Minggu, 04 Januari 2009

(Fanfic) Summer Breeze

Summer Breeze

Disclaimer : real person in TeniMyu

Inspirated : Summer Breeze song's

Pairing : Masataka x Baba

Listening Musik : Summer Breeze (BAS 008)

PIP PIP PIP ... PIP PIP PIP ... PIP PIP PIP ...

Masa memiringkan tubuhnya, meraih benda bulat di atas meja tak jauh dari tempat tidur dengan mata masih setengah terpejam, didekatkannya benda itu ke depan wajah agar bisa melihat dengan jelas. Dua buah jarum hitam membentuk sudut 120 derajat, memberitahukan bahwa saat itu sudah pukul tujuh pagi. Masa segera membuka matanya lebar-lebar, memastikan bahwa ia tidak salah lihat dan dengan tergesa beranjak untuk meninggalkan tempat tidurnya.

DUK ! BRAK ! GUBRAK !

“adu-du-du-duh......” rintih Masa sembari menggapai tepi meja, sebagai akibat usahanya bangun terburu-buru dengan sebagian jiwanya masih berada di alam mimpi, Masa terguling dari tempat tidur.

Selama beberapa saat Masa sibuk memijat punggungnya yang terbentur tepi tempat tidur dengan sebal, ketika matanya kembali menangkap jarum dalam benda bulat kecil yang tergeletak di depannya, Masa segera sadar bahwa bukan saatnya duduk-duduk santai di lantai. Masa meraih benda pembawa bencana itu dan meletakkannya kembali di atas meja kemudian segera bergegas berdiri hendak bersiap ke kamar mandi, tapi belum sempat Masa melangkahkan kakinya......

SRAK ! GUBRAK !

“ADUH !”

Kembali Masa harus rela berbaring di lantai. Kakinya tanpa sengaja tersangkut pada selimut yang menemaninya terjatuh pertama kali tadi. Setelah mencampakkan selimut kurang ajar itu, Masa segera menuju kamar mandi secepat yang ia bisa dengan lutut yang masih terasa nyeri akibat membentur lantai. Tak sampai 10 menit Masa sudah terlihat berlari menyusuri trotoar.

Matahari masih belum terlalu tinggi, udara pagi masih terasa segar dan belum begitu tercemar oleh asap kendaraan bermotor, burung-burung masih belum ingin meninggalkan dahan tempatnya berkicau, benar-benar suatu hari yang sempurna untuk dinikmati dengan santai. Tapi tidak dengan Masa, ia terlalu sibuk untuk memperhatikan keindahan alam yang jarang ada itu. Dalam kepalanya yang ada hanyalah ia harus berlari secepat mungkin dan segera sampai ke tempat dimana ia sudah berjanji untuk bertemu dengan seseorang.

Masa berhenti di gerbang sebuah taman dengan nafas terputus-putus, mengedarkan pandangannya ke semua penjuru taman itu, mencari sosok yang sudah sangat dikenalnya. Pandangan Masa berhenti pada seorang pemuda berambut coklat yang bersandar pada sebuah tiang lampu, tak begitu jauh, sekitar 100 meter dari tempat Masa berdiri. Masih dengan nafas yang hampir habis, Masa kembali berlari menghampiri sosok itu.

***

Baba kembali melihat jam tangannya, entah sudah yang keberapa kali ia melakukannya tapi orang yang ditunggunya tidak juga terlihat batang hidungnya. Padahal Baba sudah rela datang 5 menit lebih awal dari waktu kesepakatan mereka agar tidak terlambat, tapi sudah hampir 30 menit dari waktu yang mereka sepakati lewat, orang yang berjanji dengannya belum juga muncul.

Baba kembali menghela nafas dan berfikir apa kiranya yang menyebabkan keterlambatan seseorang yang biasanya sangat tepat waktu ini, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang berlari sambil menyerukan namanya.

“Bachon !”

Baba menoleh ke arah suara itu dan menemukan Masa berlari sembari melambaikan tangan ke arahnya. Baba menunggu Masa mendekat sebelum menyapa –kalau tidak ingin dikatakan memaki- karena harus menunggu selama setengah jam.

“sorry....aku...ke...siang...an....” kata Masa terputus-putus sembari mengatur nafasnya mendahului minta maaf sebelum Baba sempat mengucapkan satu katapun, “maaf...kau..lama menunggu...ya ?”

Baba mengerutkan kening, mengurungkan niatnya yang hendak memarahi Masa karena terlambat saat melihat memar di lengan kiri Masa.

“kenapa tangan-mu ?”

“apa ?” kata Masa masih berusaha mengatur nafasnya “oh, ini, tadi aku terjatuh dari tempat tidur karena buru-buru. Tidak apa-apa, Cuma memar ringan, sebentar juga hilang”

“jatuh ?”

“ya, sudahlah, jangan kau pikirkan, ini gara-gara aku sendiri yang bangun kesiangan dan buru-buru sehingga kurang hati-hati”

“oh” guman Baba tersenyum kecil membayangkan Masa yang biasanya tenang menjadi panik saat menyadari kalau ia terlambat bangun.

“maaf” kata Masa lagi “kau lama menunggu ya ? aku benar-benar minta maaf”

Masa menangkupkan kedua tangannya ke depan dan menundukkan kepala.

“ah, sudahlah. Tidak apa-apa” jawab Baba tersenyum ramah “yang penting sekarang kau sudah datang kan”

“benarkah ?”

Masa mengangkat wajahnya memandang Baba tak percaya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Baba tidak akan segan-segan memarahi seseorang yang terlambat apapun alasannya. Masa tahu benar Baba bahkan tidak segan menggunakan kata-kata kasar pada orang yang membuatnya kesal.

“kau tidak marah padaku ?” tanya Masa lagi

“yah, kau sudah dapat hukumannya kan. Lain kali jangan terlambat lagi atau aku tidak akan segan-segan untuk memaki-mu habis-habisan” kata Baba sembari tersenyum

“aku janji” sahut Masa nyengir senang “aku sudah dapat balasan 2 kali lipat karena membuat-mu menunggu”

“2 kali lipat ?”

“ya, tadi pagi aku jatuh dari tempat tidur, ini hasilnya” kata Masa sembari menunjuk memar di lengannya “dan setelah itu aku terjembab kerena tersandung selimut-ku sendiri. Lututku sakit sekali tadi”

“kau baik-baik saja kan ?” kata Baba setengah geli setengah khawatir

“ya, tidak masalah, sekarang sih sudah tidak sakit. Oh ya, kau datang jam berapa tadi ? lama sekali menunggu-ku ya ?”

“tidak juga. Seharusnya kau memberitahuku kalau kau kesiangan, jadi aku bisa tahu kalau kau akan terlambat datang dan kau tidak perlu terlalu buru-buru sampai jatuh seperti ini”

“yah, aku tidak berpikir sampai sana. Saat bangun aku lihat sudah jam 7, padahal aku berjanji denganmu jam 7 tepat bertemu di sini, makanya aku tidak sempat berpikir macam-macam lagi. Yang ada di kepalaku saat itu, kau pasti sudah datang dan menungguku, jadi aku hanya memikirkan bagaimana caranya supaya aku bisa segera sampai ke sini. Tapi syukurlah kalau kau tidak terlalu lama menunggu-ku, kau sampai di sini jam berapa ?”

“karena aku takut terlambat, jadi aku berangkat lebih awal. Tadi kalau tidak salah aku sampai sini kira-kira jam 7 kurang 10”

“apa !? jam 7 kurang 10 ?!” seru Masa sembari segera melihat jam tangannya “berarti kau menunggu selama setengah jam ?!”

“begitulah”

“maaf” seru Masa sembari menyatukan tangan di depan wajah dan menundukkan kepalanya lagi. “aku benar-benar minta maaf”

“sudahlah” kata Baba “tadi kau kan sudah minta maaf berkali-kali. Tidak masalah, lupakan saja”

“tapi.....”

“Masa, aku sudah mengatakannya kan, yang penting sekarang kau sudah datang. Jangan di bahas lagi”

“tumben kau sabar Bachon”

“apa ?!”

“tidak. Ayo kita pergi”

Baba mengikuti Masa meninggalkan taman. Hari itu kebetulan mereka berdua sedang tidak ada pekerjaan, jadi mereka berdua berencana hendak jalan-jalan menikmati hari di musim panas dengan santai tanpa perlu memikirkan pekerjaan yang biasanya menumpuk. Lagipula sudah lumayan lama mereka berdua tidak bertemu dan pergi main bersama.

Selama sehari penuh Baba menikmati kegiatannya bersama Masa. Sudah lama mereka tidak keluar bersama seperti saat ini. Makan, jalan-jalan, main game, nonton film, bercanda, tertawa, berteriak, saling mencela, bertukar cerita, Baba benar-benar menikmati hari itu. Meski diawali dengan kekesalan karena harus menunggu Masa, tapi rasa kesal itu sekarang sudah berganti dengan keceriaan.

Tanpa terasa langit sudah berubah warna menjadi kemerahan, matahari hampir terbenam di ufuk barat. Tapi Baba masih belum ingin mengakhiri kegembiraannya bersama Masa hari ini. Entah bagaimana dengan Masa, tiba-tiba Baba mendapat ide untuk pergi ke laut. Selama ini mereka selalu disibukkan dengan jadwal kegiatan pekerjaan mereka siang dan malam, tidak banyak waktu yang bisa dinikmati untuk bersantai. Dulu saat masih sekolah, setiap musim panas, Baba pasti menyempatkan diri untuk pergi ke laut bersama dengan teman-temannya, tapi sejak lulus Baba hampir-hampir tidak pernah mengunjungi laut untuk bermain atau sekedar menikmati suasananya. Baba memang pernah ke laut, tapi itupun dalam rangka pekerjaan, jadi tidak sempat untuk mengagumi keindahannya.

Dan tampaknya, akan sangat menyenangkan kalau pergi ke laut bersama dengan Masa. Hanya saja, Baba ragu untuk mengajak Masa. Berkali-kali Baba mengurungkan niatnya untuk mengatakan pendapatnya. Laut di musim panas pasti akan sangat menyenangkan, tapi bagaimana cara mengajak Masa untuk pergi ? terlebih, hanya berdua. Itu akan menimbulkan kesalahpahaman. Baba hanya ingin menikmati saat-saat menyenangkan bersama Masa, karena Baba merasa Masa merupakan teman yang bisa cocok dengan sifatnya tanpa banyak komentar.

Meski usia mereka terpaut 3 tahun, tapi Baba tidak merasa Masa lebih senior. Tampaknya Masa juga tidak mengharapkan siapa yang lebih senior atau junior, Masa selalu fleksibel sehingga menyenangkan jika menghabiskan waktu bermain dengannya. Terhadap yang lainpun sama, saat diserahi tanggung jawab untuk kareografer dalam tenimyu oleh Ueshima-sensei, meski Masa melatih mereka menari, tapi Masa tidak lantas bersikap menggurui, karena itu, semua dengan senang hati berlatih dan tidak menganggap Masa ‘istimewa’. Tidak ada yang membicarakan mengenai hak khusus yang di dapat Masa. Mereka semua sadar bahwa Masa berhak mendapatkan itu karena ia memang mampu. Sikap Masa yang kadang suka bercanda membuat kedudukannya tidak berbeda dengan yang lain. Dan tampaknya memang itu yang diinginkan Masa.

Baba merasa senang bersama dengan Masa. Bersama Masa membuat pandangan Baba semakin bertambah luas. Masa bahkan mampu membuat suasana hati Baba berubah 180 derajat hanya dengan satu kata. Masa tahu bagaimana menghadapi sikap narsis Baba yang kadang muncul, menanggani –atau menghentikan- makian Baba yang hampir sebagian besar berisi kebun binatang, mengatasi sifat keras kepala Baba, dan yang lainnya. Sepertinya Masa bisa memahami Baba dengan sangat baik. Hanya dengan bersama Masa saja bisa membuat Baba merasa nyaman.

Ketika akhirnya Baba menguatkan hati dan hendak membuka mulut untuk menyampaikan niatnya pada Masa, konsentrasi Baba terpecah oleh suara riang Masa yang menyelinap ke dalam kesadarannya. Masa berbicara sembari menatap Baba dengan senyum lebar terukir di wajah.

“nee, Bachon” kata Masa santai “belum terlalu malam kan, masih ada waktu sampai matahari benar-benar tenggelam. Kita pergi ke laut yuk, lihat sunset. Sudah lama aku tidak pergi untuk sekedar main ke laut. Sunset di laut saat musim panas pasti indah sekali”

“boleh saja” jawab Baba sedikit terkejut mendapatkan pikiran mereka sama.

“bagus, kalau begitu ayo”

Baba mengangguk tersenyum dan mengikuti Masa. Karena inilah Baba sangat menyukai Masa, pikiran mereka kadang sejalan sehingga mereka bisa menjadi teman yang sehati dan saling memahami. Saat-saat bersama dengan Masa merupakan saat yang sangat menyenangkan bagi Baba. Berdua, mereka segera berlari ke halte bus, menunggu bus yang akan membawa mereka ke laut.

Begitu sampai di laut, Masa segera berlari meninggalkan bus, menuruni tangga dan berlarian di pantai berpasir dengan gembira seperti anak kecil. Masa membentangkan kedua tangannya ke samping, menghirup udara laut dalam-dalam sebelum berteriak mengekspresikan suasana hatinya. Baba tertawa sebelum akhirnya mengikuti jejak Masa.

“ah, laut di musim panas memang paling menyenangkan” seru Masa setelah puas berteriak-teriak

“benar. Sudah lama sekali rasanya tidak merasa bebas seperti ini”

“hahaha.....benar-benar” sahut Masa menyetujui “sini, Bachon. Kau belum mandi kan. Ayo main air denganku”

Masa segera menarik lengan Baba dan meyeretnya ke tengah laut.

“tunggu tunggu, nanti celana-ku basah, ku naikkan dulu....”

“sudahlah tidak usah, ayo cepat”

Masa mendorong Baba ke tengah tepat saat ombak datang, membuat seluruh tubuh Baba, tidak hanya sebatas lutut seperti Masa, dalam sekejap basah kuyup.

“hahahaha.......”

“sialan !”

seru Baba sembari mencipratkan air pada Masa yang menertawakannya, berusaha membuat Masa basah kuyup seperti dirinya.

“hahahaha.......”

Masa masih tertawa sambil menghindar agar tidak terkena cipratan yang dibuat Baba. Tapi tiba-tiba saja.....

BYUURR !!!!

“hahahahaha.........”

Kali ini Baba yang tertawa keras melihat Masa terjatuh dengan sukses ke laut, membuat keadaan tubuhnya tidak jauh beda dengan Baba.

“puah, asin” seru Masa yang tanpa sengaja meminum air laut sembari berdiri

“hahahaha......” Baba masih belum berhenti tertawa melihat tingkah Masa

“Bachon” seru Masa menghampiri Baba yang masih saja tertawa

“apa ?”

“rasakan ini”

Masa menepuk permukaan air laut dengan keras sehingga memercik ke wajah Baba dan segera tertawa melihat Baba terbatuk-batuk karena sebagian air masuk ke dalam mulutnya.

“sialan. Awas kau”

Baba balik melakukan hal yang sama pada Masa. Mereka saling membalas menyiramkan air satu sama lain sembari tertawa-tawa dengan gembira.

Perlahan matahari mulai tenggelam di garis caktawala. Langit berwarna merah cerah semakin lama semakin meredup. Bintang-bintang mulai bermunculan, suara angin berpadu dengan debur ombak menggema di seluruh penjuru disertai suara tawa mereka berdua yang masih asyik bermain seolah tak peduli dengan waktu yang terus berjalan.

*** Fin ***


Tidak ada komentar:

Harry Potter Magical Wand