Minggu, 17 Januari 2010

(fanfic) Way of Love

Way of Love

Disclaimer: not mine, hiks *sad*
Pair: The Best pair in the world, Akame (Akanishi x Kamenashi)
Music: Crystal Kay feat Akanishi Jin ~ Hepless Night
Location: in Akame world
Rating: safe *proud*


Warning: Weird Language (a/n: first time I want write in English but I’m realize It’s impossible with my english ability is poor. So, hontou ni gomenasai...... *smack in head*. Oh, and I know I don’t finished Gokusen club yet, but I can let this idea gone, I promise to finish soon, please don’t beat me) m(_ _)m
Warning 2: this fic is divide to 2 part with 2 side, Jin POV and the other is Kame POV. Part 1 title is On my mind and part 2 title is On your mind –please come back to me-. (ps: I love epilog part <3)>





Part 2 ~ On your Mine –Please come back to me-


Kame side
Chapter 1 Don’t leave me, please!!!!


Aneh. Kata itulah yang terus terlintas di kepalaku jika melihat sikap Jin akhir-akhir ini. Perubahan Mood yang mendadak dari-nya sudah bukan hal yang baru, tapi beberapa hari terakhir ini aku menyadari jika Jin terus menerus mencuri kesempatan untuk memperhatikanku, ketika bersama yang lain, dia really annoyed and akan ikut mengerjaiku bersama Koki atau Maru bahkan Junno, seperti saat pembuatan PV single ke-2 kami, berkali-kali mereka mengatakan ‘Ka~me’ dengan nada yang benar-benar membuatku kesal. Namun, jika di suatu kesempatan kami hanya berdua, Jin lebih sering out of mind, berada dalam dunianya sendiri.

“Ne, Jin, Kiita~” protesku saat menyadari tatapan dreamingly Jin

“Hah? Kau bilang apa tadi Kazu? Sorry” sahutnya tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Mou ii kara” sahutku sedikit kesal

“I am sorry oke” kata Jin sembari menusuk pipiku pelan dengan telunjuknya “Nee, dont pout, you really look like a girl you know”

“I am not”

“Okey, your not. Sorry. So what do say again, Han...I mean Kazu, hmm?”

“Who is Han-somewho again? Your new girlfriend? Are you just dreaming about her even you with me?” kataku berusaha terdengar biasa

“It’s nothing. Why? Are you jealous or something?”

“No. Why am I?” aku meraih gelasku dan berusaha bersikap tidak peduli meski dalam hati terus mengulang kalimat yang sama ‘I am not jealous. I am not jealous. I am not jealous’

“Okey, you’re not. So, what do you say then?” sahut Jin with a smirk in his lips membuat jantungku berdetak semakin cepat ‘Bagaimana kalau dia tahu?’

“It’s obvious isn’t?” kataku sembari berdoa semoga poker face-ku sempurna

“What is not obvious?”

“They don’t told you?”

“Who not told me?”

“Jin!!!”

“What?”

“Are you really that stupid?”

“Hey! I am not!!!”

“What I mean is all of the warning about us”

“What warning?”

“Warning about we act too close lately and they, I mean the office don’t want that thing so they’re warn me about don’t too act very close with you in both camera on or off. They don’t warn you? I am surpraised”

“Oh, that. I had got too, wait....yeah, more about third time exactly with the last is yesterday, maybe” jawab Jin tidak peduli

“So?”

“So what?”

“Are we not to fill it?”

“Oh, c’mon Kazu. Who are they? told to us to be distance. We already close each other for what? 8 years? Beside the fans kind of like it, you know too the akakame thing don’t you?”

“But Jin, It’s from Johhny-san himself, I scared if.....well you know about Takki-senpai and Imai-senpai, I just...”

“It’s okey Kazu. I promise you anything will be alright”

Honestly, mengacuhkan peringatan yang kami peroleh, aku menikmati semua sikap Jin, meski aku tahu seharusnya aku tidak boleh merasa senang, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tersenyum setiap kali merasakan pandangan Jin tertuju padaku. Just to me. Wow. Ayolah, it’s Jin, the one who I love, mana mungkin aku tidak merasa senang? Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak mendengarkan logika-ku. Saat itu aku merasa senang dan tidak lagi berpikir ulang akan akibat yang sebenarnya sudah berkali-kali menghantui-ku, aku memilih untuk mengacuhkannya. Sampai akhirnya, seperti yang selalu kukhawatirkan, kebiasaan baru Jin kali ini menyebabkan, sekali lagi, bukan hanya aku dan Jin, tapi KAT-TUN dalam kondisi krisis, bahkan mendekati hancur.

Aku merasa senang saat mendengar ucapan terima kasih Jin lewat surat di 24 jikan terebi. Aku merasakan sebuah ikatan, bukan hanya aku dan Jin tapi juga dengan semua anggota KAT-TUN. Aku benar-benar merasa KAT-TUN sebuah keluarga yang saling mengerti dan mengisi. Karena itulah aku benar-benar terkejut saat tiba-tiba saja mendengar keputusan Jin untuk study abroad tak lama setelahnya.

“Apa katamu?” seru Koki

“Kau bercandakan Akanishi?” tanya Maru

“I am serius Maru. Aku akan pergi ke LA”

“Tapi kenapa? Kenapa sekarang? Setelah akhirnya kita debut? Kita baru saja debut Akanishi kalau kamu lupa baru 6 bulan yang lalu”

“Aku tahu Maru, makanya aku minta maaf, ak...

“Akanishi” potong Ueda “Kamu paham pengaruhnya kepergianmu pada KAT-TUN kan? Kamu tidak se-egois yang kukira sampai rela mengorbankan kami demi dirimu sendiri?”

“I am sorry” sahut Jin pelan “I am really sorry”

“Bullshit!!!!!” seru Koki sembari menghantam dinding dan keluar ruangan disusul yang lain.

Aku hanya diam. Setelah suara mereka tidak terdengar lagi, perlahan aku menutup pintu sebelum kembali menaruh perhatian pada Jin yang sekarang duduk sambari menopang kepalanya dengan kedua lengan. Bagiku Jin lebih terlihat seperti frustasi dibandingkan gembira karena salah satu impiannya hampir terwujut.

“Jin” kataku pelan

“It’s oke Kazu. You can mad at me too, you can leave me too, it’s oke, this time defenly my fault” sahutnya tanpa melihat ke arahku

“No. I am not mad to you. I am supries, yes, but I am not mad. I can understand your choice Jin”

“You can?” aku tersenyum saat Jin menatapku tak percaya

“You not mad to me?” aku kembali tersenyum dan mengangguk untuk meyakinkannya

“Why? You supposed to mad to me Kazu, I ruin all of...”

“Shhh...” aku menempelkan jari telunjukku di bibirnya untuk membuatnya berhenti bicara “You ask why? Because I know you Jin. I know since we child you want to study, so now when you get chance to full it and you accept it, I can undertand and off course I can’t mad with that, it’s your dream right? I supposed to cheer you not blame you, it’s not friend eksis for? To support?”

“But....”

“It’s okey. You told me to trust you Jin, so I trust you. It’s your choice, about KAT-TUN, well I will thing about that later, just believe me too about this. I am sure the other will understand too, I’ll talk with they too later. Just promise me one. It’s your realy choice right? So, do your best. I am always support you where ever you are. Just remember that”

“Thanks Kazu. It’s mean a lot for me”

I just smile. Saat itu aku tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi alasan Jin untuk pergi. Aku berusaha bersikap tegar dan tersenyum meski dalam hati aku ingin menangis dan berteriak pada Jin agar jangan pergi. Bukan karena memikirkan kelangsungan KAT-TUN, tapi lebih karena aku tidak ingin berpisah dengannya.

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand