Sabtu, 23 Januari 2010

(fanfic) Way of Love

Way of Love

Disclaimer: not mine, hiks *sad*
Pair: The Best pair in the world, Akame (Akanishi x Kamenashi)
Music: Crystal Kay feat Akanishi Jin ~ Hepless Night
Location: in Akame world
Rating: safe *proud*


Warning: Weird Language (a/n: first time I want write in English but I’m realize It’s impossible with my english ability is poor. So, hontou ni gomenasai...... *smack in head*. Oh, and I know I don’t finished Gokusen club yet, but I can let this idea gone, I promise to finish soon, please don’t beat me) m(_ _)m
Warning 2: this fic is divide to 2 part with 2 side, Jin POV and the other is Kame POV. Part 1 title is On my mind and part 2 title is On your mind –please come back to me-. (ps: I love epilog part <3)>



Jin Side
Chapter 2 I am sorry but I must leave you


“WHAT???” seruku tak percaya

“You dengar apa yang kukatakan Akanishi. Pilihannya kuserahkan padamu, pikirkan baik-baik. You bisa pergi sekarang”

“Ah, yes. Thanks” Aku keluar dari ruangan Johnny-san.

‘It real?’ Pikirku masih tak percaya, ‘Dia menawariku untuk belajar ke luar negeri, hal yang memang sudah lama aku inginkan. Tapi KAT-TUN baru saja debut, kepergianku bisa berakibat fatal untuk KAT-TUN. Bukannya aku tidak menyadari maksut sebenarnya Johnny-san mengirimku ke LA tapi, jika Johnny-san sendiri yang mengatur, berarti tidak akan ada masalah yang akan menimpa KAT-TUN kan? Sudah pasti Johnny-san juga tidak ingin mengalami kerugian. Haruskah aku senang? Arghh!!!!’

“Damn Pi!!! Berkat nama pemberianmu, aku jadi benar-benar tidak bisa berpikir” runtukku dan segera pergi untuk mencarinya

“So? You accept it?” tanya Pi “You know clearly what about this right?”

“Yeah, I know. It’s my fault too, not to accept the damn warn and this must supposed to be punnisment, but, damn, he make me accept this, study abroud Pi, you know I am realy want it, aren’t you?”

“Yeah, he realy know his way, well he the bos afterall. So, LA?”

“Yeah, aku sudah mengurus semua administrasinya, aku juga sudah dapat apartement di sana, tinggal berangkat saja”

“Are you sure Jin?”

“...Don’t know, maybe.....”

“Jin”

“I know, sorry, just......”

“Kamu belum mengatakannya pada yang lain? Kame-chan?”

“Sebenarnya itu yang jadi masalah. Aku tidak peduli reaksi yang lain, tapi Kazu..... Damn Pi, aku takut kalau dia marah padaku”

“You are really selfis bastard, hah!!!” kata Pi tertawa “Kamu bahkan sama sekali tidak memikirkan nasib KAT-TUN jika mereka hancur, yang kamu pikirkan cuma Kame-chan? Aku selalu heran kenapa aku bisa menjadi temanmu sekian lama, kamu egois, self-center, keras kepala.....”

“Hei!!!! I care about KAT-TUN too okey, just... aku yakin Johnny-san punya rencana sendiri untuk menjaga agar KAT-TUN tidak hancur, dan mengenai kamu bisa tahan berteman denganku, kerena aku baik hati dan really care with my friend, akui sajalah” seruku protes with a grin in my face.

“Yeah yeah. Good luck when you tell this info to the rest. I hope you still alive after that, I will miss my Baka friend if you not”

Itulah yang dikatakan Pi saat aku mengatakan keputusanku padanya. Kami tertawa berdua sembari minum bir sampai pagi, aku berusaha menyiapkan diriku sendiri untuk menghadapi bagaimanapun tanggapan dari KT-TUN saat aku mengatakannya hanya 2 minggu setelah aku menyampaikan perasaan-ku lewat surat pada mereka. Setidaknya, aku menghadapi dari depan, tidak lari dan menyerah kalah. Ini jawaban-ku, keputusan yang ku buat yang kupikir paling baik untuk semuanya. Untuk KAT-TUN dan diriku sendiri, untuk Kazu.

Dan di hari H, sesuai dugaanku, Koki keluar meninggalkanku setelah melampiaskan kekesalannya pada dinding, I feel sorry for that wall, begitu pula yang lain, hanya saja di luar dugaan, Kazu tetap tinggal dan tersenyum menghiburku, bahkan tidak menyalahkanku sedikitpun atas pilihan yang kubuat. Aku bersyukur karenanya, dalam hati aku mengingatkan diriku sendiri untuk meminta Pi agar alasan sebenarnya kepergianku dirahasiakan. Aku tidak ingin senyum Kazu menghilang, apapun akan kulakukan agar senyum itu tetap terlihat meski itu berarti aku harus pergi ke kutub selatan sekalipun, aku tidak peduli.

Malam hari sebelum konfrensi pers resmi kepergianku, seluruh anggota KAT-TUN berkumpul di rumahku, thank too Kazu yang berhasil membujuk yang lain untuk berfikir dengan kepala dingin. Awalnya aku dan Koki masih tetap berteriak-teriak emosi, tapi setelah Kazu mulai menunjukkan tanda-tanda habis kesabaran dan Ueda menatap kami dalam diam dengan pandangan yang mengatakan ‘tenang atau kuhajar kalian berdua’ akhirnya kami bisa berbicara dengan baik.

“So? It’s finnal right? We can’t do anything to change your thing. Mau apa lagi, kita jalani saja” kata Koki menyamankan diri di salah satu sofa milikku.

“Yah, kalau memang itu pilihanmu, seperti kata Kame, ini impianmu, jadi kami tidak berhak untuk menghalangi, lagipula kami tahu, sekali kamu menetapkan pilihan, apapun yang kami katakan toh tidak akan kamu pedulikan” Kata Maru sembari meraih potato chip miliknya tapi detik berikutnya marah-marah karena ternyata habis “Siapa yang makan punyaku hah?!!”

“Berusahalah, masalah KAT-TUN biar kami yang atasi” kata Ueda mengacuhkan Maru “Lagipula kalau Johnny-san sudah menyetujui berarti dia juga sudah memikirkan ini baik-baik. Tapi aku minta maaf tidak bisa menemanimu konfrensi pers besok, aku ada pekerjaan dengan mouse pad”

“Tidak masalah” sahutku sambil menghindari bantal yang dilempar Maru setelah dia tahu aku dan Koki yang menghabiskan camilan bagiannya “Kalian tidak marah denganku saja aku sudah senang, lagipula besok ada Maru dan Junno”

“Yeah, aku juga minta maaf, kalau bisa sih aku mau datang” sahut Koki menendang bantal yang di lempar Maru ke arahnya “Lalu, meski aku tidak yakin kenapa aku tanya ini tapi aku tanya saja, kamu tidak selamanya di LA kan?”

“Entahlah, aku juga belum tahu” sahutku memperhatikan ekspresi Kazu, entah sejak kapan Kazu menjadi ahli menggunakan poker face. Aku sama sekali tidak bisa menduga apa yang dipikirkannya. Kazu sudah minta maaf paling awal padaku karena besok shooting dorama terbarunya akan dimulai.

“Nee, Akanishi” sela Junno tiba-tiba “Natal dan tahun baru pulang kan?”

“Hah?” tanyaku tak paham

“Kamu pikir liburan sekolah?” sela Koki

“Kenapa memangnya?” tanya Maru, Ueda dan Kazu ikut memandang Junno penasaran.

“Oh, cuma tanya, kalau pulang, jangan lupa bawa oleh-oleh ya. Aku mau kaos dengan tulisan LA” jawab Junno sambil tersenyum, membuat kami berlima berpikir mana yang lebih baik antara membunuh atau menguburnya hidup-hidup.

“JUNNOOOOO!!!!!!” seru kami berlima serempak

“What?”

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand