Jumat, 29 Oktober 2010

(fanfic) Wake Up

Title : Wake UP (Sequel Body Talk n Change UR World)
Pair : Akame
Disclaimer : not mine T_T
Place : Jin City's with Kame
Music : NewS - Endless Summer

A/N : Settingnya beberapa tahun kemudian (sedikit di luar kebiasaan q nulis tapi gpp-lah) awalnya cuma mo buat fic lepas n q pikir bisa selesai satu kali post tapi ternyata malah jadi panjang banget, berhubung Miss Akame (yang di dukung Santi n Srie) nodong sequel mulu, jadi sekalian ini aja di buat sequel deh. Q dapet ide dari komen miss akame yang pengen KaT-TUN n Jin konser bareng lagi, jadi sekalian menyelam, minum aer n nyari ikan, hohoho.... *d gampar* happy reading, girls (^_^)



Part 2

“Huwaaa~ capek sekali” keluh Koki setelah mereka mengnjak ruang ganti

“Ada-ada saja, waktu mereka bilang akan mendatangkan guest spesial di hari terakhir kupikir siapa, ternyata malah Akanishi” kata Ueda sembari berganti pakaian

“Ku kira aku sudah dapat serangan jantung tadi waktu dia muncul” sahut Nakamaru “ngomong-ngomong mana dia? Kok tidak ada?”

“Kame-chan juga tidak ada” Koki mengedarkan pandangannya dan memang anggota termuda mereka itu tidak nampak di manapun

“Biasalah. Dulu juga sering kan. Mereka itu kalau menghilang barengan, malah tidak aneh sama sekali”

“Oh, melepas rindu ya” guman Koki tak peduli dan mulai mencari-cari botol minumnya

“Junno, ngapain kamu?” tanya Nakamaru yang melihat Taguchi sibuk menggerutu

“Akanishi tidak mau mengajariku cara ber-apparete dan dis-apparate”

“Hah?” Nakamaru menatap Koki kalau-kalau dia paham apa yang di maksut Taguchi, tapi yang dilihat hanya mengangkat bahu acuh.

“Sudah, kamu main game saja sana” kata Ueda memberikan DS Taguchi yang dengan segera di sambutnya dengan gembira.

Tidak perlu waktu lama untuk Taguchi tenggelam dalam gamenya sementara Koki, Ueda dan Nakamaru mulai taruhan mengenai kemungkinan-kemungkinan kegiatan vokalis utama dan mantan vokalis utama mereka yang menghilang entah kemana.

***

“Ne, Kazu, kamu marah ya?” tanya Akanishi

“Tidak. kenapa, merasa berbuat salah?”

“Iya iya, aku tahu seharusnya aku bilang padamu kalau mereka memintaku tampil sebagai guest di konser kalian, tapi aku benar-benar lupa. Beneran, pemberitauannya juga tiba-tiba kok” Akanishi beralasan

“Lalu, kenapa Pi bisa mengantarmu ke sini?”

“Ya, waktu aku mau berangkat kemarin, aku menelfon Pi dan katanya dia bisa saja menjemputku di bandara dan mengantar ke sini, kebetulan dia ada kerjaan di sekitar sini jadi sekalian....”

“Kenapa kamu bisa menelfon Pi tapi lupa menelfon-ku?!”

“Ah, itu...itu...”

“Sudah, aku mau ke ruang ganti bersama yang lain”

Kame melangkah kesal, selalu seperti ini. Meski Akanishi selalu mengatakan dia yang terpenting buatnya, tapi selalu saja tiap kali dia menjadi orang yang terakhir tahu kegiatannya. Pi, Pi, Pi, selalu Yamapi yang tahu lebih dulu. Sahabat sih sahabat, di anggep sodara sih sodara tapi kan tetap harusnya dia yang lebih tahu mengenai Akanishi.

Akanishi menghela nafas dan membiarkan Kame pergi, tidak ada gunanya bicara dengan Kame yang sedang kesal. Karena dia toh tidak perlu ganti baju, maka Akanishi memilih untuk menunggu di tempat parkir sambil merokok.

Beberapa menit kemudian KaT-TUN keluar, Akanishi mematikan rokoknya dan berdiri menyapa Koki yang berjalan paling depan.

“Yo, kali ini buat masalah apa?” tanya Koki menyeringai

“Cerewet” guman Akanishi mendelik ke arah Koki yang masuk ke dalam mobilnya “Nakamaru, mau ikut tidak? cepat sedikit, aku ada janji kencan nih”

“Iya iya, sabar” Nakamaru berlari melewati Akanishi, menyempatkan diri menepuk bahu Akanishi untuk bersimpati karena dilihat sekilas juga sudah jelas kalau Kame sedang marah padanya.

“Taguchi! Hoi!” Akanishi melemparkan kaset DS yang segera di tangkap Taguchi dengan senang hati “Aku tidak tahu apa maksutmu dengan avante apalah tadi, tapi itu pesananmu kemarin, bersyukurlah aku tidak lupa”

“Sugoi!! Aku sudah lama cari-cari ini. Thanks Akanishi” seru Taguchi senang dan segera masuk ke dalam mobil Ueda, tentu saja dengan DS di tangannya.

“WOI!!” seru Koki menjulurkan kepala dari jendela “Kenapa cuma Junno, oleh-oleh buatku mana?” Nakamaru dan Ueda ikut menatapnya protes.

“Sudah ku masukkan ke mobilmu, liat saja di jok belakang” sahut Akanishi acuh

Koki dan Nakamaru segera berbalik sementara Ueda segera ikut memeriksa jok belakang mobilnya, masing-masing menemukan sebuah bungkusan yang dengan segera membuat mata mereka bersinar cerah

“Thanks Akanishi” seru Nakamaru dan Ueda bersamaan

“Wah, sering-sering aja kamu tour ke luar negeri” sahut Koki nyegir senang “Sudah ya, aku pulang dulu, thanks”

“Aku juga pulang dulu” kata Ueda setelah mobil Koki menghilang “Berapa lama kamu di Jepang?”

“Belum tahu”

“Pokoknya baikan secepat mungkin” Ueda menepuk bahu Akanishi kemudian meluncur pergi dengan mobilnya, meninggalkan Kame dan Akanishi berdua.

“Minggir” kata Kame

“Aku ikut denganmu ya” pinta Akanishi

“Minta Pi saja buat menjemputmu, biasanya juga begitu kan?!”

“Kazu, Pleasee~. Kita lama tidak ketemu, masa kamu mau bertengkar denganku cuma gara-gara hal seperti ini” Karena Kame hanya diam, maka Akanishi berinisiatif untuk mengambil kunci mobil di tangan Kame “Biar aku yang bawa”

Masih dengan muka ditekuk Kame masuk ke dalam mobil dan membiarkan Akanishi yang mengendarai entah ke mana. Selain kesal dia juga lelah, cara Akanishi yang memang mahir mengendarai mobil membuat Kame merasa mengantuk sehingga tidak perlu waktu lama dia sudah tertidur.

***

Akanishi melihat Kame sekilas, tersenyum saat menyadari bahwa Kame tertidur kelelahan. Dulu mereka sering seperti ini, setiap kali pulang reharsal, latihan, meeting atau pemotretan Kame selalu tidur di dalam mobil, jadwal Kame memang sedikit lebih padat dari mereka, jadi saat pekerjaan mereka sama Akanishi selalu menawarkan diri untuk mengantar jemput Kame supaya dia bisa sedikit beristirahat meski sebentar.

Sejak keluar dari KAT-TUN dan memfokuskan kegiatan di LA, Akanishi tidak pernah lagi melakukan rutinitas lamanya. Selain karena dia sendiri hanya beberapa saat di Jepang, mobilnya juga sudah di ambil alih oleh Reio, adiknya, dengan alasan sudah jarang di pakai dan kalau mau pergi Yamapi, Ryo atau Yuu akan bersedia memberinya tumpangan. Berdoa semoga Kame masih tinggal di apartement lamanya, apartementnya juga sudah berpindah tangan karena sering kosong, Akanishi menyusuri rute yang sudah hafal di luar kepala dan sudah lama tidak pernah dilewatinya.

“Kazu” kata Akanishi pelan “Kazu”

Kame membuka matanya dan melihat sekeliling dengan binggung

“Ern, kamu masih tinggal di sini kan? Belum pindah?” tanya Akanishi ragu-ragu

Kame menatap Akanishi dengan pandangan bertanya, tidak begitu paham dengan kalimat yang diucapkannya. Setelah kesadarannya kembali Kame barulah Kame menyadari jika dia sudah ada di tempat parkir apartement

“Baka! Tentu saja masih. Kalau pindah aku pasti akan memberitahumu”

“Oh, syukurlah” sahut Akanishi lega, dia sendiri sedikit lelah karena menyebrangi setengah benua sehingga malas kalau di suruh menyopir lagi “Uhm, tidak masuk?”

“Kamu mau nunmpang di tempatku?”

“Aku tidak memberitahu keluargaku kalau aku pulang” jawab Akanishi tersenyum salah tingkah “Kupikir, aku mau tinggal di tempatmu saja selama aku di Jepang, lebih praktis. Maksutku, lebih dekat dengan jimusho dan aku tidak perlu repot ke rumahmu kalu ingin bertemu” tambah Akanishi buru-buru saat melihat Kame mengangkat alisnya.

“Ya sudah. Ayo masuk. Ta...”

KRIYUUUKKK!!!!

Kame tidak melanjutkan kalimat dan kembali mengangkat alisnya saat mendengar perut Akanishi berbunyi

“Ehe, Aku lapar...hehehe....” Akanishi tertawa sedikit nerveous takut jika Kame bertambah marah, namun saat mendengar suara Kame yang tertawa mendengar kalimatnya Akanishi segera mengucap syukur. Tahu bahwa Kame sudah tidak kesal lagi padanya dan juga bahwa dia akan mendapatkan makanan saat mendengar kalimat Kame berikutnya.

“Ayo, kubuatkan makanan. Kare atau mau Nasi goreng? Atau pasta?”

“Apa sajalah, yang penting makan” sahut Akanishi senang mengekor di belakang kame meninggalkan area parkir “Masakan buatanmu kan enak semua”


to be continue.....

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand