Sabtu, 16 Januari 2010

(fanfic) Way of Love

Way of Love

Disclaimer: not mine, hiks *sad*
Pair: The Best pair in the world, Akame (Akanishi x Kamenashi)
Music: Crystal Kay feat Akanishi Jin ~ Hepless Night
Location: in Akame world
Rating: safe *proud*


Warning: Weird Language (a/n: first time I want write in English but I’m realize It’s impossible with my english ability is poor. So, hontou ni gomenasai...... *smack in head*. Oh, and I know I don’t finished Gokusen club yet, but I can let this idea gone, I promise to finish soon, please don’t beat me) m(_ _)m
Warning 2: this fic is divide to 2 part with 2 side, Jin POV and the other is Kame POV. Part 1 title is On my mind and part 2 title is On your mind –please come back to me-. (ps: I love epilog part <3)>





Part 2 ~ On your Mine –Please come back to me-



Jin side
Prolog ~ Our Story


“Kazu”

Kazuya memandangku dengan tatapan bertanya, aku hanya menyeringai sebagai jawaban dan tertawa saat dia memprotes mengatakan agar jangan memanggilnya jika tidak ada keperluan. Ya, selama beberapa hari ini memang aku terus menerus memanggilnya tanpa ada maksut tertentu, aku hanya senang karena aku bisa memanggilnya dengan namanya dan hanya aku yang memanggilnya seperti itu, oke, kecuali keluarganya.

Kazuya. Aku ingin mengucapkannya berkali-kali dan berharap tidak ada orang lain yang akan mengucapkannya selain aku. Kebanyakan orang memanggilnya Kame atau Kame-chan, seperti aku dulu, tapi setelah mendapat ijin dari yang bersangkutan akhirnya aku bisa menggunakan Kazu. Dari Kamenashi menjadi Kame dan sekarang Kazu, dan hanya aku yang memanggilnya seperti itu, entah kenapa aku merasa senang sekali.

“Ne, Bakanishi. Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”

Aku berpaling dan menemukan wajah YamaP menyeringai ke arahku. Sembari berguman kesal aku segera menyusul anggota kelompok-ku ke ruang ganti yang memang disediakan staf untuk kami. Ya hari ini kami ada acara di sebuah stasiun televisi dalam suatu acara musik. YamaP masih mengekor di belakangku, membuatku sadar setelah beberapa menit dan bertanya padanya kenapa dia juga ada di tempat ini.

“Hah? Kamu baru sadar ya. Aku di sini dalam rangka promosi Shuuji to Akira. Lihat seragam yang kupakaikan?”

Aku memperhatikan pakaian YamaP, memang dia memakai seragam sekolah yang digunakannya dalam drama Nobuta bersama Kame, ah bukan maksutku Kazu, ya Kazuya. Berusaha acuh aku hanya berguman ‘oh’ pelan. Entah kenapa tiba-tiba saja mood-ku jadi turun, aku jadi tidak semangat.

Mood-ku bertambah buruk saat di tengah-tengah acara Kazu sibuk berlari kesana kemari dengan mengganti kemejanya dari kemeja putih biasa yang dikenakannya dengan seragam sekolah seperti YamaP. Meski yang lain tertawa melihat Kazu yang dipermainkan pembawa acara karena berulang kali memanggil ‘Kame’ dan ‘Shuuji’ bergantian seolah mereka 2 orang yang berbeda, tapi aku sama sekali tidak bisa tertawa, bahkan untuk menarik sudut bibirku sedikit agar tersenyum-pun sama sekali tidak bisa.

Selama beberapa hari mood-ku tidak bertambah baik dan semakin memburuk, bahkan sampai beredar gosip bahwa Aku dan Kazu bertengkar, setiap kali bertemu kami pasti akan adu mulut. Itu tidak benar, aku sama sekali tidak bertengkar dengannya, kami masih tetap akrab seperti biasa bahkan hanya Kazu yang bisa menghadapi perubahan mood-ku yang hampir membuat Ueda naik darah. Koki sudah habis kesabaran paling awal sementara Maru dan Junno lebih memilih untuk mengacuhkanku jika mood-ku mulai memburuk.

Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkannya, setiap kali bersama KAT-TUN, selama ada Kazu maka keadaan akan tetap terkendali, tapi jika tidak maka tamatlah riwayatku. Seperti ketika aku hanya pergi bertiga dengan Ryo dan YamaP makan siang. Begitu mendengar lagu ‘seishun Amigo’ tiba-tiba saja mood-ku berubah buruk, Pi yang memang sudah sering mengalami -karena aku memang sering bersama dengan Pi dan dia sudah berkali-kali jadi korban sasaran perubahan mood-ku- hanya diam saja. Tapi Ryo yang memang pada dasarnya kalau bicara tajam berakhir dengan adu pendapat denganku yang memang selain tidak suka kalah jadi mudah marah karena bad mood.

Aku dan Ryo masih saling mengecam, mengacuhkan YamaP yang berusaha menengahi kami saat KAT-TUN –tentu saja minus aku- memasuki tempat kami berada. Aku mendengar Pi berucap syukur dan segera menghampiri Kazu untuk minta tolong yang celakanya malah membuatku semakin marah, meski aku tidak tahu kenapa. Junno memilih kabur dan menyibukkan diri dengan PSP-nya bersama Koki yang pura-pura tidak mengenal kami sementara Maru membantu YamaP yang tentu saja sia-sia.

“Diam kalian berdua. Jangan ribut di tempat umum, memangnya kalian anak kecil?!” sergah Ueda yang malas mendengar keributan

“Oh, lihat siapa yang bicara? Hime”

Aku bisa mendengar Junno, Koki, Maru dan YamaP mengerang bersamaan. Ueda paling tidak suka dipanggil ‘Hime’ apalagi jika yang mengatakannya Ryo. Mereka berdua musuh utama dalam adu mulut.

“Apa katamu barusan?!”

Aku menghentakkan kakiku kesal karena sekarang Ryo ganti adu mulut dengan Ueda dan mengacuhkanku sementara perasaan kesalku belum hilang. Aku berbalik dan keluar begitu saja tanpa mempedulikan hal lain, berjalan sembari menendang apa saja yang ada di dekatku dan bisa kutendang sebagai pelampiasan. Sampai sebuah suara terdengar dan menyita perhatianku.

“Jin, matte!!!”

Aku berbalik dan melihat Kazu berlari menyusulku, nafasnya terputus-putus saat akhirnya berada di sampingku. Dia mengatakan saat berusaha memisahkan Ryo dan Ueda tiba-tiba saja dia kehilangan sosokku dan segera mencariku. Mendengar itu entah kenapa mood-ku menjadi baik dengan cepat. Aku menyeringai dan mengajaknya makan es krim.

Tanpa mempedulikan kebingungan Kazu, aku segera meraih tangannya. Aku melihat tidak perlu waktu terlalu lama bagi Kazu untuk mengangkat bahunya acuh dan tersenyum, mengikuti kemanapun aku membawanya tanpa banyak protes.

Hari-hari berlalu dengan cepat tanpa kusadari dan suatu hari, tiba-tiba saja manejer kami masuk dalam ruang ganti dan mengumumkan bahwa kami, KAT-TUN, akhirnya akan debut. Kami menyambut berita ini dengan gembira, karena setelah sekian lama, akhirnya kami bisa juga debut terlebih sebagai KAT-TUN.

Kami mulai bekerja keras karena single, DVD dan Album akan dirilis secara bersamaan. Wow. Real Face menjadi tanda bahwa perjalanan kami sebagai KAT-TUN telah dimulai. Saat itu, aku belum tahu apa yang akan terjadi pada kami, aku belum tahu apapun, aku hanya tahu bahwa salah satu impianku telah terwujut dan mulai bergerak. Cerita kami mulai bergulir lebih dalam.



Chapter 1 Jealous? It’s Because I Love you?


Aku tidak tahu perasaanku sampai Pi mengatakannya padaku. Hari itu seperti biasa aku pergi clubbing dengan Pi, kebetulan Ryo sedang ada pekerjaan di Osaka bersama Kanjani sehingga hanya kami berdua. Toma dan Yuu sudah menghabiskan 3 gelas bir saat kami sampai ke club dan bergabung dengan mereka.

Mengacuhkan mereka berdua aku mulai mengobrol dengan Pi, well oke, lebih tepatnya aku memaksa Pi untuk mendengarkan ceritaku. Pi seperti biasa, berperan jadi sahabat dan pendengar yang baik bagiku, duduk diam mendengarkan sambil sesekali menyecap isi gelas ditangannya.

“.....I don’t understand Pi, sometime I really feel want to kill anyone who talk in clossely way with Kazu.... It’s not weird, Isn’t? I mean, Well, I am the one who close with Kazu, Aku yang menemukannya saat tidak ada seorangpun yang menyadari kehadirannya di Johnnys, dia selalu mengikuti-ku kemanapun...”

“Ralat, kamu yang menariknya ke sana kemari sebelum akhirnya dia malah benar-benar tidak bisa lepas darimu” sela YamaP sambil menyecap gelasnya

“Not my fault” protesku “And now, He the one populer, bahkan melebihi-ku”

“So?”

“So...I don’t know....You tell me” kataku bingung sambil memberi tanda untuk meminta isi ulang gelas kosong di tanganku

“Are you jealous?”

“What? Who? Me? For what? aku tidak peduli dia menjadi lebih terkenal dariku, lebih banyak pekerjaan atau apapun, just... tidak bisakah dia sedikit jaga jarak and not so... what??? terlalu ramah dengan orang??!!!”

“That’s I mean” sahut YamaP “You jealous, not for job or anything, you just simple jealous with people who closed with Shuu... I mean Kame-chan”

“Why?”

“Maybe, because you love him?”

“It’s not weird?”

“Weird?”

“Yeah, He’s boy, I am too. And I am sure I am normal”

“Don’t know, you really piss me off back when I just debut with Kame-chan”

“I am. Just because he debut with you and not with me, we are KAT-TUN anyway, is not a great reason? the other members got mad too”

“Not like you. I know because I am your bestfriend and, hello I am the one in Shuuji to Akira thing, I can feel you angry at me, near about kill me if I can told you honestly”

“Sorry. You know, You are my bestfriend, Pi, forever”

“Yeah, I know that. So, you admit you jealous about Kame-chan?”

“What? It’s different. Dont know, just....well, we’ll see that later......”

“Okay, just tell me if you found something”

Setelah diskusi kecil bersama Pi malam itu, aku mulai memikirkan kata-kata Pi, yeah, aku tahu aku tidak begitu suka berfikir tapi kali ini aku benar-benar mencoba, sekaligus membuktikan bahwa julukan ‘Bakanishi’ pemberian Pi tidak seluruhnya benar. Di tengah-tengah pembuatan PV, acara show, break pemotretan, saat latihan, kapanpun dan dimanapun setiap kali ada kesempatan aku mencuri kesempatan untuk melihat Kazu. Memastikan perasaan-ku sendiri.

Ketika staf filming 24 jikan terebi mencariku untuk mendiskusikan sesuatu yang lain untuk keperluan filming, aku mengusulkan sebuah surat. Awalnya aku iseng dengan mengatakan hal tentang menulis sebuah surat untuk mengungkapkan perasaan yang ingin disampaikan, baik terima kasih atau apapun itu pada orang lain yang celakanya ternyata disetujui oleh produser dan malah memintaku untuk menulis sebuah surat yang ditujukan untuk seluruh anggota KAT-TUN.

“Good idea Bakanishi, you’re so jenius. Kamu menggali lubang kuburmu sendiri” runtukku dalam hati.

Entah kenapa kadang aku merasa heran dengan diriku sendiri yang bisa dengan mudah membuat orang lain setuju dengan apa yang kukatakan. Aku tahu aku termasuk keras kepala dalam mempertahankan apa yang kuinginkan, tapi tetap saja jika dengan mudah disetujui membuatku terkejut, biasanya aku harus adu mulut terlebih dahulu dengan Koki atau Ryo atau Ueda.

Aku masih ingat dengan jelas saat membuat lyrik bersama Ueda untuk keperluan album pertama KAT-TUN. Junno dan Kazu tidak membuatnya karena Kazu terlalu sibuk dan tidak punya waktu, Koki dan Maru berhasil menyelesaikan tanpa adu mulut yang berkepanjangan, toh pada dasarnya mereka memang kompak lagipula beatbox dan rapp, wow, it’s perfect. Tidak sulit menyatukannya. Tapi, aku dan Ueda butuh satu minggu penuh untuk menyelesaikan music dan lyrik kami. Well, syukurlah pada dasarnya selera music kami sama, jadi kami tidak perlu ‘diskusi’ terlalu lama.

Back to letter, awalnya aku sama sekali tidak punya ide apa yang akan kutulis, tapi berkat ingatan tentang ‘jalan terciptanya’ butterfly, aku memutuskan untuk menggunakan itu dan menuliskannya menjadi sebuah surat. Tentang bagaimana ‘diskusi’ bersama Ueda saat membuat lyrik Butterfly, pertama kali bertemu Maru di audisi Johnny’s, seringnya adu mulut bersama Koki, sampai gurauan tidak lucu yang selalu diucapkan Junno. Yang tersisa tinggal Kazu. Aku tidak tahu apa yang harus kutulis tentang Kazu, terlalu banyak kenangan yang ku-punya tentang Kazu, mulai dari awal bertemu di audisi, liburan ke Okinawa, Gokusen, jika kuingat lagi sepertinya hampir separo hidupku kuhabiskan bersamanya.

Sejak dulu aku paling tidak bisa mengatakan hal mengenai orang yang sangat dekat denganku dengan jelas. Aku tahu apapun dan bisa memahaminya tapi jika disuruh mengatakannya aku hanya akan mengatakan satu hal ‘entahlah, aku tidak begitu paham’. Aneh. Tapi memang seperti itulah yang kurasakan, karena itu juga-lah saat filming Real Face aku mengatakan ‘wakarannai’ ketika ditanya tentang Kazu. Aku memang tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi kuputuskan untuk menulis ucapan terima kasih pada Kazu karena keberadaannya membuatku tenang selama era filming Gokusen. Hari itu pula, setelah filming 24 jikan terebi selesai, aku sadar bahwa yang dikatakan oleh Pi benar. I am in love with Kazu.

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand