Minggu, 24 Januari 2010

(fanfic) Way of Love

Way of Love

Disclaimer: not mine, hiks *sad*
Pair: The Best pair in the world, Akame (Akanishi x Kamenashi)
Music: Crystal Kay feat Akanishi Jin ~ Hepless Night
Location: in Akame world
Rating: safe *proud*


Warning: Weird Language (a/n: first time I want write in English but I’m realize It’s impossible with my english ability is poor. So, hontou ni gomenasai...... *smack in head*. Oh, and I know I don’t finished Gokusen club yet, but I can let this idea gone, I promise to finish soon, please don’t beat me) m(_ _)m
Warning 2: this fic is divide to 2 part with 2 side, Jin POV and the other is Kame POV. Part 1 title is On my mind and part 2 title is On your mind –please come back to me-. (ps: I love epilog part <3)>



Kame side
Chapter 2 Please come back to me


Sejak kepergian Jin aku menyibukkan diri dengan pekerjaan, hanya itulah caraku agar tidak terlalu memikirkan kekosongan tempat dalam diriku sendiri karena ketiadaan Jin. Sudah lama aku curiga dengan keputusannya, tapi aku memilih diam dan hanya menduga-duga, banyak rumor yang beredar jika study abroad bukan benar-benar menjadi alasan fital kepergiannya. Banyak yang mangatakan bahwa akulah satu-satunya yang tahu dan memegang kunci alasan kepergian Jin. Well it’s wrong, aku sama tidak tahunya dengan mereka.

Kuakui aku memang tahu study abroad bukan alasan utama Jin, karena dari apa yang kulihat, meski optimis mengenainya tapi Jin tidak kelihatan se-senang itu saat mengatakannya pada kami, alasan lain yang bisa kupirkan adalah He want a privacy. Jin memang berulangkali berkata lelah dengan media yang tidak memberi privasi pada kehidupannya, tapi aku tahu dia juga menikmati menjadi perhatian, menyanyi dan sebagainya.

Satu-satunya orang yang kupikir pasti tahu alasan sebenarnya Jin pergi sama sekali tidak mau buka mulut, yeah thank toYamaP, he realy a great friend, sampai terkadang membuatku ingin menghajarnya. Setiap kali ada yang menyinggung topik ini dia pasti akan mengalihkan pembicaraan atau just simple silent. Pembicaraanku di telfon dengan Jin malam sebelum dia berangkat juga sama sekali tidak memberiku petunjuk apapun.

“NY?” tanyaku tak percaya saat mendengar berita dari Ueda

“Ya, dan katanya mereka juga sudah memberi tahu Akanishi mengenai kegiatan kita di New York”

“Eh? Jin? Memangnya dia ikut pemotretan untuk photobook juga, ini untuk cartoon KAT-TUN kan?” tanyaku

“Bukan! Memangnya kamu belum tahu? Setelah selesai pemotretan kita ada ‘pertemuan’ dengan Akanishi untuk membahas posisinya dalam KAT-TUN”

“Apa? Mereka tidak akan mengeluarkan Jin kan? KAT-TUN bukan KAT-TUN jika hilang satu” sahutku

“Aku juga merasakan hal yang sama Kame, tapi management berpikiran lain, kita masih tetap bisa eksis meski hanya berlima karena itulah kita mengadakan ‘rapat’ untuk membahas posisi Akanishi. Kudengar pihak management sudah memberinya pilihan untuk kembali atau........”

“Siapa yang kembali?” Koki memotong kalimat Ueda, di belakangnya Junno dan Maru memandang kami ingin tahu “Apa yang kalian bicarakan, aku dengar nama KAT-TUN disebut-sebut, apa kita punya job baru?”

“Apa cuma aku yang diberi tahu?” sahut Ueda kesal

“Well, you the leader, tidak anehkan?”

“Ex-leader” ralat Ueda sebelum mengulang penjelasannya. Aku sudah tidak mendengarkan lagi. Dalam hati aku senang tidak lama lagi bisa bertemu dengan Jin, tapi aku juga merasa takut akan jawaban yang diberikan Jin, mungkinkah Jin menolak, karena dari yang kulihat, dia benar-benar menikmati kehidupannya di LA.

Belajar di universitas, hang out dengan teman tanpa peduli pers, kehidupan bebas yang selalu didambakannya sejak masuk Johnny’s. Just ordinary people. Itulah yang selalu dikatakannya, dia lelah menjadi idola yang selalu diikuti pers untuk di ekspos kehidupan pribadinya.

Lamunanku terpecah saat mendengar suara pintu dibanting, dengan heran aku memandang Junno dan Maru yang bertukar pandang dan Ueda yang terlihat lelah, sesaat aku tidak menyadari sampai akhirnya aku sadar Koki tidak ada dalam ruangan yang berarti tadi Kokilah yang keluar sembari membanting pintu.

“Ada apa?” tanyaku bingung. Maru dan Junno hanya mengangkat bahu dan menghela nafas sebelum keluar ruangan, aku menatap Ueda menuntut penjelasan.

“Don’t ask me” sahut Ueda sembari keluar meninggalkanku tanpa petunjuk apa yang baru saja terjadi. Pertanyaanku terjawab malam harinya saat tanpa sengaja aku bertemu dengan Pi

“So, Kame-chan, care to inform me about your team re-act?”

“What re-act?” tanyaku tak paham

“Eh? Kudengar Koki marah-marah lagi karena ulah my baka bestfriend yang sekarang nasibnya sedang di ujung tanduk”

“What do you mean?”

“You don’t know?” saat aku menggelengkan kepala sebagai tanggapan, Pi hanya berguman sebelum berbalik pergi “Well, lupakan saja, anggap aku tidak tanya”

“Wait Pi!!! Can you explain? Please I beg you”

“Well, I don’t know Kame-chan....”

“Please Pi. Please. Bulan depan kami ada pemotretan untuk photobook di NY dan....Well, it’s about Jin, right? Please tell me Pi, I want to know, just tell me. Please”

“Yah......., Okey, baiklah ku mulai dari awal. Beberapa hari yang lalu Jin menelfonku dan.....”

“He call you?” tanyaku sedikit iri. Semenjak Jin di LA, minggu-minggu awal memang kami masih sering bicara melalui telfon, tapi akhir-akhir ini sama sekali tidak. Selalu Pi, kenapa dia masih berhubungan dengan Pi tapi tidak denganku?!

“Don’t be jealous”

“I am not. Lanjutkan!”

“Okey. So, Jin call me and dia bilang pihak management menanyainya tentang kembali ke KAT-TUN. Dia bilang dia masih bingung. Pertama dia pergi begitu saja setelah kalian debut dan menikmati kehidupannya di LA sementara kalian di sini kesulitan mengisi kekosongan yang ditinggalkannya, jadi dia merasa tidak enak jika tiba-tiba saja meminta kalian menerimanya kembali setelah semua yang dilakukannya dan toh selama ini kalian masih bisa tetap eksis meski hanya berlima”

“Aku masih tidak paham”

“Mungkin kamu masih ingat saat pergi Jin belum memikirkan akan kembali atau tidak, tapi belakangan dia berpikir kalau dia tidak bisa melupakanmu maksutku melupakan kalian, KAT-TUN, begitu saja, jadi dia berpikir apa kalian mau menerimanya kembali jika dia bilang mau kembali, dan pihak management mengatakan akan melihat perkembangannya dulu. Tentu saja mereka juga akan mengikutsertakan pilihan kalian sebagai pertimbangan, itu juga kalau Jin benar-benar niat kembali”

“Lalu”

“Saat dikonfirmasi lagi, ternyata Jin masih tetap tidak bisa memutuskan, mungkin karena perasaan bersalahnya pergi begitu saja. Karena itu pihak management memutuskan akan mempertemukan kalian ber-enam setelah kalian selesai pemotretan di NY, Jin akan ke NY dari LA. Kurasa ini juga sudah diberitahukan pada kalian, jadi menurutku mungkin Koki marah karena Jin masih ragu dan tidak percaya jika kalian mau menerimanya lagi, atau tidak?. Karena itu aku tadi tanya padamu”

“Setelah itu?”

“Apanya?”

“Setelah kamu tanya dan dapat jawabannya kamu akan memberi tahu Jin?”

“Hmm, sebenarnya, dia yang memintaku untuk.....”

“Just tell to him, bukan hanya Koki tapi aku juga marah padanya” potongku dan pergi meninggalkan YamaP.

Jin really piss me off with his bakaness, how dare he don’t believe me, KAT-TUN, we’re not mean anything for him. Kami berusaha keras selama ini sembari menantinya kembali, meski egois, kami percaya Jin akan kembali pada kami. Karena itu kami berusaha agar kelak saat Jin kembali, kami bisa dengan bangga mengatakan bahwa kami berhasil menjaga KAT-TUN, menjaga rumah tempat kita untuk pulang. Tidak heran Koki marah, aku sendiri kecewa, serendah itukah Jin berpikir tentang kami? Tidak menerimanya? What the hell!!! KAT-TUN it’s not KAT-TUN without A.

Selama ini yang kupikirkan hanya Jin. Setiap kali bertengkar dan Jin pergi, tak lama kemudian dia pasti kembali, selalu seperti itu. Aku membiarkannya pergi ke LA dengan keyakinan yang sama, aku percaya dia akan kembali lagi. Tidak peduli berapa kalipun dia pergi asalkan pada akhirnya dia kembali aku tidak akan marah, aku akan selalu menunggunya sampai kapanpun. Kenapa dia tidak percaya padaku? Aku selalu berharap satu hal, please come back to me Jin, don’t leave me alone.

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand