Sabtu, 09 Januari 2010

(fanfic) Way of Love

Way of Love

Disclaimer: not mine, hiks *sad*
Pair: The Best pair in the world, Akame (Akanishi x Kamenashi)
Music: Aqua Timez – Plumeria ~Hana Uta~
Location: in Akame world
Rating: safe *proud*


Warning: Weird Language (a/n: first time I want write in English but I’m realize It’s impossible with my english ability is poor. So, hontou ni gomenasai...... *smack in head*. Oh, and I know I don’t finished Gokusen club yet, but I can let this idea gone, I promise to finish soon, please don’t beat me) m(_ _)m
Warning 2: this fic is divide to 2 part with 2 side, Jin POV and the other is Kame POV. Part 1 title is On my mind and part 2 title is On your mind –please come back to me-. (ps: I love epilog part <3)>



Jin Side

Chapter 3 I’ll Protect you



Aku memandang manejer kami dengan mata terbuka lebar, bukan hanya aku, tapi seluruh personil KAT-TUN menanggapi berita yang disampaikannya dengan rasa tak percaya, Maru dan Junno bertukar pandang, Ueda hanya diam memandang lurus ke depan, sementara Koki membuka tutup mulutnya tanpa ada suara yang keluar. Kame yang duduk di sampingku sambil memeluk gitar kesayanganku hanya bisa menatap manejer kami dan kami secara bergantian penuh rasa bersalah.

Hari itu seperti biasa, Ueda duduk diam mendengarkan lagu Gackt dari i-pod, Maru dan Koki bercanda saling mencela dan Junno sibuk dengan PSP dalam genggamannya. Aku memperhatikan Kame yang sibuk berlatih gitar. Sudah 3 hari ini aku mengajari Kame cara bermain gitar untuk keperluan doramanya yang terbaru bersama Pi. Ya, My Bestfriend Pi, awalnya aku khawatir saat Kame diputuskan untuk menjadi peran utama sebuah dorama bersama Pi, well, aku tahu hubungan mereka kurang baik, tapi kemudian aku bersyukur saat suatu hari Kame menghampiriku dan berkata bahwa sekarang dia sudah berteman baik dengan Pi. Yang berbeda adalah saat manejer kami masuk dan mengumumkan bahwa Kame akan melakukan debut bersama YamaP, bukan dengan kami sebagai KAT-TUN.

“Kame, benar kamu mau debut dengan YamaP alih-alih dengan kami?” teriak Koki setelah menemukan kembali suaranya.

“Tapi, kita kan KAT-TUN, seharusnya kita debut ber-enam” guman Maru pelan. Junno hanya diam sambil memandang Kame meminta jawaban, senyum yang selalu terukir di wajahnya lenyap tak berbekas.

“A-aku juga tidak tahu” sahut Kame dengan nada bersalah “Itu keputusan Johnny-san, bisa apa aku?”

“Kamu kan bisa menolak?!” kata Maru ragu-ragu

“Oh, ayolah Maru, menolak kesempatan untuk debut? Cuma orang bodoh yang mau melakukannya” sahut Koki

“Sudahlah, kita semua tahu, meski satu tim tidak menjamin kita akan debut sebagai tim yang utuh kan?” Ueda berkata datar tanpa emosi, tapi aku yakin mendengar nada kemarahan dalam suaranya.

Aku memandang Kame yang hanya diam dan memilih untuk menaruh perhatiannya pada lantai. Satu per satu the other members mulai meninggalkan ruangan dengan marah. Koki lebih dulu keluar setelah menendang kursi, Maru menyusulnya sebelum menyempatkan diri memukul dinding, Junno menjadi orang ketiga yang pergi tanpa mengatakan apapun diikuti Ueda yang tampaknya bisa membunuh orang hanya dengan pandangan matanya.

“Jin”

Aku mendengar suara Kame yang meminta pengertianku. Tapi saat itu aku sama marahnya dengan yang lain. Aku hanya menggelengkan kepala dan berguman ‘sorry’ sebelum akhirnya pergi menyusul yang lain dengan membanting pintu, meninggalkan Kame sendirian dalam ruangan.

“Sial! Sial! Sial!” desisku sambil menghantam dinding berkali-kali.

Aku tahu ini bukan salah Kame, tapi aku tidak bisa menyangkal perasaan marah yang tiba-tiba muncul. Aku merasa dikhianati, setelah sekian lama kami bersama sekarang dia akan melangkah sendirian dan meninggalkan kami semua di belakangnya. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia debut dengan Pi, sahabat baikku sendiri. Entah kenapa aku merasa sangat kesal dengan kenyataan itu. Mungkin, mungkin saja kalau bukan Pi aku akan bisa sedikit lebih tenang.

“Yo, Bakanishi”

Aku berpaling dan dengan segera bertatap muka dengan orang yang saat ini paling tidak ingin kutemui. YamaP berdiri di belakang Ryo –yang tadi menyapaku- sambil memamerkan senyumnya, membuatku ingin menghajarnya saat itu juga. Yeah, dia mungkin sahabatku, tapi untuk masalah ini aku tidak peduli siapapun dia bagiku.

Sepertinya baik Ryo dan YamaP menyadari perasaanku karena dengan segera YamaP mengatakan kalau dia sama sekali tidak tahu dan dia sendiri juga terkejut dengan keputusan debutnya, Ryo hanya diam memandang kami berdua dan hanya menggumankan namaku saat melihat tanganku yang terkepal mengayun ke depan, tepat ke wajah YamaP yang hanya berdiri diam.

DUAK!!!

Aku menghantam dinding tepat di sebelah kiri pipi YamaP. Setelah berhasil mengatur emosiku, akhirnya aku berguman minta maaf padanya. YamaP hanya tersenyum dan mengangguk paham, sedangkan Ryo, yah apa yang bisa diharapkan dari lidahnya yang tajam kecuali kritikan pedas mengenai betapa bodohnya tindakan yang baru saja kulakukan. Aku hanya terseyum lemah menanggapi kalimat Ryo, ya, dia bisa saja mengatakan aku bodoh dan lainnya, dia tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu. Saat mendengar keputusan debut Kame dari manejer tadi, aku seperti kehilangan tempat untuk berpijak, putus asa dan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Aku mulai menceracau, mengeluarkan semua apa yang kupikirkan pada Ryo dan YamaP. Apa yang kurasakan sekarang dan juga mengenai tanggapan yang lain terhadap berita ini. YamaP menepuk bahuku, berusaha menghiburku, tapi tetap saja aku merasa kesal. Mana mungkin kamu bisa menjadi lebih tenang jika orang yang menghiburmu merupakan salah satu sumber penyebab kekesalanmu? Ya, meskipun dia juga sahabat terbaikmu sendiri.

“Aku tidak terlalu peduli sih, tapi kalau menurut ceritamu barusan, bukannya yang paling merasa kecewa itu Kamenashi?”

Aku menatap Ryo dengan mata terbuka, benar yang dikatakan Ryo. Memang wajar kalau kami marah dan kecewa pada Kame, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan Kame. Sepanjang ingatanku, dari kami ber-enam Kame-lah orang yang paling ingin debut bersama-sama dan berusaha keras untuk mewujutkan impian kami. Meski marah sekalipun tidak seharusnya aku meninggalkannya seperti itu. Aku yang selama ini paling dekat dengannya dan memahaminya, tidak seharusnya aku pergi saat dia membutuhkan dukungan. Apa yang sudah kulakukan?

“Ike, Jin” kata YamaP tersenyum “He really need you, hayaku ike!”

Aku segera berlari kembali ke ruang latihan setelah menggumankan terima kasih pada YamaP dan Ryo. Aku mulai bisa berpikir dengan jernih setelah mendengar teguran Ryo, sekarang aku bisa melihat dari sisi Kame. Aku seakan bisa merasakan kesedihannya, kebimbangannya, ketakutannya dan perasaan bersalah yang mungkin menghantuinya selama beberapa hari ini. Aku mulai merutuki diriku sendiri yang hanya memikirkan diri sendiri. Seharusnya aku ikut senang akhirnya dia mendapatkan hasil dari kerja kerasnya, seharusnya aku membelanya saat yang lain menyalahkannya, seharusnya aku berada di sampingnya ketika yang lain meninggalkannya.

“Kame?!”

Kame duduk memeluk lutut di sudut ruangan, wajahnya terbenam di kedua lengan dan bahunya bergetar. Aku menghampirinya perlahan, berlutut di depannya dan mengulurkan tanganku, menepuk bahunya pelan. Air mata masih mengalir saat dia mendongak untuk melihatku.

“Jin?!”

Suaranya terdengar aneh saat mengucapkan namaku. Aku segera menariknya, tubuh kecilnya bergetar hebat dalam pelukanku, Kame meminta maaf berkali-kali dan berusaha menjelaskan padaku bahwa dia juga tidak ingin hal ini terjadi.

Selama ini Kame selalu tersenyum dan bersemangat tapi Kame yang sekarang begitu lemah dan ketakutan, mulai saat itu dalam hati aku berjanji akan selalu melindunginya, aku tidak ingin melihat air mata Kame untuk yang kedua kalinya, apapun akan kulakukan agar senyum Kame tidak lagi hilang.

“Gomen” bisikku “Gomen ne”

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand