Minggu, 21 November 2010

(fanfic) Wake Up

Title : Wake UP (Sequel Body Talk n Change UR World)
Pair : Akame
Disclaimer : not mine T_T
Place : Jin City's with Kame
Music : Kazuya Kamenashi - Kizuna

A/N : Settingnya beberapa tahun kemudian (sedikit di luar kebiasaan q nulis tapi gpp-lah) awalnya cuma mo buat fic lepas n q pikir bisa selesai satu kali post tapi ternyata malah jadi panjang banget, berhubung Miss Akame (yang di dukung Santi n Srie) nodong sequel mulu, jadi sekalian ini aja di buat sequel deh. Q dapet ide dari komen miss akame yang pengen KaT-TUN n Jin konser bareng lagi, jadi sekalian menyelam, minum aer n nyari ikan, hohoho.... *d gampar* happy reading, girls (^_^)




Part 6

“Auch!” seru Akanishi sembari memegangi kepalanya “Shit!”

“Sudah bangun?!” Akanishi mendongak dan menemukan Yamapi yang mengangsurkan segelas air putih dan sebutir aspirin padanya sembari tersenyum.

“Thanks” guman Akanishi menerima pemberian Yamapi. Kepalanya terasa sangat sakit, dia juga tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam dengan jelas. Terakhir hal yang diingatnya adalah pernyataan rasa sukanya pada Kame ke Yamapi. Akanishi menggelengkan kepalanya berpikir semalam dia minum terlalu banyak.

“Ryo sedang membuat sarapan” Yamapi mengambil kembali gelas yang sudah kosong dari tangn Akanishi dan melangkah keluar kamar “Sebaiknya cepat cuci muka dan turun kalau tidak ingin kepalamu tambah sakit gara-gara mendengar teriakan Ryo”

“PII!!!! Bangunkan Bakanishi! Kita ada jadwal pagi, kalau dia masih ingin tidur suruh tidur di rumahnya sendiri” teriakan Ryo terdengar tepat setelah Yamapi selesai mengucapkan nasehatnya, membuat dua efek berbeda pada kedua sahabat itu, Yamapi tertawa sementara Akanishi menggerutu tak jelas.

“PIII!!!!!” seru Ryo lagi

“Iya, iya. Jin sudah bangun kok” balas Yamapi berteriak sembari berlari turun

“Baguslah! Suruh dia turun kalau mau makan. Atau biar saja dia di atas, bahaya kalau berat badannya nambah lagi”

“RYO!!!!” teriak Akanishi membuat tawa Yamapi semakin keras “Aku dengar semua kata-katamu!!! Aku tidak gemuk tahu!!!”

“BAKA! Aku tidak bilang begitu, berarti kamu tidak dengar kalimatku”

“Siapa yang kamu sebut ‘BAKA’ hah?!!!” dengan kesal Akanishi segera meloncat dari tempat tidur dan menghambur turun sebelum Ryo sempat membalas kalimatnya lagi.

“Ohayou~” seru Yuu saat melihat Akanishi muncul di ambang pintu ruang makan “Nah, sekarang sudah lengkap semua kan, Ayo makan” serunya senang. Akanishi yang memang lapar segera duduk di kursi dengan senang hati, melupakan kalau tadi dia kesal dan mengacuhkan komentar pedas Ryo.

“Itadakimassuuu~” seru mereka berempat bersamaan setelah masing-masing duduk menghadapi sepiring nasi goreng spesial Ryo dan segelas kopi buatan Yuu.

***

“Kame-chan” seru Koki ceria saat melihat Kame melangkah masuk ke ruangan KaT-TUN “Tumben telat, Maru saja sudah datang dari tadi” Koki menunjuk Maru yang segera memukul kepalanya sebagai protes

“Heh, maaf ya, tapi aku kan sudah tidak pegang rekor telat lagi beberapa tahun terakhir, pemegang rekor telat yang baru kan Ak...” Nakamru tidak melanjutkan kalimatnya saat menyadari nama siapa yang hendak meluncur keluar

“AHRG!!!!” teriak Taguchi tiba-tiba,membuat Koki dan Kame terkejut sementara Nakamaru berucap syukur meski terkejut juga “Game Over, sialan!!” kata Taguchi meratapi nasib tokoh pilihannya yang mati di tangan monster

“Kamu ini pagi-pagi sudah bikin jantungan” Koki memukul kepala Taguchi diikuti Nakamaru dan Ueda yang memandang Kame heran

“Kamu tidak ingin menghajar dia juga?” tanya Ueda yang tentu saja mendapat protes dari Taguchi

“Kejam! Kenapa sih kalian suka memukulku?!” keluh Taguchi

“Soalnya kalau di-‘hina’ itu bagian-nya Maru” jawab Koki sekenanya

“WOI!” seru Nakamaru tidak terima

“Sudah-sudah, jangan ribut, jadal kita pagi ini apa?” tanya Ueda “Apa?” lanjutnya saat mendapat tatapan tak percaya dari teman-temannya.

“Uepi, kamu kan leader masa tidak tahu jadwal kita” kata Taguchi yang kembali mendapat pukulan dari Ueda

“Siapa bilang?! Aku sudah berhenti bertahun-tahun yang lalu. Lagian sejak kapan kita punya leader hah?! Sejak kapan juga kalian mau menuruti kata-kata orang lain?!”

“Aku kan cuma bercanda” sahut Taguchi mengusap kepalanya yang masih sakit “Lalu, Kame, apa jadwal kita hari ini?”

PLAK!!

Untuk kesekian kalinya Taguchi mendapat pukulan, kali ini dari Ueda, Koki, Nakamaru dan Kame masing-masing satu sebelum mereka meninggalkan Taguchi begitu saja di dalam ruangan dan pergi menuju studio karena shooting PV single terbaru mereka akan dimulai.

“Chotto matte!” seru Taguchi yang segera berlari menyusul.

“Kalian duluan, aku mau ke kamar mandi dulu” kata Koki yang segera berlari tanpa menunggu jawaban.

“Mau di tinggal?” tanya Nakamaru

“Kita tunggu saja” jawab Kame “Paling juga sebentar, lebih enak kalau ramai-ramai”

“Baiklah” sahut Taguchi tersenyum

“Kalau begitu ku susul deh” kata Ueda “Aku juga mau ke kamar mandi”

“Jangan lama-lama ya” seru Nakamaru yang hanya di balas dengan lambaian tangan oleh Ueda.

Ueda berlari kecil di koridor, langkahnya terhenti saat melihat Koki berdiri mematung tak jauh darinya. Perlahan Ueda menghampiri, niat awalnya untuk mengejutkan koki, tapi tiba-tiba saja kakinya berhenti bergerak secara otomatis saat mendengar sebuah suara yang amat di kenalnya.

“Just keep in your track. Goon with your solo but don’t leave”

‘Akanishi’ pikir Ueda ‘Jadi dia ada juga di sini, sedang bicara dengan siapa?’

“Uh-huh, lihat siapa yang bilang?!”

‘Yamashita’ kata Ueda dalam hati saat mendengar suara lawan bicaranya. Belum sempat dia berpikir lebih jauh suara Akanishi kembali terdengar

“Just trust me this time, Pi ... Or you will regret it”

“Jin?!”

Setelah itu Ueda hanya samar-samar mendengarkan percakapan antara Yamapi dan Ryo. Matanya menatap lurus ke arah punggung Koki yang berada di depannya, berpikir sejak kapan temannya itu mendengar percakapan tadi dan apa yang ada di dalam kepalanya sekarang. Sejak peristiwa di Dome, seolah ada peraturan tak terucap di anatara mereka untuk tidak membicarakan masalah kepergian Akanishi. Meski dalam manual, interview dan sejenisnya Ueda berkata akan men-support apapun keputusan mantan teman satu band-nya itu, namun belum pernah sekalipun mereka bertemu muka secara langsung. Saat berjanji akan makan bersama Nakamaru dan Akanishi beberapa hari yang lalu-pun Ueda secara kebetulan tidak bisa datang sehingga membatalkan tiba-tiba, hal mana yang Ueda sendiri tidak tahu harus bersyukur atau menyesal.

“Koki. Ayo cepat” Teriakan Taguchi menyadarkan Ueda. Melihat ekspresi Koki yang terkejut saat melihatnya Ueda memutuskan untuk tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu, setidaknya untuk saat ini.

“Ue...”

“Sssttt!” Desis Ueda sembari meletakkan telunjuknya di depan bibir, melirik jam tangannya dan mendahului Koki menghampiri Taguchi yang asyik mengobrol dengan Nakamaru dan Kame “Ayo, nanti kita telat”

***

“Ne, Jin. Kapan kamu berangkat?” tanya Yamapi memperhatikan Akanishi yang mondar-mandir menge-pak koper

“Lusa” jawab Akanishi singkat

“Aku tidak bisa mengantarmu loh, news ada kerjaan” kata Yamapi lagi

“Aku tahu. Tidak perlu kok. Aku bisa ke Narita sendiri”

“Yakin? Nanti kamu kesasar”

“Memangnya aku anak kecil! Sudahlah, daripada kamu ribut merecoki terus lebih baik bantu aku menge-pak barang, mana sih Ryo? Aku kan sudah menyuruhnya untuk bantu juga” gerutu Akanishi kesal

“Dia masih ada kerjaan dengan Kanjani” sahut yamapi yang akhirnya berdiri, tapi bukannya membantu malah berjalan menuju dapur, memeriksa isi lemari es kalau-kalau ada yang bisa di makan.

“PI!!!” seru Akanishi “Aku mengajakmu ke rumah untuk membantu, bukannya malah menghabiskan stok makan-ku!”

“Alah, paling juga dua hari lagi kamu tinggal, daripada mubazir” jawab Yamapi cuek “Lagian, biasanya juga kamu beres-beres sendiri kan?!”

Akanishi berguman tak jelas tahu kalau sia-sia saja mengharapkan bantuan dari Yamapi, terakhir kali dia pergi untuk konser ke LA memang dia tidak minta bantuan temannya untuk membereskan barang-barang. Saat itu, yang membantunya adalah.... Kame.

Ya, meski Kame sendiri juga sibuk dengan persiapan Asia Tour KAT-TUN, tapi dengan senang hati Kame rela mengorbankan waktunya untuk membantu Akanishi dan untunglah seperti itu karena saat itu Akanishi kehabisan waktu dan masih harus membuat satu lagu lagi untuk konsernya. Dengan bantuan Kame, Akanishi bisa berkonsentrasi membuat lagu sementara Kame yang mengurus segala keperluannya.

“Ne, Jin”

“Apalagi?! Kalau tidak niat bantu diam saja!”

“Heh, begitu caramu bicara dengan sahabat yang sangat setia menemanimu ini?!”

“Pi. Please, aku tidak mau kelupaan sesuatu hanya gara-gara saat menge-pak sambil berbicara denganmu”

“Terserah kamu saja” Yamapi mengangkat bahunya acuh “Cuma, sebagai sahabat aku hanya ingin memberi sedikit masukan”

“Apa?!”

“Kamu yakin, mau pergi seperti ini?”

Akanishi menghentikan kesibukannya dan menatap Yamapi yang balik memandangnya.

“Apa maksutmu?”

“Kamu ingat apa yang terjadi semalam?”

“Ya” jawab Akanishi ragu-ragu “Setidaknya aku ingat semuanya dengan jelas sampai setelah aku mengatakan padamu kalau.....”

“Setelah itu?” potong Yamapi saat melihat ekspresi Akanishi yang terlihat susah hendak menyebut nama Kame

“Tidak” kata Akanishi akhirnya setelah lama terdiam “Memangnya apa yang kulakukan?” lanjutnya sembari berpikir. Tidak mungkin parah kan? Kalau benar dia mabuk sampai parah pasti pagi tadi namanya sudah terpampang di halaman depan surat kabar seperti yang sudah-sudah, meski yang sudah-sudah itupun tidak semuanya benar.

“Jin, seumur hidupku menjadi sahabatmu, aku tidak pernah melihatmu mabuk, kurasa toleransi alkohol-mu jauh lebih baik dariku, dan sampai saat ini aku hanya pernah melihatmu mabuk parah seperti kemarin dua kali”

“.......” Akanishi memandang Yamapi dengan tatapan tak paham

“Pertama, 3 tahun yang lalu. Kurasa kamu tahu kapan tepatnya” Yamapi melanjutkan saat Akanishi hanya diam “Dan yang kedua, kemarin malam”

“So?” tanya Akanishi

“Pergi dan katakan yang sebenarnya” sela Ryo yang tiba-tiba berdiri di belakang Akanishi “Pintu depan terbuka, jadi aku masuk saja” lanjutnya saat melihat tatapan terkejut dari Yamapi dan Akanishi

“Ryo”

“Daripada itu. Aku setuju dengan Pi, Jin. Kalau kamu pergi dalam keadaan seperti ini, kelak kamu pasti akan menyesal. Lanjutkan apa yang ingin kamu katakan padanya semalam”

“Hah?”

“Ryo, dia kan tidak ingat” Yamapi tertawa melihat wajah Akanishi yang kebingungan

“Oh, maaf. aku lupa semalam kamu mabuk berat” sahut Ryo tanpa merasa bersalah “Yah, kalau kamu ingin tahu apa yang terjadi semalam, kusarankan kamu temui dia dan tanya padanya. Percaya padaku, semalam kamu melakukan hal yang.....”

Ryo menggantungkan kalimatnya dan membuat gerakan yang menggambarkan bahwa Akanishi melakukan hal yang benar-benar ‘parah’ membuat Yamapi tertawa dan Akansihi memucat, memikirkan kemungkinan-kemungkinan hal yang akan dilakukannya dalam kondisi mabuk.

“Kamu bercanda kan Ryo?!”

“Menurutmu?!” Ryo menyeringai

“Oh, Shit!”

“Yeah, Shit!” ulang Ryo masih menyeringai

“Aku tidak bilang kalau....”

“Aha? Kalau apa?” kata Ryo lagi

“Great!” umpat Akanishi yang segera berlari keluar diiringi tawa keras Yamapi dan Ryo “God. Apa aku mengatakan–nya pada Kazu? Apa aku mengucapkan kalimat itu? kalimat yang seharusnya bahkan tidak boleh kupikirkan? God, Please. Kazu”

Sepeninggal Akanishi, Ryo dan Yamapi memutuskan untuk membantu Akanishi menghabiskan stock bir di dalam lemari es.

“Ne, Ryo. Menurutmu mereka akan baik-baik saja?”

“Dulu juga begitu kan? Kalau kita tidak memaksa Jin, dia tidak akan berani menghadapi Kame secara langsung. Dia itu berani menghadapi apapun kecuali Kame”

“Iya juga sih. Dulu, saat pertama kali mengenal Kame aku tidak suka dengannya. Aku merasa dia mengambil semua perhatian Jin, selalu mengekor di belakang Jin. Tapi sekarang aku bersyukur dia bertemu Kame, setidaknya ada yang cukup mau bersabar dengan sifat-nya”

“Jangan terlalu memuji Kame, kita juga patut di puji, buktinya selama ini kita bisa bertahan jadi temannya”

“Benar juga” Yamapi tertawa “Cheers?!”

“Cheers!!”


to be continued....


A/N: Not AKAME moment yet *grin* Sorry, I am still busy, I must go to outside city so, when I am back, I will try to make up. Nah, I must go now, see you next chap, ciao~ *wink*

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand