut tak paham, sementara Taguchi berpikir apa Nakamaru tadi mengatakan bahasa manusia atau bukan.

Nakamaru mengulangi kalimatnya tapi tidak lagi menggunakan bahasa Inggris, tadinya dia berniat mengatakan ulang sama persis seperti yang di ucapkan Akanishi tapi berubah pikiran dan menggantinya dengan bahasa Jepang karena tidak ada yang paham dengan pengucapan bahasa inggrisnya yang tidak jauh beda dengan kemampuan Taguchi membaca situasi.

“Apa itu? lyrik lagumu yang baru?” tanya Taguchi masih tidak paham

“Bukan, kalian tidak dengar tentang pernyataan Akanishi di konser kemarin?! Itu tadi kalimatnya, aku cuma mengulang” sahut Nakamaru

“Oh, pantas tiba-tiba kamu muncul langsung nyerocos pakai bahasa inggris, ku kira salah makan apa” kata Koki yang mendapat tatapan protes dari Nakamaru

“Aku serius Koki”

“Tapi jimusho masih tenang-tenang saja tuh”

“Entahlah, tapi aku cemas” Nakamaru menghempaskan tubuhnya ke kursi

“Kenapa sih dengan anak itu?! Selalu saja cari masalah, tidak bisa tenang sedikit apa?!” Baru dia yang berontak seperti ini”

“Mungkin itu ciri khasnya, lagian karena sifatnya itu banyak yang mendukungnya kan. Meski terlihat semaunya sendiri dan egois tapi kenyataannya dia disukai banyak orang. Lihat saja teman-temannya, mereka mau berdiri di depan Akanishi dengan sukarela” sela Ueda

“Tapi, apa maksutnya dengan berkata seperti itu?” tanya Koki

“Baru konser hari pertama di Jepang dia sudah buat gebrakan seperti ini, gimana selanjutnya nanti” kata Nakamaru yang mau tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi terhadap mantan anggota band-nya itu.

“Kurasa dia sudah tahu apa resikonya” jawab Ueda

“Hallo, ini Bakanishi kan yang kita bicarakan?” Koki menatap Ueda tak percaya “Sejak kapan dia berpikir sebelum bertindak?”

“Koki, kamu pikir dia akan bisa seperti saat ini kalau dia benar-benar ‘baka’?” Ueda balik bertanya, tersenyum saat Koki dan Nakamaru bertukar pandang “Mungkin dia bertindak sesuai apa yang pertama terlintas di kepalanya, tapi dia juga tahu kesempatan mana yang harus di ambil untuk mewujutkan apa yang ada di kepalanya itu”

“Yah, kalau kamu bilang begitu.....” Nakamaru menghela nafas menyadari apa yang dikatakan Ueda benar. “Aku hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa......”

“Aku kadang iri dengannya” kata Koki tiba-tiba “Dia selalu bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya”

“Tapi dia juga berkorban banyak untuk mendapatkannya” lanjut Ueda

“Yeah, benar. Dan itu yang lebih membuatku iri. Dia berani menanggung resiko apapun untuk segala keputusannya. Kurasa aku tidak berani sampai sejauh itu”

“Siapapun yang punya pikiran sehat tidakakan berani melakukan hal seperti itu” sahut Nakamaru menghibur yang disertai anggukan setuju Ueda. Bagaimanapun juga mantan A mereka itu tidak bisa dikatakan sebagai orang yang ‘berpikiran sehat’ mengingat logikanya yang kadang random.

“Ne, ne” seru Taguchi tiba-tiba sembari menunjuk layar televisi yang entah sejak kapan dinyalakan “Lihat itu”

Nakamaru, Koki dan Ueda mendapati wajah orang yang mereka bicarakan terpampang dengan jelas di layar lengkap dengan fedora hitam kesukaannya. Selama beberapa saat mereka hanya mendengarkan apa yang dibacakan pembawa berita mengenai jalannya konser Akanishi kemarin, namun saat sampai pada bagian interview dengan Akanishi, serentak mata dan mulut mereka terbuka lebar mendengar apa yang dikatakannya dengan senyum childish khas di wajahnya.

“Bakanishi!!” seru mereka bersamaan, kecuali Taguchi yang berguman sendiri

“He~ kira-kira siapa yaaa..... apa mungkin Kame-chan?!!!”

***

I'm sitting here today because of the decision I've made
so these are my last words for all of you I've betrayed
the ones who love it, when I fit their world
who scream and cry now, saying “he's out of control”
since I can remember you've told me what to do
the way I talk, the way I act, the way I tie my shoe
but even then I know I had the right to decide
scared of punnisment, I hid it deep inside
and I'm excited for my sins, then fuck it
cause I no longger want to be anyone's puppet.


to be continued.....


A/N2: short?! I know, because that I make double up date nee~ *wink*

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand