Minggu, 03 Januari 2010

(fanfic) Way of Love

Way of Love

Disclaimer: not mine, hiks *sad*
Pair: The Best pair in the world, Akame (Akanishi x Kamenashi)
Music: Aqua Timez – Plumeria ~Hana Uta~
Location: in Akame world
Rating: safe *proud*


Warning: Weird Language (a/n: first time I want write in English but I’m realize It’s impossible with my english ability is poor. So, hontou ni gomenasai...... *smack in head*. Oh, and I know I don’t finished Gokusen club yet, but I can let this idea gone, I promise to finish soon, please don’t beat me) m(_ _)m
Warning 2: this fic is divide to 2 part with 2 side, Jin POV and the other is Kame POV. Part 1 title is On my mind and part 2 title is On your mind –please come back to me-. (ps: I love epilog part <3)>



Kame side
Chapter 2 Who is me for him?


“Who is your bestfriends?”

Pertanyaan itu keluar dari salah satu presenter sebuah acara di mana kami tampil sebagai guesst. Jika pertanyaan itu ditujukan padaku, tentu saja jawabanku adalah Akanishi Jin, tapi pertanyaan itu ditujukan pada orang yang menjadi jawabanku. Ya, MC acara itu menanyakannya pada Jin yang duduk di sebelahku dan jawaban darinya entah kenapa membuatku shock dan marah.

“YamaP”

Jawab Jin dengan tegas sembari memamerkan senyum kekanakan khasnya, membuatku bertambah ingin memukulnya. Aku tidak puas dengan jawabannya, memang aku tidak bisa menyuruhnya menjawab dengan namaku hanya karena aku dekat dengannya dan akan menjawab dengan namanya jika ditanya pertanyaan yang sama. Aku tahu, Jin punya banyak teman melebihiku, tidak sepertiku yang lebih sering stuck pergi berdua dengannya, Jin juga sering main dengan teman-temannya sendiri seperti YamaP, Ryo atau Yuu. Karena itu, aku tidak bisa komplain jika dia tidak menyebut namaku sebagai sahabat terbaiknya.

Aku tidak tahu kenapa aku marah dan tidak puas, selama ini kami sering bersama, ralat, sejak dulu kami sering bersama dan kupikir aku-lah yang paling memahaminya juga satu-satunya orang yang bisa mengontrol tingkah lakunya yang kadang merepotkan. Aku akrab dengan keluarganya dan beberapa kali menginap di rumahnya, begitu juga sebaliknya. Jin adalah satu-satunya orang yang kupercaya, bahkan melebihi keluarga-ku sendiri.

Aku menganggapnya sahabat karena kami memang sudah melebihi arti kata ‘teman’ pada umumnya. Salahkah jika aku marah saat orang yang kuanggap sebagai satu-satunya sahabat ternyata hanya menganggapku sebagai teman?. Bahkan dia menyebut YamaP, orang yang berkelahi denganku di taman baru-baru ini, sebagai sahabat terbaiknya.

Aku masih ingat dengan jelas saat itu, aku senang bahwa Jin memilih untuk menghampiriku dan berdiri di sampingku sementara membiarkan Ryo yang menolong Pi. Bahkan dia tidak menanyakan alasanku berkelahi dengan Pi, dia hanya berkata bahwa aku pasti punya alasan kuat sampai berkelahi seperti itu. Dia sepenuhnya percaya padaku. Aku juga masih ingat saat aku terjatuh dari panggung saat masih junior di tengah-tengah performance, sepanjang sisa performance Jin terus menerus berusaha mencuri kesempatan untuk melihatku, memastikan aku baik-baik saja melanjutkan performance dengan kaki yang rasanya ingin kulepas. Pada awalnya Jin tidak setuju dengan keputusan aku tetap harus melanjutkan performance, tapi setelah aku mengatakan aku bisa, dia tidak lagi protes dan memilih untuk mengawasiku dalam diam. Aku tahu hal ini dari Pi, tentu saja setelah kami akhirnya berteman.

Mengenai rumor yang mengatakan bahwa kami ‘in spesial relationship’ yang entah kenapa membuatku sedikit senang jauh di dasar hatiku. Tapi aku berusaha mengacuhkannya dan berulang kali mengatakan pada diriku sendiri bahwa kami hanya teman, tidak lebih tidak kurang, dan bahwa Jin normal, aku juga normal, meski terkadang aku ragu apakah aku normal atau tidak? Yah, banyak yang mengatakan terkadang postur tubuhku mirip cewek, bahkan aku pernah salah dikira sebagai cewek. Ditambah sejak aku mengetahui rumor itu, entah kenapa kadang aku merasa salah tingkah jika berdua dengan Jin. Wajar jika aku jadi meragukan diriku sendirikan?!.

Aku memilih memfokuskan pikiranku pada konser yang akan kami adakan untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang belakangan sering menghampiriku dan secara otomatis membuat moodku berantakan. Aku menyembunyikannya dengan bertingkah seperti biasa sebisa-ku, syukurlah tidak ada yang menyadarinya, aku patut bangga dengan diriku sendiri dan berulang kali berpikir ‘wow, I’m the genius actor’ sampai aku sadar bahwa ada seorang yang berhasil melihatnya. Ueda memang tidak menanyakan apapun padaku, tapi dari pandangannya aku bisa tahu jika rahasia terbesarku hampir seluruhnya terbongkar.

Mengacuhkan kenyataan, aku tetap fokus pada konser dan ikut antusias menyambutnya bersama yang lain. Aku memilih Kizuna untuk performance solo-ku, kupikir sekaligus untuk promosi dorama, sambil menyelam minum air-lah. Dan berdoa semoga Jin tidak memilih Care untuk performance solo-nya. Aku tahu bahwa lagu Kizuna milikku dan Care karangan Jin didedikasikan sebagai kandidat terkuat untuk lagu wajib para fans Akame. Entah apa yang mendasari pendapat itu, tapi yang pasti sebisa mungkin menghindari masalah adalah pilihan yang tepat. Aku bersyukur saat Ueda mengatakan bahwa Jin memilih Murasaki.

Konser berlangsung dengan sangat sukses, memasuki hari terakhir kami masih tetap bersemangat dan bertekat untuk menampilkan yang terbaik agar tidak mengecewakan para fans. Setelah Ueda selesai menyanyikan Love in Snow aku bersiap dan memulai performance-ku, menari selama beberapa menit sebelum akhirnya mengambil mike dan melantunkan Kizuna.

Saki no koto dore hodo ni kangaeteitemo
Hontou no koto nante dare ni mo mienai
Kuuhaku kokoro ni nanika ga tsumatte
Ayamachi bakari kurikaeshiteta
Ippo tsuzunde ii sa kono te wo hanasazu ni
Tomo ni ayunda hi bi ga ikitsuzuketeru kara
Boro-boro ni naru made hiki sakarete ii te mo
Ano toki no ano basho kienai kono kizuna
..........................................

Aku menyukai lagu ini karena selain ini lagu pertama yang kutulis sendiri juga dijadikan back sound dalam dorama di mana aku dan Jin tampil bersama. Dalam pikiranku hal ini seolah memperkuat ‘hubungan’ antara kami berdua. Yah, sedikit gila, kuakui itu. Aku melanjutkan melantunkan Kizuna

.....................................
Nagareyuku toki no naka ushinawanu youni
Surechigai butsukatta hontou no kimochi
Kokoro ni shimiteku aitsu no omoi ni
Deaeta koto ga motometa kiseki
Tachidomaru koto sae dekinai kurushisa no
Naka ni mieta hikari tsunagatte ii kara
Uso tsuitatte ii sa namida nagashite ii kara
Ano toki no ano basho kienai kono kizuna
..................................

Setiap kali melantunkan Kizuna, mau tidak mau aku selalu memikirkan Jin, semua hal yang kulakukan bersamanya masih terekam jelas dalam ingatanku dan berputar dengan jelas seperti sebuah film. Belakangan tentu saja kenangan bersama 4 personil KAT-TUN pun ikut terlintas dalam kepalaku. Saat-saat kami berjuang bersama untuk mewujudkan impian agar suatu saat bisa debut bersama sebagai KAT-TUN. Kizuna, Bond, sebuah kata yang memiliki arti sangat banyak bagiku. Aku melantunkan baris terakhir untuk menyelesaikan performance-ku.

.....................................
Ippo tsuzunde ii sa kono te wo hanasazu ni
Tomo ni ayunda hi bi ga ikitsuzuketeru kara
Boro-boro ni naru made hiki sakarete ii te mo
Ano toki no ano basho kienai kono kizuna

Setelah mengakhiri giliranku, aku melangkah menuju backstage dalam gelap dan berpapasan dengan Jin yang hendak memulai performance-nya. Aku sedikit heran kenapa dia membawa gitar. Selama ini dia belum pernah menyanyikan Murasaki dengan membawa gitar, setahuku dia hanya menggunakannya untuk menyanyikan .... Care .....

Ketakutan mulai terlintas di benakku, mungkinkah? Mungkinkah Jin mengubah lagunya di konser terakhir ini. Aku berdiri diam di tepi panggung untuk memastikan dugaanku, menunggu Jin mulai memetik gitarnya, saat menyadari bahwa dugaanku benar aku merasa sebuah palu menghantam jantungku. Selama beberapa saat aku menatapnya dengan kesal. Aku tahu aku tidak bisa menyalahkannya, tapi melantunkan Kizuna dan Care di satu konser sama artinya memberi minyak pada api. Selesai konser aku segera menghampiri Jin dan menyatakan pertanyaan yang terus menerus berada dalam kepalaku selama sisa konser.

“Kenapa dari sekian banyak lagu kamu memilih Care?! Aku sudah lega saat kamu memilih Murasaki di awal konser”

“Hah??!”

Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Jin, dia menatapku dengan pandangan bertanya. Aku segera berbalik dan melangkah pergi dari ruang ganti, sedikit saja aku berada di sana lebih lama aku tidak akan bisa menahan diri untuk tidak berteriak memakinya.

Aku tahu ini hanya sebuah lagu dan bodoh jika terlalu memikirkannya, tapi sejak mendengar rumor bahwa Akame menjadi lebih terkenal dari KAT-TUN ketakutan mulai menghantuiku, aku sudah banyak mendengar cerita dari para senpai yang terpaksa berpisah karena rumor semacam itu. Mereka bersahabat baik, tapi hanya karena cerita tidak masuk akal persahabatan mereka hilang begitu saja. Aku selalu takut jika hal itu suatu saat akan terjadi padaku, pada kami. Dan yang paling kutakutkan adalah jika Johnny-san mengetahuinya, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya.

Seminggu setelahnya aku mulai merasa tenang karena tidak terjadi apapun. Kami masih beraktifitas seperti biasa, Jin sudah berkali-kali minta maaf padaku, menjelaskan alasan kenapa dia menyanyikan Care dan berulang kali mengatakan agar aku tidak perlu khawatir, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tersenyum, mengatakan bahwa aku tidak lagi marah dan minta maaf –tanpa memberitahu alasan kekhawatiran-ku yang sebenarnya-, dan kami sudah kembali berbaikan hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Seharusnya aku tahu bahwa situasi yang tenang menandakan akan ada badai besar yang datang. Badai itu datang tak lama kemudian, tidak hanya menimpaku dan Jin, tapi juga berdampak pada kelangsungan hidup KAT-TUN.

Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand