Minggu, 15 Februari 2009

(fanfic) Someday for Somebody - Yabuki side

Kizuna series ~ Someday for Somebody

Pairing : Hayato x Ryu

Disclaimer : Gokusen 2 (siapa sih yang buat ....???)

Listening music : QoP album (Kat-tun)

Part 1 : Yabuki Hayato


Yabuki berlari secepat yang dia bisa. Melompati pagar pembatas dan segera menyebrang jalan meski lampu hijau sudah berkedip-kedip. Membungkuk untuk meminta maaf saat tidak sengaja menabrak beberapa orang sambil lalu dan tidak menghiraukan makian yang keluar dari orang-orang yang tidak begitu berkesan dengan permintaan maafnya.

Aneh memang, dulu ketika dia masih SMA, satu kata yang menghina dirinya keluar dari mulut orang lain, meski sudah jelas dia sendiri juga salah, akan membuat jantungnya memompa darah dengan cepat. Dan mungkin sekarang juga masih, meski tidak secepat dulu Yabuki naik darah jika merasa tidak suka dengan suatu hal.

Bertambah usia tidak membuatnya benar-benar bisa mengendalikan diri, terkadang dia masih juga sering lepas kontrol. Tapi untuk saat ini, tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Ia sedang terburu-buru, ada hal lain yang lebih penting baginya dari sekedar balas memaki orang disekitarnya. Wali kelasnya saat SMA sudah mengajari dan mananamkan baik-baik dalam dirinya untuk membeda-bedakan hal mana yang dianggap penting untuk didahulukan.

Yabuki melihat penunjuk waktu yang muncul di layar televisi berukuran besar di sebuah gedung.

gawat! Aku sudah sangat terlambat” umpatnya dalam hati “sial ! Kalau saja handphone-ku tidak mati”

Yabuki berlari menaiki tangga jembatan penyebrangan, 2 tangga dia lewati sekaligus untuk mempersingkat waktu tempuh tanpa memperdulikan pandangan tidak suka orang-orang disekeliling yang tertuju padanya. Ya, dia sudah cukup terbiasa dengan pandangan semacam itu sejak dulu. Jadi untuk apa dia mempermasalahkannya kali ini.

ayo, cepat-cepat” guman Yabuki tidak sabar sembari menatap lampu merah yang masih saja terus menyala.

bagus” seru Yabuki dan segera melesat pergi ketika akhirnya warna merah pada lampu jalan berubah menjadi hijau.

Tinggal sedikit lagi, maka sampailah Yabuki pada tempat yang menjadi tujuannya. Tapi perhatiannya teralihkan oleh hal lain.

Tak jauh darinya, 2 orang anak tampak mundur perlahan dengan wajah ketakutan dikelilingi oleh beberapa anak lain. Pemandangan yang tidak asing. Yabuki sendiri berkali-kali mengalami hal serupa saat masih SMA. Bedanya, dia tidak akan mundur seperti yang dilakukan 2 anak itu, tapi berbalik maju menantang apapun hasil akhirnya. Dan biasanya dia menang, meski sering juga babak belur karena kalah.

Yabuki mengubah arah tujuannya. Memang bukan urusannya, tapi entah kenapa ingatan-nya memaksa agar kakinya melangkah ke tempat itu dan menolong 2 anak yang tampaknya kurang beruntung hari ini.

terima kasih, paman” seru kedua anak itu bersamaan.

paman ?! kejamnya umurku baru 20 tahun” kata Yabuki sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan lengan kemeja.

tidak apa-apa ?” tanya salah seorang dari anak itu, khawatir melihat penolong mereka terluka meskipun sedikit

tidak apa-apa, Cuma seperti ini sih sebentar juga sembuh. Sudah pergi sana. Lain kali hati-hati”

terima kasih”

Yabuki mengangguk sembari tersenyum melihat ke-2 anak yang berlari menjauh darinya. Tipe anak baik-baik yang tidak akan berkelahi, pikir Yabuki. Berbeda sekali dengan dirinya saat SMA. Dengan segera sebuah ingatan melintas di kepalanya. Hari di saat dia dinyatakan lulus SMA, hari di mana dia harus berpisah dengan teman-temannya dan menentukan langkah hidupnya sendiri.

....................

mau langsung pulang ?” tanya Yabuki pada anak yang berjalan disisinya.

Hanya tinggal mereka berdua, ketiga temannya sudah pulang untuk menunjukkan ijasah yang mereka dapatkan pada orang tua mereka. Anak itu hanya menggerakkan kepalanya sedikit dengan acuh tanpa menjawab. Sepertinya dia juga masih belum ingin pulang.

kalau begitu kita ke tempat biasa dulu yuk” ajak Yabuki bersemangat

boleh” sahut anak itu.

Mereka berdua segera melangkahkan kaki menuju salah satu tempat yang sering mereka kunjungi untuk menghabiskan waktu.

Bukannya Yabuki tidak ingin memamerkan ijasah pada orang tuanya, tapi memang tidak bisa. Percuma saja, meski pulang sekarang pun dia tidak akan menemukan siapapun di rumah, adiknya pasti masih berada di bimbingan belajar, karena berbeda dengannya yang tidak bisa belajar, kalau tidak mau dikatakan bodoh, adiknya cukup pandai dalam hal itu. Ayahnya belum pulang dari pekerjaannnya ke luar kota sejak kemarin, sedangkan ibunya sudah meninggal ketika dia masih kecil.

Yabuki bukan anak yang terlalu memikirkan masalah keluarga, dia cukup nyaman dengan keadaannya sekarang dan tidak merasa kurang atau tidak puas. Dia punya banyak teman, meski juga punya banyak musuh, ketua kelas, dan cukup terkenal karena sepak terjangnya sebagai salah satu pembuat masalah, baik di sekolah-nya sendiri maupun di sekolah lain.

Yabuki cukup terkenal di kalangan pelajar yang suka berkelahi. Tentu saja anak yang saat ini bersamanya juga mempunyai reputasi yang sama. Di tambah 3 anak yang sudah terlebih dahulu pulang, mereka cukup dapat mendatangkan masalah, setidaknya bagi orang-orang yang memandang sebelah mata pada anak-anak seperti mereka. Kenyataannya wali kelas mereka berhasil dengan baik mendapat kepercayaan penuh dari seluruh kelas 3-D yang terkenal sebagai pemberontak dan susah di atur.

setelah ini, apa yang akan kau lakukan ?” tanya Yabuki menyandarkan punggungnya ke kursi.

entahlah” sahut anak itu sembari meletakkan sendok kecil di tangannya sebelum mengikuti gerakan Yabuki “kau sendiri ?”

hmm....apa ya” guman Yabuki menerawang “aku tidak bisa belajar, jadi mungkin aku akan bekerja saja”

Anak di sampingnya tersenyum samar. Bersahabat dengan Yabuki sejak SD membuatnya dapat dengan sangat baik memahami bagaimana level kemampuan berpikir-nya. “kerja apa ?” tanya anak itu meski sudah menduga jawaban yang akan diterimanya.

entahlah. Belum kupikirkan. Yang jelas mustahil buatku kalau kuliah. Aku tidak suka belajar. Aku ingin bekerja saja”

lalu ?” kata anak itu sambil lalu dengan pandangan menerawang juga. Mereka berbicara tanpa saling melihat.

ya, ayahku juga sudah setuju dengan-ku. Katanya ‘terserah kau mau apa’ jadi aku bilang padanya kalau mustahil aku bisa kuliah. Ini kehidupanku, jadi akulah yang berhak memutuskan apa yang akan kulakukan. Itukan yang selalu dikatakan Yangkumi pada kita”

memang” guman anak itu teringat peristiwa yang menimbulkan keributan di sekolah belum lama ini karena ayah Yabuki datang tiba-tiba. Tidak heran jika melihat cara mereka berkomunikasi dengan saling berteriak, menggebrak meja, berkelahi sampai menghancurkan apapun yang ada di dekatnya dan dengan sifat yang sama persis. Satu Yabuki saja sudah cukup, apalagi ditambah dengan Yabuki senior.

Yabuki mengangguk menyetujui tanggapan temannya. Detik berikutnya dia segera berpaling, mengalihkan mata-nya yang sejak tadi hanya melihat langit-langit toko yang di cat putih ke wajah anak yang duduk di sebelahnya dengan sedikit kesal.

tunggu dulu, apa maksudmu dengan memang hah ?”

Anak itu tersenyum samar, kembali menekuni gelas minumannya tanpa memperdulikan Yabuki

memang mustahil kau bisa lulus ujian masuk kan” katanya pelan

apa ? kau bilang sesuatu ?!”

tidak”

Yabuki mendengus kesal dan kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi

baiklah, aku memang bodoh”

Anak itu kembali tersenyum samar dan sekali lagi mengikuti gerakan Yabuki, menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap hampa langit-langit toko.

lalu, kau bagaimana ?”

apanya ?”

ya rencanamu setelah ini. Kau kan belum menjawab pertanyaan-ku”

Anak itu hanya menggerakkan bahunya sedikit.

kau jadi ke Canada ?”

Tidak ada jawaban

sejak masalah dengan ayahmu selesai tadinya ku-pikir pembicaraan tentang kau yang pergi dan semacamnya tidak akan ada lagi, tapi kemarin Take mengatakan kalau masalah ke Canada ini masih tetap ada. Benar ?”

Take bilang begitu ?”

bukan hanya Take, Tsuchi, Hyuga. Semua nya”

oh....”

jadi benar, kau mau ke Canada ? apa lagi-lagi ayah-mu....”

bukan”

eh ?”

Kali ini anak itu berpaling menatap wajah Yabuki dengan serius. Menghela nafas beberapa kali sebelum membuka mulutnya.

aku sendiri yang mau”

apa ?!”

ya, aku sendiri yang mau. Seperti yang kau tahu. Sejak saat itu ayah-ku sudah berubah dan mau mendengarkan pendapat-ku. Komunikasi kami cukup baik. Dan sebenarnya ayah mengusulkan agar aku kuliah di sini saja, ayah yakin dengan kemampuan-ku setidaknya aku bisa lolos di Todai, Keio atau Waseda, terserah aku ingin coba yang mana”

Yabuki hanya memandang sahabatnya tanpa bisa mengatakan apapun. Meski mulutnya terbuka tapi tidak ada kata yang keluar, dan memang rahangnya terasa kaku, sama sekali tidak bisa digerakkan. Informasi yang baru saja diterimanya terlalu tiba-tiba. Bukannya Yabuki merasa terkejut dengan kemampuan sahabatnya. Sejak dulu dia tahu, meski sering berkelahi bersamanya dan menjadi anggota kelas yang bermasalah, tapi sahabatnya ini sesunguhnya pintar, bahkan ia memegang peringkat pertama di kelas. Hal mana yang sangat disayangkan karena dengan seringnya terlibat perkelahian dan berkali-kali tertangkap polisi serta terancam dikeluarkan menjadikan kemampuan akademisnya tidak begitu terlihat.

Bahkan ayahnya nekat mengurung sahabatnya di rumah dan tidak diijinkan ke sekolah, ayahnya lebih memilih untuk memndahkannya ke luar negeri karena berpendapat teman-teman di sekolahnyalah yang menjadikan perilaku sahabatnya menjadi buruk. Meski akhirnya, berkat usaha wali kelas mereka, ayah sahabatnya itu sadar bahwa sikapnya sendirilah yang memicu perbuatan buruk sahabatnya.

ta-tapi, kalau begitu...ke-kenapa...” Yabuki akhirnya menemukan kembali suaranya.

aku...kupikir aku...” anak itu berhenti sebentar, berusaha merangkai kalimat yang bisa dicerna oleh sahabatnya “saat di paksa ke Canada dulu aku memang tidak mau, karena aku ingin lulus dengan kalian. Tadinya kupikir sekolah hanya hal yang membosankan, tapi ternyata aku salah, karena itu Aku ingin bersenang-senang bersama kalian semua, menikmati masa-masa SMA”

Yabuki masih tetap tidak mengerti jalan pikiran anak yang duduk di hadapannya. Dia tidak tahu alasan anak itu tersenyum senang saat ini, senyum yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah diperlihatkannya.

tapi, mendengar kata-kata Yangkumi, aku sadar apa yang ingin kulakukan. Aku ingin kuliah, dan aku ingin mencobanya di luar negeri, di tempat yang sama dengan ayahku dulu. Aku ingin tahu di tempat seperti apa ayah-ku belajar”

lalu, ayahmu....”

sebenarnya, mengingat sekarang kami bisa berkomunikasi dengan baik, dia agak tidak rela juga, tapi seperti kata-mu, ini kehidupan-ku sendiri, aku yang berhak memutuskan apa yang akan kulakukan”

jadi.....? ”

Anak itu kembali tersenyum dan mengulurkan tangannya ke kepala Yabuki lalu......

BLETAK !

aduh” seru Yabuki mengusap kepalanya “apa-apa an kau ?!”

jangan pasang wajah sepeti itu. Cuma berapa tahun ini, aku pasti kembali ke Jepang kok” kata anak itu tertawa “lagipula, aku ingin tahu akan jadi seperti apa kau kelak....dengan sifat yang keras kepala dan kekanak-kanakan seperti ini”

apa maksudmu ? kau sendiri bagaimana hah ?! kau sendiri ?! siapa yang sebenarnya keras kepala ?!” Yabuki menunjuk-nunjuk sahabatnya dengan sebal.

Anak itu hanya menepis tangan Yabuki yang terarah ke wajahnya.

kalau begitu...” Yabuki meraih gelas miliknya “kita berjuang bersama”

Anak itu kembali tersenyum dan meraih gelasnya sendiri

untuk Yabuki di masa depan”

untuk Ryu di masa depan”

kampaiiii.....!!!!!”

....................

ayah datang jam berapa ?”

Sebuah seruan dari anak kecil membuat Yabuki tersadar dari lamunan. Yabuki melihat anak yang tadinya masih berdiri di sampingnya ternyata sudah berada 10 meter didepannya, tertawa gembira menatap ibunya. Yabuki segera melangkahkan kakinya ketika suara lain membuatnya meloncat mundur.

mau mati ya ?! lampunya sudah hijau bodoh !!!”

Yabuki memandang lampu lalu lintas bagi penyebrang jalan yang ternyata memang sudah menyala merah. Sekali lagi meruntuki dirinya sendiri dalam hati.

sialan. Besok aku harus mengganti baterai jam beker”

***


Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand